Lapis-lapis Idealitas dalam Mempersiapkan Pernikahan
Pria itu ditemukan meninggal dengan luka tusukan. Setelah ditelusuri, ternyata tubuhnya mendapat 14 kali tusukan. Ironisnya sang pelaku adalah istrinya sendiri.
Berbagai sumber berita menyatakan bahwa sang istri kerapkali melakukan kekerasan pada korban. Ini sudah terjadi sejak awal pernikahan. Sebenarnya korban sedang mengurus perceraian karena adanya KDRT. Akan tetapi ia keburu dibunuh oleh sang istri.
Informasinya sang istri menginginkan uang belanja yang cukup besar. Menjelang penusukan itu terjadi, sang istri menuntut uang belanja sebesar sembilan juta per bulan. Korban mungkin kesulitan memenuhi tuntutan sang istri, sehingga sang istri kesal. Terjadilah peristiwa mengenaskan tersebut.
Sungguh kejadian ini menorehkan perih sekaligus menambah catatan kelam pernikahan. Di sisi lain terasakan kembali pentingnya kematangan mental-spiritual sebagai bekal pernikahan. Agar segala sesuatu yang datang menghampiri tidak lantas menjadi badai prahara rumah tangga.
Bagaimanapun godaan yang menyerang rumah tangga tidak bisa dikatakan ringan. Setan dan sekutunya, baik dari kalangan jin dan manusia, akan terus menyerang rumah tangga hingga bubar. Jika tidak bubar, maka rumah tangga digoncang sedemikian hebat hingga tumbuhlah rasa sakit hati yang berlanjut pada trauma.
Marilah membuka dan mentadabburi Al-Qur'an, tepatnya surat An-Nur ayat 32, "Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kalian serta orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba-hamba sahaya kalian yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui."
Ayat ini memberikan perintah umum kepada kaum muslimin untuk menyiapkan pernikahan anak-anak muda mereka. Bekalnya adalah keyakinan bahwa Allah Maha Kaya. Berbagai kekurangan di satu waktu tidak menutup kemungkinan perbaikan di masa depan.
Cukup sampai di sini? Tentu tidak. Karena keyakinan butuh disertai ikhtiar. Dalam hal ini semua pihak butuh membangun ikhtiar.
Pemerintah, misalkan, menyiapkan lapangan pekerjaan. Selain itu pemerintah juga menyediakan berbagai regulasi yang memudahkan proses pernikahan. Satu lagi, pemerintah diharapkan memberlakukan regulasi-regulasi yang menguatkan pernikahan, baik sifatnya langsung ataupun tidak langsung.
Sementara itu orangtua dan pendidik membekali dengan etos serta keterampilan kerja. Para ulama menempatkan diri sebagai tempat konsultasi dan inspirasi seputar ihwal pernikahan. Sedangkan lingkungan tempat tinggal bergerak sebagai sistem pendukung.
Apabila idealitas tersebut belum memungkinkan, maka orangtua diharapkan antisipatif. Dalam hal ini orangtua menyiapkan anak-anak untuk punya kendali diri yang kuat. Sehingga mereka menjadi pribadi yang tidak menyakiti diri mereka dan juga orang lain. Bahkan mereka berpotensi menjadi sosok yang siap memberi lebih.
Kendali diri yang kuat dibangun oleh kesadaran iman dan kematangan emosional secara terpadu. Dengan kesadaran iman, anak-anak meyakini kehadiran Allah ta'ala kapanpun dan dimanapun. Sehingga tumbuh usaha untuk menghindari dosa bahkan beramal shaleh.
Dengan kematangan emosional, anak-anak mengelola konflik secara komunikatif dan solutif, baik sifatnya intrapersonal ataupun interpersonal. Sehingga bising di kepala relatif lebih mudah diredakan. Sedangkan perbedaan pendapat relatif lebih mudah digapai komprominya.
Pendampingan kuratif juga penting disiapkan oleh orangtua. Sekecil apapun masalah yang timbul hendaklah langsung ditangani secara efektif. Toleransi terhadap kesalahan berpotensi mengikis kepekaan seputar konsekuensi. Akhirnya anak tumbuh menjadi sosok yang kurang bertanggung jawab.
Sebagai awal jawaban, marilah mengingat bahwa setiap insan bertanggung jawab atas dirinya, di dunia dan akhirat. Idealitas yang tidak didapatkan dari berbagai pihak, itu membenarkannya berbuat bebas tanpa batas. Ia tetap wajib bertindak dalam aturan Ilahiyah.
Harus diakui terkadang jatuh seorang insan dalam kesalahan dan dosa. Dalam hal ini hendaklah ia tidak putus untuk berjalan di atas garis kebaikan. Taubat ditempuh. Hijrah dilakukan. Resolusi perbaikan diri dijalankan. Insya Allah akan ada keridhaan-Nya.
Wallah a'lam.




Post a Comment