Mengantarkan Anak Bermental Mandiri di Era Disrupsi
Diberitakan bahwa pengangguran terdidik mulai naik kembali. Tidak hanya di satu negara, tapi fenomena tersebut terjadi di sejumlah negara. Tidak hanya bergelar sarjana, bahkan mereka dengan gelar magister dan doktor tidak luput dari musibah sebagai pengangguran.
Teknologi yang semakin pesat ternyata justru jadi satu penyebab mulai meningkatnya kembali pengangguran terdidik. Sifatnya yang mempermudah hidup manusia telah menggeser manusia dari sejumlah pos kerja. Otomatisasi, digitalisasi, atau komputerisasi merupakan istilah-istilah keren yang berimbas pada penggunaan mesin di berbagai tempat pelayanan sebagai pengganti jasa manusia.
Tidak terkecuali tenaga terdidik, mereka tergeser pula oleh mesin yang lebih dikenal dengan nama AI. Apalagi derivasi AI semakin meningkat. Maknanya posisi kerja manusia yang tergeser juga semakin meningkat.
Uniknya kemudian, sebagaimana diberitakan, ada anjuran dari ahli agar anak-anak muda kembali belajar pertukangan atau aktivitas motorik kasar lainnya. Di Amerika anjuran ini mulai marak dilakukan. Bagaimanapun aktivitas motorik kasar belum banyak disentuh mesin-mesin kecerdasan buatan. Apalagi jumlah pekerja berbasis motorik kasar saat ini kebanyakan orang berusia tua. Regerasi membuka peluang anak-anak muda untuk jadi pekerja di sektor ini.
Lebih jauh, dari aspek pemikiran pendidikan, perlu kiranya disadari bahwa pendidikan motorik kasar masih sangat diperlukan oleh anak dan remaja. Bukan hanya berkaitan pekerjaan, pendidikan motorik kasar juga dilangsungkan dalam kaitannya dengan hal lain.
Di sisi kognisi misalkan, anak yang mendapatkan pendidikan motorik kasar lebih bisa diharapkan untuk punya kemampuan abstraksi lebih baik. Hal ini dikarenakan konstruksi di tahap konkritnya sudah kokoh. Berbagai informasi inderawi terkirimkan optimal ke otak, sebagai bahan dasar ke tahapan abstraksi.
Di sisi fisik, anak yang terlatih motorik kasarnya lebih berpeluang untuk lebih sehat dan gesit. Selain itu permasalahan harian teknis lebih mungkin diselesaikan mandiri. Sehingga masalah tidak berlarut-larut. Aktivitas lainnya lancar.
Di sisi moral, anak yang terlatih motorik kasarnya lebih memahami proses terwujudnya suatu benda. Sehingga harapan untuk apresiatif terhadap benda lebih mudah diintrodusir. Lebih jauh anak tipe ini dapat diantarkan menjadi ilmuwan yang siap melalui berbagai tahapan.
Sebenarnya banyak pihak memahami pentingnya pendidikan motorik kasar. Akan tetapi sudah cukup lama wacana pendidikan berorientasi digital ditubrukkan dengan pendidikan motorik kasar. Sehingga perlahan banyak pendidik dan orangtua yang mengabaikan pendidikan motorik kasar, agar alokasi untuk pendidikan digital lebih tersedia.
Padahal kedua pendidikan ini tidaklah bersifat berlawanan satu sama lain. Bahkan keduanya saling menguatkan. Sebagaimana telah disampaikan, motorik kasar yang terlatih memungkinkan tahap berpikir konkret anak terbangun. Berikutnya tahap berpikir abstrak lebih berpeluang sukses melambung.
Link terkait: https://www.fahma.net/2026/01/berpikir-korelasional-dan-utuh.html
Wabah yang kemudian melanda adalah loncatan langsung ke abstrak. Sehingga saat ini ketika anak-anak tumbuh menjadi sosok-sosok siap kerja di bidang digital, sementara AI sudah relatif matang, lowongan kerja di bidang teknologi malah menyempit. Di sisi lain mereka tidak siap untuk bekerja di bidang teknis berbasis keterampilan motorik kasar karena tidak disiapkan sebelumnya.
Dalam hal ini teringatlah ungkapan, "Sebaik-baik urusan adalah pertengahannya."
Berlandaskan ungkapan tersebut, kiranya sangat baik jika para pemangku kebijakan dan praktisi pendidikan untuk mengembangkan pola pendidikan secara seimbang. Karunia Allah ta'ala berupa fisik dan mental-ruhani manusia dikembangkan seluruhnya secara proporsional. Jangan sampai ada yang ditinggalkan. Disrupsi yang semakin menggila membutuhkan ketahanan manusia, dan itu dimulai dari optimalisasi seluruh potensinya.
Bersifat pertengahan ini juga penting pada aspek pemahaman agama. Hendaklah dalil-dalil agama dipahami secara imbang. Dalam hal ini takwil perlu dihindari sekuat mungkin. Misalkan pada sunnah belajar berkuda, hendaklah tidak dipahami bahwa berkuda sudah tidak zamannya maka bisa diganti dengan motor. Lebih bijak untuk keduanya dipelajari, karena keduanya memiliki detail yang berbeda.
Terakhir, sebagai penutup, semoga mentalitas mandiri senantiasa menjadi perhatian para pendidik dan orangtua. Sehingga anak-anak tidak terpaku pada satu jalan rezeki, tapi punya tekad kuat untuk mencari rezeki dari jalan manapun. Lebih baik mandiri dengan penampilan apa adanya ketimbang kece tapi masih menengadahkan tangan. Semoga anak-anak memegang prinsip ini dengan baik.
Wallah a'lam.

.jpeg)

Post a Comment