Berpikir Korelasional dan Utuh

"Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, 'Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka." (Terjemah Q.S. Al-Baqarah: 201) 


Dalam ayat yang mengandung tuntunan doa tersebut, terasa sekali kelembutan dan kepedulian Allah ta'ala kepada manusia. Dia mengarahkan manusia untuk hidup baik di dunia, juga baik di akhirat. Tidak cukup mengarahkan, Dia pun mendampingi dan menuntun manusia. Kebaikan-Nya utuh.

Oleh karena itu hendaklah manusia menyerap keutuhan tersebut. Sehingga pola pikir dan tindakannya juga utuh. Kebaikan yang utuh semoga berhasil didapatkannya, tidak parsial semisal hanya materi.

Jika tidak, manusia berkemungkinan sulit meraih kebaikan yang utuh. Hal-hal yang terlihat kontradiktif tidak berhasil dilihat korelasinya. Keutuhan gagal dibangun.

Padahal di kehidupan manusia, hal-hal kontradiktif terserak. Dunia-akhirat, fisik-ruhani, abdullah-khalifatullah, individual-sosial, rumah-lingkungan, dan lain sebagainya. Semuanya menguji manusia, apakah akan bermujahadah untuk terus belajar berpikir korelasional dan utuh.  

Sementara itu, berpikir korelasional dan utuh diawali dengan memahami karakteristik setiap hal. Pemahaman ini diusahakan mendalam. Agar tergambar berbagai sisinya. Lalu dapat dicari sisi-sisi yang berkorelasi positif, dihubungkan dan dibentuk dalam bangunan pemikiran yang relatif kuat ketimbang sebelumnya.

Dalam keseluruhan proses tersebut, bimbingan diperlukan. Bukan hanya di ruang-ruang kelas atau kajian, tapi bimbingan menyentuh hingga kehidupan praktis. Di rumah, lingkungan, tempat kerja, dimanapun bimbingan diberikan.

Dengan bimbingan tersebut, semoga setiap insan berhasil membangun keutuhan berpikir yang relevan. Setiap konteks kehidupan dihidupi dengan segenap kesadaran pikir. Lahirlah tindakan-tindakan yang membuat nyaman semua pihak.

Menindaklanjuti perihal tersebut, kiranya baik apabila orang-orang yang memimpin memiliki keterampilan membimbing pemikiran. Mereka tidak sekedar menceritakan dan menjalankan aturan. Semoga dengan mengelola keduanya, membimbing pemikiran dan menjalankan aturan, orang-orang yang dipimpin akan mudah membangun keutuhan serta kekuatan terdalam dirinya.


Memang tidak mudah bagi seorang pemimpin memiliki berbagai kemampuan. Akan tetapi di sinilah kepedulian sang pemimpin diuji. Jika ia peduli kepada orang yang dipimpin, apapun akan dilakukannya, termasuk belajar dan mengajar berkelanjutan. 

Sebagai motivasi, marilah mengingat kembali bagaimana Allah ta'ala mengenalkan dirinya dalam wahyu pertama, tepatnya Al-Qur'an surat Al-'Alaq ayat 3-5, "Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah. Dia yang mengajari (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa-apa yang tidak dia ketahui." 

Allah ta'ala mengenalkan dirinya sebagai pengajar, pembimbing. Di situ ada kemurahan dan kemuliaan hakiki. Demikian pula para pemimpin perlu mengajar dan membimbing juga, tidak sekedar memberi perintah dan larangan, jika kemuliaan hakiki ingin diraih. 

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close