Bersiap Nikah untuk Meraih Berkah
Dzulhijjah di Indonesia dikenal sebagai bulan pernikahan. Banyak pernikahan digelar seputaran bulan ini. Bukan sekedar di satu pulau tertentu, tapi merata di seantero Nusantara.
Mungkin Dzulhijjah dianggap bulan baik, penuh berkah. Idul Adha, haji, dan bulan haram, ketiganya hanya dimiliki Dzulhijjah. Sementara ketiganya begitu mulia. Maka wajar jika seorang muslim meyakini banyak karunia Allah ta'ala di Dzulhijjah.
Dengan menikah di Dzulhijjah, semoga pasangan akan mendapatkan karunia yang banyak dari Allah ta'ala. Keluarga menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah. Bahagianya tidak hanya di dunia, tapi terus hingga akhirat.
Di suasana bahagia ini kemudian menyeruak satu harapan, yakni kesiapan pasangan untuk menempuh bahtera pernikahan. Karena pernikahan penuh dengan ujian. Kesiapan diperlukan, lahir dan batin.
Dalam menyiapkan diri, kedua mempelai butuh melibatkan orangtua dan para pemegang otoritas. Minimal ada dua pemegang otoritas, yakni ulama sebagai pemegang otoritas keagamaan dan pemerintah sebagai pengatur kebijakan.
Melibatkan orangtua berarti kedua mempelai meminta doa restu dan nasehat. Melibatkan ulama berarti mencari ilmu agama terkait pernikahan. Melibatkan pemerintah berarti mempelajari aturan pernikahan yang berlaku di NKRI.
Kedua mempelai tidak boleh sekedar mengandalkan pengalaman. Begitu juga info tidak jelas, janganlah kedua mempelai menelan mentah-mentah. Keduanya perlu memeriksa kebenaran berbagai info dan pengetahuan yang beredar di masyarakat.
Lebih jauh, suami itu pihak yang paling berkewajiban belajar ilmu agama. Karena tugas menjaga keluarga dari api neraka berada di pundaknya. Maka tidak boleh seorang lelaki malas belajar berbagai pengetahuan seputar pernikahan.
Drama Jelang Nikah
Begitu banyak liku-liku yang kadang dilalui seseorang untuk sampai di pelaminan. Istilahnya drama jelang nikah. Tidak jarang energi batin terkuras banyak.
Sehubungan dengan itu, lingkungan yang mendukung dibutuhkan. Orangtua dan keluarga memberikan pendampingan. Selain itu mereka juga memberikan telinga dan hati untuk dijadikan ruang curhat.
Teman-teman juga memberikan bantuan. Salah satunya dengan memberikan pandangan-pandangan yang benar. Bercanda di situasi berat jelang pernikahan lebih baik dikurangi.
Sementara itu, dalam diri setiap orang yang akan menikah, hendaklah dibangun sikap terbuka dan sekaligus tanggung jawab. Berbagai masukan didengarkan, lalu ditimbang sesuai kemampuan pribadi untuk kemudian diambil keputusan. Selanjutnya tanggung jawab atas keputusan yang diambil siap dipikul.
Drama jelang nikah bagi sebagian orang menjadi ujian berat. Dukungan dari berbagai pihak benar-benar dibutuhkan. Semoga dukungan tersebut menguatkan tanggung jawab yang sudah dimiliki oleh calon pengantin.
Wallah a'lam.


Post a Comment