Merindu Surga


Malam tiba. Waktunya insan rehat, tidur di peraduannya hingga pagi. Akan tetapi sesosok insan terlihat berdiri di atas sajadah. Rehat sejenak di awal malam, kemudian hingga pagi ia shalat. Sesekali isak tangis terdengar.

Beliau Abu Hanifah rahimahullah, sang guru madzhab Hanafi. Madzhab Hanafi salah satu madzhab fikih yang masih eksis hingga kini. Konstruksi pemikiran fikihnya dipuji oleh Asy-Syafi'i rahimahullah, "Kita berhutang kepada fikih kepada fikih Abu Hanifah."

Abu Hanifah rahimahullah sendiri termasuk generasi tabi'in, sempat bertemu dan berinteraksi dengan para sahabat nabi. Selain kompeten pada bidang fikih, beliau juga pedagang ulung. Beliau termasuk ulama dengan kekayaan yang melimpah sehingga mampu menghidupi diri, keluarga, dan orang lain. Ulama dan penuntut ilmu, dua golongan prioritas yang mendapatkan bantuan penghidupan dari beliau.

Selain dermawan, beliau juga terkenal wara'. Dalam satu riwayat, beliau memilih berpanas-panas di bawah terik matahari saat menagih hutang, tidak di teras rumah orang yang berhutang. Menurut beliau, itu termasuk riba, karena menerima manfaat dari hutang. Padahal maklum diketahui, teras memang disiapkan untuk tamu yang sedang menunggu tuan rumah membuka pintu.

Sosok Abu Hanifah rahimahullah salah satu cerminan insan perindu surga. Dua sisi hidup sangat diperhatikan, kebaikan dan keburukan. Kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain dijalankan istiqomah, sementara keburukan dihindari walaupun mungkin sangat menyakitkan. Selain itu kemandirian keuangan dibangun kuat, tidak bergantung sedikit pun kepada orang lain.

Sosok beliau semoga menjadi cermin bagi tiap insan yang hidup setelahnya. Mungkin tidak bisa sama dengan beliau, tetapi paling tidak ada perhatian pada tiga sisi hidup sebagaimana telah disebutkan: Kebaikan, keburukan, dan kemandirian keuangan.

Di sisi kebaikan semoga seorang insan bermujahadah dalam menunaikan setiap perkara wajib, disusul perkara sunnah sesuai kemampuan. Di sisi keburukan semoga seorang insan memutuskan total aneka keburukan, bahkan pada perkara yang masih samar halal-haramnya. Adapun pada sisi kemandirian keuangan, perkara paling mendasar dibangun, yakni mentalitas hidup sesuai kemampuan keuangan. Tidak sampai terjadi besar pasak daripada tiang, apalagi hanya karena ikut-ikutan.

Ada sebagian orang yang masih mempertanyakan dirinya, apakah benar dirinya merindu surga? Karena mereka belum merasakan kenikmatan munajat sebagaimana orang-orang shaleh terdahulu, semisal menangis dalam tahajjud. Kata-kata yang terlisankan juga biasa saja, jauh dari keindahan sastra dan kedalaman makna. Di sisi lain mereka merasa jengah berdekatan dengan keburukan.

Jawabannya rindu surga telah mulai tumbuh dalam diri mereka, hanya mungkin belum disadari. Indikasinya mereka menjaga kesucian diri. Dengan istiqomah, semoga Allah ta'ala karuniakan kelezatan munajat tiada tara, persis ungkapan yang dinisbatkan kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah, "Jika para raja dan putra-putra raja itu mengetahui kebahagiaan serta kenikmatan yang kami rasakan dalam munajat, niscaya mereka akan menyabet kami dengan pedang untuk merebutnya." 

Wallah a'lam.

Powered by Blogger.
close