Tidak Sedih dan Tidak Playing Victim, tapi Tanggung Jawab pada Kehidupan Sendiri


Hidup tidak selalunya indah
Langit tak selalu cerah
Suram malam tak berbintang
Itulah lukisan alam
Begitu aturan Tuhan
(Lukisan Alam by Hijjaz)

Lirik nasyid tersebut menuntun pendengarnya untuk lebih memahami kehidupan. Bahwa tidak selamanya hidup itu senang. Kadangkala ada susahnya.

Bahkan Dr. Khulud binti Muhammad Al-Ja'fary dalam bukunya, Al-Huznu Fil Qur'an, mengingatkan bahwa dunia ini penuh ujian. Oleh karena itu seorang insan perlu bersiap untuk senantiasa sabar. Mengharapkan kesenangan boleh, tapi tetaplah ruang kesabaran perlu dibuka selebar-lebarnya.

Dengan demikian hidup tidak disikapi secara salah, tapi secara benar selaras aturan Allah ta'ala. Sehingga maslahat dan manfaat diharapkan dapat terwujud, bukan hanya untuk sendiri tapi orang banyak. Bukan hanya di dunia kebaikannya namun terus hingga akhirat.

Memang tidak mudah untuk bersikap sabar. Cobaan demi cobaan terus berdatangan. Selain itu, pikiran racun terus menyebar. Sebagiannya lewat interaksi sosial langsung, sebagiannya lewat media sosial.

Misalkan playing victim, perilaku seseorang yang selalu memosisikan dirinya sebagai korban dalam suatu masalah atau konflik padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Karena merasa korban, ia tidak terbebani untuk melakukan apapun bahkan perbuatan buruk. Tak peduli apakah perbuatannya merugikan orang lain.

Playing victim juga mendorong pelakunya untuk melanggar aturan Allah ta'ala. Ia tidak peduli halal-haram. Bahkan sangat mungkin ia menggugat ketetapan Allah ta'ala. Egosentris begitu menguasai dirinya.

Kebiasaan playing victim tumbuh seiring ketidakpedulian lingkungan sosial tentang tanggung jawab, baik sifatnya personal maupun sosial. Saat ada masalah, tindakan perbaikan sebagai konsekuensi tidak dikuatkan. Alih-alih demikian, kadang terjadi saling lempar tanggung jawab.

Lebih buruk lagi kebiasaan bersiasat, sengaja atau tidak sengaja, begitu subur. Satu sama lain saling menjatuhkan. Lingkungan sosial terlihat nyaman namun ada persoalan pelik di sebaliknya yang bisa berubah jadi konflik besar kapan saja, seibarat bara dalam sekam.

Satu strategi dasar yang ditawarkan untuk mengatasi playing victim adalah menegakkan aturan disertai konsistensi terhadap konsekuensi. Bahwa saat aturan dilanggar, pelaku harus mengerjakan perbaikan sebagai konsekuensi. Agar kerusakan akibat pelanggaran aturan tidak meluas, bahkan langsung padam saat itu juga.

Bagaimana dengan hukuman atau sanksi? Apabila tidak berkaitan dengan hukum, hendaklah hukuman atau sanksi tidak dikedepankan. Karena harapan yang paling prioritas adalah minimnya dampak pelanggaran aturan. Sementara hukuman atau sanksi berorientasi pada menimbulkan rasa jera, bukan pada perbaikan.

Di sisi lain, selain penguatan aturan dan konsekuensi, ikhtiar menguatkan sikap amanah pada setiap individu mesti terus dilaksanakan. Ini dorongan dari dalam diri. Sehingga aturan sebagai dorongan dari luar diri mendapatkan keseimbangan, yakni dari dalam diri.

Lebih dalam, marilah menelaah bagaimanan sikap amanah disusun. Dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 72,  Allah ta'ala menyampaikan bahwa dua hal harus dihindarkan dalam membangun amanah. Keduanya adalah zhalim dan jahul.

Zhalim lawan 'adil, sedangkan jahul lawan 'alim. Dapat dipahami 'adil dan 'alim merupakan dua pilar pokok amanah. Tanpa keduanya hilang sudah amanah.

'Adil memiliki banyak definisi. Akan tetapi, secara ringkas, 'adil dapat dimaknai dengan menempatkan seseorang atau sesuatu pada posisinya. Sementara 'alim, secara ringkas, dapat dimaknai dengan memahami seseorang atau sesuatu sesuai ciri/tabiatnya. Tidak ada penambahan atau pengurangan ciri/tabiat.

Penanaman amanah tentu tidak cukup dengan ceramah. Akan tetapi dibutuhkan aktivitas yang beragam. Di sini ada dua arus yang butuh bertemu, pemimpinnya proaktif dan orang yang dipimpin siap terlibat. 

Wallah a'lam.

Powered by Blogger.
close