Organisasi dan Ikhtiar Membangun Kapasitas Pemikiran Kadernya
Salah satu tantangan yang Allah ta'ala berikan kepada insan di dunia adalah berpikir korelasional terhadap hal-hal yang terlihat kontradiktif. Dengan berpikir korelasional, seorang insan diharapkan mampu menghubungkan kesemua hal tersebut dalam hubungan yang tepat. Sehingga keutuhan dapat tergambar dalam pikiran. Tindakan yang dihasilkan akhirnya relevan dan efektif. Semua pihak sekitarnya merasakan kenyamanan.
Demikian pula insan sebagai seorang kader organisasi. Ia diuji untuk membangun hubungan yang tepat atas berbagai hal di organisasinya. Sehingga ia bisa memperoleh keutuhan dalam pikirannya. Alhasil tindakan yang dilakukannya selaras dengan arahan organisasi, memenuhi target organisasi, dan berdampak nyata pada orang-orang yang menjadi sasarannya.
Adapun hal-hal yang ada di organisasi antara lain organisasi itu sendiri, pimpinan, dan pengikut. Sebagian organisasi memiliki amal usaha, bahkan badan usaha. Beda antara keduanya terletak pada orientasi profit. Amal usaha tidak mengarah pada profit, sementara badan usaha pada profit.
Seorang kader perlu menghubungkan semua hal tersebut. Aktivitas berpikir ini sulit bagi sebagian orang. Oleh karena itu, organisasi yang baik biasanya memberikan ruang-ruang latihan berpikir. Agar kader terlatih berpikir korelasional.
Organisasi juga menyediakan para pelatih. Istilahnya bisa pelatih, instruktur, mentor, ataupun murabbi. Mereka disiapkan dengan baik agar efektif dalam melatih para kader.
Organisasi tidak lupa menyediakan kurikulum dan materi pelatihan. Biasanya ada pernjenjangan. Setahap demi setahap para kader menyerap materi dari organisasi. Sedikit demi sedikit mereka membangun korelasi dalam pikirannya.
Dengan keseluruhan ikhtiar tersebut, organisasi boleh berharap tumbuh kader-kader dengan kapasitas tinggi. Tidak sekedar mengelola, para kader bahkan bisa mengembangkan organisasi. Para kader juga terus mengantisipasi berbagai perkembangan eksternal yang kemudian menempatkan organisasi di titik persimpangan.
Dalam hal ini para kader tidak akan lepas untuk memperhatikan dua pokok organisasi secara simultan: Kultural dan formal.
Secara kultural para kader melakukan konsolidasi. Agar historitas dan nilai-nilai dasar organisasi tetap dijadikan pedoman. Kebiasaan organisasi, bahkan ritualnya, direvitalisasi. Semoga ruh organisasi terus menguat bahkan meningkat.
Di sisi lain urusan formal disesuaikan dengan perkembangan-perkembangan yang ada, baik internal ataupun eksternal. Penyesuaian ini penting agar organisasi terus relevan bahkan meningkatkan kontribusinya kepada masyarakat. Tanpa penyesuaian, organisasi berkemungkinan macet. Tidak akan ada perkembangan.
Di aspek formal ini banyak tantangan terbentang. Penolakan sangat mungkin terjadi, bahkan berasal dari para senior organisasi. Kesabaran kolektif semoga menjadi solusi awal. Solusi berikutnya adalah penetapan fase sosialisasi sebelum formalisasi. Agar saat formalisasi, semua pihak di organisasi dapat menerima dengan lapang dada.
Satu catatan yang sangat penting bagi semua pihak yang terlibat di organisasi adalah individualisasi. Benar kader merupakan aset organisasi, dan benar pula kader perlu taat organisasi. Di sisi lain kader memiliki sisi diri yang individual, unik. Bakat dan minatnya masing-masing.
Dalam hal ini organisasi mungkin bisa mewadahi individualisasi kader, mungkin juga tidak. Apapun situasinya, sangat baik jika organisasi memperhatikan individualisasi kader. Wujudnya dengan memberikan keluasan kader untuk memilih banyak hal terkait dengan pengembagan kapasitasnya, termasuk seberapa dalam ia ingin beraktivitas di organisasi.
Semoga kader merasakan apresiasi. Dengan demikian rasa cinta kader kepada organisasi menguat. Kader pun semakin siap terlibat di organisasi, lewat pemikiran bahkan semua sumber dayanya.
Dari titik ini, akselerasi organisasi sangat mungkin terjadi. Organisasi tidak lagi berjalan, tapi berlari. Larinya tidak asal, tapi tetap memberikan rasa nyaman kepada siapapun, di internal ataupun eksternal organisasi.
Apabila organisasi pernah melupakan individualisasi lalu mengabaikannya, atau bahkan belum pernah, baiknya kini dimulai. Sebagaimana telah disampaikan, sejumlah fase diperlukan untuk mengimplementasikan satu formalisasi. Fase-fase tersebut akan relatif mudah jika individualisasi diperhatikan.
Wallah a'lam.



Post a Comment