Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Sebagian karāmah tidak hadir sebagai keajaiban yang melanggar hukum alam, melainkan sebagai hasil kesetiaan panjang pada ilmu dan kesabaran
DI MAJELIS Khalifah Harun ar-Rasyid, hidangan istana dihidangkan dalam mangkuk batu fayrūz. Minyak samin terbaik berkilau di permukaannya. Para pembesar negara mengelilingi jamuan, berbincang ringan sambil menanti isyarat makan.
Seorang lelaki tua duduk tenang di antara mereka. Pakaiannya sederhana, wajahnya bersih tanpa kesan dibuat-buat. Namanya Ya‘qub bin Ibrahim, yang kelak dikenal dengan panggilan Abu Yusuf.
Ketika jamuan dimulai, Abu Yusuf justru tersenyum kecil. Tawa lirih lolos dari bibirnya. Ia menunduk, seolah sedang menyaksikan sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.
Khalifah Harun ar-Rasyid menangkap isyarat itu.
“Apa yang membuatmu tersenyum, wahai Abu Yusuf?” tanyanya.
Abu Yusuf mengangkat kepala. “Wahai أمير المؤمنين,” katanya pelan, “aku teringat sebuah perkataan guruku puluhan tahun silam. Saat itu aku hampir meninggalkan majelis ilmu karena kemiskinan. Beliau berkata kepada ibuku: biarkan anak ini bersama kami. Suatu hari ia akan makan bersama para penguasa.”
Abu Yusuf memandang mangkuk di hadapannya.
“Hari ini aku menyaksikan kalimat itu terwujud.”
Kisah ini disebutkan oleh Ibn ‘Abd al-Barr dalam al-Intiqā’ fī Faḍā’il al-A’immah al-Thalāthah dan dinukil pula oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam Tārīkh Baghdād ketika membahas biografi Abu Yusuf.
Seorang Anak Miskin di Kufah
Abu Yusuf lahir dalam kondisi serba kekurangan. Ayahnya wafat saat ia masih kecil. Dalam Ṭabaqāt al-Fuqahā’, Ibn Sa‘d menyinggung bagaimana kemiskinan menjadi penghalang utama pendidikan bagi banyak anak Kufah pada masa itu.
Ibunya menginginkan ia bekerja. Abu Yusuf justru memilih duduk di halaqah Abu Hanifah. Pilihan ini bukan tanpa harga: lapar, pakaian seadanya, dan masa depan yang belum jelas.
Abu Hanifah melihat ketekunan itu. Ia tidak menjanjikan keajaiban, tidak pula menyebut karāmah. Ia hanya berkata sebagaimana dinukil oleh al-Muwaffaq al-Makki dalam Manāqib Abī Ḥanīfah: bahwa ilmu akan mengangkat derajat orang yang bersabar bersamanya.
Kalimat Guru yang Menjadi Kenyataan
Ucapan Abu Hanifah kepada ibu Abu Yusuf sering dipahami secara keliru sebagai ramalan gaib. Padahal, jika diletakkan dalam konteks metodologi ulama, itu adalah pembacaan tajam atas sunnatullah: siapa yang tekun dalam ilmu, akan dibutuhkan oleh masyarakat dan penguasa.
Imam al-Dzahabi dalam Siyar A‘lām al-Nubalā’ menegaskan bahwa Abu Yusuf adalah contoh murid yang tumbuh karena konsistensi, bukan karena keistimewaan supranatural.
Dua puluh tahun berlalu. Abu Yusuf tidak “tiba-tiba” sampai ke istana. Ia menulis, mengajar, berfatwa, dan membangun reputasi ilmiah.
Dari Halaqah ke Qāḍī al-Quḍāt
Pada masa Abbasiyah, Abu Yusuf diangkat sebagai Qāḍī al-Quḍāt, ketua hakim agung pertama dalam sejarah Islam. Peran ini disebutkan secara rinci oleh al-Māwardi dalam al-Aḥkām al-Sulṭāniyyah ketika membahas institusi peradilan.
Ia menulis Kitāb al-Kharāj atas permintaan Khalifah Harun ar-Rasyid, membahas keadilan fiskal, hak rakyat, dan kewajiban penguasa. Kitab ini hingga kini menjadi rujukan politik hukum Islam.
Tidak ada mukjizat instan. Tidak ada cerita menembus ruang dan waktu. Yang ada adalah ilmu yang terus bekerja.
Karāmah atau Janji Allah?
Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. al-Mujādilah: 11)
Apa yang dialami Abu Yusuf berada dalam koridor ayat ini. Karena itu, sebagian ulama enggan menyebutnya karāmah dalam arti teknis, dan lebih memilih menyebutnya sebagai taḥqīq al-wa‘d, terwujudnya janji Allah.
Imam Ibn Taymiyyah dalam al-Furqān bayna Awliyā’ al-Raḥmān wa Awliyā’ al-Shayṭān menjelaskan bahwa karāmah sejati tidak pernah bertentangan dengan syariat dan tidak memutus rantai sebab-akibat.
Karāmah yang Tidak Riuh
Imam al-Junayd berkata:
لو رأيت الرجل يطير في الهواء فلا تغتر به حتى تنظر كيف وقوفه عند الأمر والنهي
Jika engkau melihat seseorang terbang di udara, jangan tertipu olehnya sebelum engkau melihat bagaimana sikapnya terhadap perintah dan larangan.
Ucapan ini dicatat oleh al-Qushayri dalam al-Risālah al-Qushayriyyah.
Dengan kacamata ini, kisah Abu Yusuf justru menampilkan bentuk karāmah yang paling sunyi: keteguhan, kesabaran, dan ilmu yang perlahan mengubah nasib.* dirangkum dari ceramah Dr Maza.
Sumber www.hidayatullah.com


Post a Comment