Berpikir dalam Panduan Islam agar Maslahat
Ilmu ekonomi konvensional menginspirasikan beberapa pemikiran. Salah satunya "kebutuhan manusia tidak terbatas sementara sumber daya terbatas". Akibatnya dapat ditebak, yakni perebutan sumber daya antarinsan. Bahkan sebagian perebutan diwarnai dengan konflik berat.
Sementara itu ditawarkan satu cara
pandang baru, yakni "kebutuhan manusia terbatas sementara rezeki untuk manusia
tidak terbatas". Maknanya manusia membatasi kebutuhannya, tidak membebaskan
keinginannya sebebas-bebasnya. Di sisi lain manusia terus menguatkan baik
sangka (husnuzhan)-nya kepada Allah ta’ala. Bahwa Dia tidak akan membiarkan
manusia dalam kekurangan.
Dengan pola pikir sedemikian itu,
semoga manusia beraktivitas secara proporsional. Manusia tidak menerabas batas
halal-haram saat mengumpullkan sumber daya. Manusia juga bersih dari keinginan untuk
menimbun sumber daya. Sebaliknya tumbuh keinginan kuat untuk berbagi antarinsan.
Dapat ditebak akibatnya. Konflik
antarinsan berkurang karena tidak ada saling intimidasi atau eksploitasi dalam
mengumpulkan sumber daya. Lebih jauh, sumber daya tidak berkumpul pada satu pemililk.
Akan tetapi sumber daya terbagi kepada orang lain. Kesenjangan orang kaya dengan
miskin tidak terlalu lebar.
Kedua konsepsi berpikir sebagaimana
telah diuraikan lahir dari dua filosofi berbeda. Konsepsi pertama lahir dari materialisme.
Sedangkan konsepsi kedua lahir dari ajaran Islam.
Dikarenakan lahir dari dua kutub
pemikiran berbeda, kedua konsepsi berakhir pada dua akibat berbeda. Sesuatu
yang lahir dari materialisme hanya akan berujung pada kesenjangan dan konflik sosial.
Sedangkan sesuatu yang dipanen dari Islam, maka ujugnnya adalah kedekatan dan kekuatan
sosial.
Menyikapi perbedaan dampak antara
Islam dengan non-Islam, kiranya penting bagi seorang muslim untuk yakin pada Islam.
Berikutnya seorang muslim diharapkan menggali dasar-dasar pemikiran darinya. Kemudian
di atas dasar-dasar pemikiran tersebut, dibangun mindset pengelolaan
kehidupan, baik seputar individu ataupun masyarakat.
Tiga tantangan ditemukan di sini.
Pertama, keyakinan, yakni seberapa yakin seorang muslim dengan Islam. Kedua, kemampuan
menggali, yakni seberapa seorang muslim mampu menggali nilai-nilai dan prinsip-prinsip
Islam. Ketiga, kemampan menafsirkan, yakni tantangan kepada muslim untuk meraih
kesimpulan di tengah-tengah informasi yang nampak bertentangan.
Hati dan akal betul-betul ditantang.
Apabila hati sehat dan akal jernih, insya Allah, keyakinan menguat serta
pengetahuan dapat dieksplorasi. Dampaknya seorang manusia memiliki dorongan
kuat untuk belajar sekaligus memperbaiki diri.
Di sini ditemukan urgensi pendidikan
berbasis tauhid. Pendidikan menyasar hati dan akal sekaligus. Hati dibersihkan
dan disehatkan. Sementara itu akal dipertajam.
Tidak dibedakan, mana urusan hati,
dan mana pula urusan akal. Akan tetapi keduanya diintegrasikan. Sehingga keduanya
saling menguatkan.
Terkadang kompromi antarpengetahuan
tidaklah mudah. Dalam hal ini tawaqquf lebih dikedepankan. Sembari dilakukan
penelitian yang lebih dalam. Semoga kompromi dapat dilakukan sekaligus relevan.
Berbagai problema kehidupan manusia dapat direspon dengan efektif.
Wallah a’lam.


Post a Comment