Lebih Menawan dengan Kemandirian
"Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain," sabda Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, "sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.”
Klik di Sini Informasi Pendaftaran SDIT Al-Madinah Kebumen
Wajah tanpa daging dapat dibayangkan seperti tengkorak dibalut kulit, sangat tidak menarik jika tidak dikatakan sangat menakutkan. Orang-orang akan menjauh. Bukan itu saja, orang-orang akan mengingatnya dengan penuh trauma serta saling mengingatkan untuk menjauh pemilik tipe wajah seperti itu.
Gambaran di akhirat berkorelasi dengan kehidupan di dunia. Orang yang suka minta-minta di kehidupan dunia akan diingat orang lain dengan ingatan traumatik. Ada rasa takut untuk berdekatan. Potensi dikucilkan terbuka lebar.
Mungkin secara fisik, orang yang suka minta-minta sangat menawan. Akan tetapi kebaikan fisik itu jatuh dengan kelakuan suka minta-minta. Tidak ada lagi kehormatan, berganti dengan kehinaan. Orang-orang akan mencatatnya dengan label 'layak dijauhi'.
Oleh karena itu, sangat dianjurkan kepada setiap insan membangun kemandirian. Seburuk apapun situasi yang menimpa, hendaklah tangan tak diulurkan untuk meminta. Diam memiliki kemuliaannya tersendiri di situasi ini. Di sisi lain ada usaha untuk menyelesaikan persoalan.
Persoalan yang dimaksud di sini memiliki keluasan situasi, bukan hanya ekonomi tapi juga lainnya. Misalkan di situasi rumah, seorang ayah dianjurkan bisa menyelesaikan masalah paku-memaku, tidak perlu meminta bantuan tetangga. Begitu pula di situasi kantor, tak perlu orang berpolitik agar bisa pekerjaannya bisa diselesaikan oleh pihak lain.
Kemandirian mengantarkan seseorang siap mengenali tugas pokok dan fungsinya. Berikutnya ia akan berikhtiar menjalankan tugas pokok dan fungsinya tersebut dengan sebaik-baiknya. Mindset, soft-skill, dan hard-skill dibangun agar tugas pokok dan fungsinya dapat dijalankan.
Dari sini dapat dipahami bahwa kemandirian merupakan titik awal dari pengembangan diri. Ada kesadaran untuk senantiasa belajar agar tugas pokok dan fungsi bisa dijalankan dengan baik, diwujudkan dengan terus mengembangkan diri. Hasilnya ada kebaruan-kebaruan pada dirinya, sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.
Tentu saja masa kecil seseorang berpengaruh terhadap pembentukan kemandirian. Mungkin kondisi ekonomi jadi variabel penentu, anggapannya semakin sulit ekonomi seseorang maka kemungkinan kemandiriannya lebih baik. Anggapan ini bisa benar, tapi belum lengkap. Hal ini dikarenakan ada satu variabel lagi yang fundamental, yakni sistem dan narasi orangtua dan pendidik.
Orangtua dan pendidik berpeluang membangun kemandirian dengan membangun lingkungan pendidikan terlebih dahulu. Di lingkungan pendidikan ini anak didorong untuk menyelesaikan masalah serta kebutuhannya sendiri. Selain itu ada bekal keterampilan yang cukup. Tidak lupa anak mendapatkan apresiasi atas ikhtiarnya sekecil apapun. Di kesempatan yang lebih tenang dan fokus, anak mendapatkan gambaran tentang pentingnya kemandirian di masa depan.
Anak juga mendapatkan gambaran tentang ketidakadilan dunia yang kapanpun bisa menimpa orang dewasa, dalam konteks makro ataupun mikro kehidupan. Dalam konteks makro, politik dan ekonomi kadang memperkecil peluang orang-orang untuk membangun kesejahteraan. Sedangkan dalam konteks mikro, kezhaliman dari insan kepada insan lainnya sangat mungkin terjadi. Akibatnya aset dan kekayaan di tangan dapat dirampas dengan semena-mena. Kondisi bisa sangat sulit dan kemandirian mencari solusi semakin diuji.
Semakin lengkap apabila anak juga mendapat penjelasan bagaimana menyelesaikan tersebut jika terjadi, antara lain lewat komunikasi dan koordinasi. Wujudnya negosiasi. Kepada pihak pemilik otoritas, negosiasi dilakukan untuk tawar-menawar regulasi. Sementara kepada pihak yang setara, negosiasi dijalankan untuk membangun koalisi.
Kerangka berpikir ini semoga mengantarkan anak untuk gemar berorganisasi sejak dini. Ia siap berlatih kapan pun dan dimanapun. Rumah dan sekolah, dua tempat utamanya. Tinggal orangtua dan pendidik merancang pembelajaran organisasi yang berkeadilan serta suportif.
Jauh lebih baik jika orangtua dan pendidik memberi inspirasi aktivitas berorganisasi yang menarik. Mereka ikut bergabung dengan organisasi di masyarakat, di lingkungan atau lainnya. Anak bisa melihat langsung aktivitas berorganisasi yang solutif nan menyenangkan.
Dengan berbagai ikhtiar ini semoga Allah ta'ala mudahkan anak menggapai kemandirian. Ia menawan lahir batin. Ia juga disukai di dunia dan akhirat.
Wallah a'lam.
Fuad Fakhruddin, M.Pd.I., Seorang Pendidik dan Sekolah Hidayatullah Kebumen, Pengurus DPP Hidayatullah
Fuad Fakhruddin, M.Pd.I., Seorang Pendidik dan Sekolah Hidayatullah Kebumen, Pengurus DPP Hidayatullah


Post a Comment