Mengajar dengan Hati: Ikhtiar Guru Menjaga Semangat dan Mengusir Kebosanan
Oleh
Akhmad Yunus, M.Pd.I.
Pendahuluan
Mengajar adalah amanah besar
sekaligus ibadah yang mulia. Di balik senyum dan keteguhan seorang ustadz
(guru), tersimpan rasa lelah yang kadang menjelma menjadi kebosanan. Rutinitas
yang berulang, murid yang pasif, hingga penat fisik dan mental bisa membuat
semangat meredup.
Klik untuk Informasi Pendaftaran SDIT Al-Madinah Kebumen
Sebagaimana disebutkan dalam
penelitian di Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme,
kebosanan dalam pembelajaran sering muncul karena kurangnya variasi metode dan
keterlibatan murid. Maka, penting bagi ustadh (guru)untuk senantiasa mencari
ikhtiar agar semangat tetap menyala, sehingga ilmu yang disampaikan mengalir
dengan penuh keberkahan.
Ikhtiar
Mengatasi Kebosanan
1.
Menguatkan Iman dan Menata Niat
Seorang ustadh(guru) perlu
senantiasa kembali ke sumber kekuatan: iman,tauhid.
Mengingat bahwa setiap kata yang diajarkan adalah bagian dari dakwah dan
ibadah, maka mengajar bukan sekadar rutinitas, melainkan jalan menuju ridha
Allah.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Apabila seorang manusia meninggal
dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah,
ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no.
1631).
Hadis ini mengingatkan bahwa ilmu
yang bermanfaat adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meski ustadh(guru)
telah tiada. Dengan kesadaran ini, rasa jenuh bisa berubah menjadi semangat,
karena setiap pelajaran adalah investasi amal abadi.
Contoh aplikatif: Ustadz (guru) bisa memulai kelas dengan dzikir singkat atau
doa bersama, agar hati kembali tenang dan niat mengajar dengan ikhlas tetap
terjaga.
2.
Mengingat Tujuan Mulia Mengajar
Mengajar bukan sekadar profesi,
tetapi jalan untuk mencetak generasi beriman yang membangun peradaban Islam.
Kesadaran bahwa ilmu yang diajarkan akan terus mengalir pahalanya, bahkan
setelah ustadz (guru) wafat, dapat menjadi motivasi yang luar biasa.
Contoh aplikatif: Saat merasa jenuh, ustadh (guru) bisa menuliskan di papan
tulis: “Ilmu ini akan menjadi amal jariyah kita.” Sebuah pengingat
sederhana yang bisa membangkitkan semangat, baik bagi ustadh (guru) maupun
murid.
3.
Mengatur Ritme dan Memberi Jeda
Kelelahan fisik sering menjadi
pemicu kebosanan. Oleh karena itu, ustadz (guru) perlu mengatur ritme mengajar.
Tidak harus terus-menerus berbicara, sesekali beri jeda dengan aktivitas
ringan.
Contoh aplikatif: Setelah 20 menit ceramah, ustadh (guru) bisa meminta murid
untuk berdiri, melakukan peregangan ringan, atau membaca doa bersama. Aktivitas
sederhana ini bisa menyegarkan suasana kelas dan menumbuhkan kembali semangat
belajar.
4.
Menggunakan Media Kreatif
Media pembelajaran yang variatif
dapat membuat materi lebih segar dan bermakna. Slide, video pendek, atau gambar
ilustrasi bisa membantu murid memahami dengan lebih baik.
Penelitian di al-Afkar Journal
for Islamic Studies menegaskan bahwa penggunaan media kreatif dapat
mengurangi kebosanan dalam belajar.
Contoh aplikatif: Saat menjelaskan kisah Nabi Yusuf, ustadz (guru) bisa
menampilkan potongan video atau ilustrasi perjalanan beliau. Murid akan lebih
mudah menangkap pesan moral yang disampaikan.
5.
Variasi Metode Mengajar
Ceramah memang penting, tetapi jika
dilakukan terus-menerus bisa membuat suasana monoton. Variasi metode seperti
diskusi kelompok, tanya jawab, atau simulasi akan membuat kelas lebih hidup.
Contoh aplikatif: Dalam pelajaran akhlak, ustadz (guru) bisa membagi murid
menjadi kelompok kecil untuk mendiskusikan “Bagaimana cara meneladani sifat
amanah Rasulullah.” Setelah itu, setiap kelompok mempresentasikan hasilnya.
6.
Menambahkan Cerita Inspiratif
Cerita nyata atau hikmah dari ulama
dan sahabat bisa menjadi penyegar suasana. Murid akan lebih terhubung secara
emosional dengan materi.
Contoh aplikatif: Saat membahas tentang sabar, ustadh bisa menceritakan kisah
Imam Ahmad bin Hanbal yang tetap teguh dalam menghadapi ujian. Cerita ini bukan
hanya menghidupkan kelas, tetapi juga menanamkan nilai keteladanan.
Penutup
Kebosanan adalah hal manusiawi,
tetapi dengan ikhtiar yang tepat, ustadz (guru) bisa tetap bersemangat dalam
mengajar. Menguatkan iman, mengingat tujuan mulia, mengatur ritme, menggunakan
media kreatif, serta variasi metode akan menjadikan proses belajar lebih hidup
dan penuh keberkahan.
Mengajar bukan sekadar profesi,
melainkan jalan menuju pahala jariyah yang terus mengalir. Semoga setiap ustadh
(guru) senantiasa diberi kekuatan untuk menunaikan amanah ini dengan hati yang
ikhlas, semangat yang menyala, dan cinta yang tulus kepada murid-muridnya.
Referensi
- Irma, I., Rahman, P., Anto, A., Takdir, T., &
Salam, R. (2024). Akidah Akhlak Teachers’ Strategies to Mitigate
Students’ Learning Boredom. Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan
Multikulturalisme.
- Ali, M., Syah, M., & Arifin, S. (2024). Overcoming
Forgetting and Boredom in Learning. al-Afkar Journal for Islamic
Studies.
Penulis: Akhmad Yunus, M.Pd.I. Direktur Yayasan Al Iman Kebumen Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen


Post a Comment