Ruang Aman Emosi di Rumah
Rumah sering digambarkan sebagai bangunan dengan fungsi utama sebagai tempat tinggal. Biasanya ada ruang-ruang di dalamnya, dipisah dengan sekat yang sifatnya permanen. Meskipun ada juga rumah yang menggunakan penyekat tidak permanen, sehingga mudah saja jika kemudian perubahan ruang dilakukan. Ruang-ruang itu memiliki fungsinya masing-masing.
Tidak salah jika rumah lebih banyak digambarkan sebagai bangunan fisik. Hal ini dikarenakan rumah dari awal memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan fisik. Di sejarah awalnya rumah didirikan untuk melindungi manusia dari berbagai bahaya. Di perkembangan berikutnya fungsi rumah semakin beragam.
Di era kini ada satu fungsi rumah yang sangat diharapkan, yakni menyediakan ruang aman emosi. Tiap anggota keluarga bisa mengekspresikan emosinya tanpa takut dicemooh atau disepelekan. Ekspresinya dihargai, didengarkan, bahkan ditindaklanjuti.
Komunikasi antaranggota keluarga lancar. Satu sama lain bisa menyampaikan perasaan, pikiran, dan keinginannya dengan nyaman. Anggota keluarga juga dibolehkan untuk menyimpan semua itu jika belum nyaman bercerita.
Figur orangtua penting di sini. Ayah, ibu, atau keduanya senantiasa berusaha membaca anggota keluarga. Wajah atau bahasa tubuh lainnya ditelaah dengan seksama. Jika memungkinkan, pertanyaan disampaikan. Jika belum memungkinkan, waktu menenangkan diri diberikan. Semoga setelah beberapa saat, komunikasi bisa dibangun.
Bukan berarti kegagalan komunikasi tidak pernah terjadi di rumah ini. Sesekali kemarahan terjadi, bahkan saling marah. Akan tetapi sesudahnya pihak masing-masing berusaha menenangkan dan mengevaluasi diri. Berikutnya komunikasi berusaha dijalin lagi pelan-pelan.
Rumah yang menyediakan ruang aman emosi diikhtiarkan sebagai dukungan kepada tiap anggota keluarga agar tumbuh sebagai insan cerdas emosi. Hal ini terasa penting karena begitu banyak beban yang dilalui anggota keluarga saat di luar rumah. Sementara emosi menjadi salah satu motivasi gerak yang refleks.
Dengan memberikan ruang aman emosi, semoga tiap anggota keluarga berhasil memulihkan emosinya untuk kemudian merasakan ketenangan. Bila ini terus terjadi, diharapkan tumbuhlah sosok-sosok kaya jiwa. Sekeras apapun tantangan ke depan, insya Allah, akan mudah dihadapi dan diselesaikan.
Sebagaimana telah disebutkan, komunikasi antaranggota relatif lancar. Sementara dasar penting komunikasi adalah adanya saling percaya antaranggota keluarga. Bahwa apa yang disampaikan oleh seorang anggota keluarga akan didengarkan dan direspon secara proporsional oleh anggota keluarga lainnya.
Keyakinan merupakan dasar penting lahirnya respon. Soliditas keyakinan pada satu keluarga berpotensi melahirkan respon yang proporsional dalam satu keluarga. Oleh karena itu orangtua diharapkan mengupayakan soliditas keyakinan ini.
Tindakan penting dalam membangun soliditas keyakinan adalah kuatnya keyakinan pada diri orangtua. Berikutnya orangtua memperagakan keyakinan itu dalam perilaku sehari-hari. Barulah orangtua mengomunikasikan serta melatihkan keyakinan itu kepada anggota keluarga.
Waktu yang dibutuhkan untuk membangun ruang aman emosi di rumah mungkin tidak sebentar. Orangtua dan anggota keluarga perlu sama-sama belajar untuk menumbuhkan banyak hal dalam diri. Dengan saling sayang serta dukung, semoga semua proses belajar diakhiri dalam kebahagiaan.
.jpeg)

Post a Comment