Darimana Mengawali Cari Pasangan?
Mencari pasangan dimulai dengan satu pertanyaan serius: Apakah cinta saya egois atau tulus?
Cinta yang egois akan mengantarkan seseorang untuk mengendalikan pasangannya. Anehnya itu dilakukan atas nama cinta. Anehnya lagi, kadang pengendalian pasangan bukan pada hal-hal yang penting, tapi remeh-temeh.
Misalkan seseorang suka warna tertentu. Secara tidak sadar, ia akan meminta pasangannya memakai warna itu di momen spesial. Bila tidak dituruti, ia bisa sangat marah.
Sementara cinta yang tulus akan mengantarkan seseorang pada penerimaan tentang pasangannya. Mungkin ia suka warna tertentu, tapi sadar orang lain mungkin suka warna lainnya. Tidak ada paksaan dalam cinta yang tulus. Yang ada adalah dialog, mengapa dan bagaimana, untuk kemudian membangun kesepakatan-kesepakatan.
Cinta yang tulus menghargai keberagaman. Bentuk fisik dan wajah, pemikiran, dan aneka pilihan yang bermacam-macam disadari sebagai satu realitas kehidupan. Sunnatullahnya sudah begitu.
Sehingga proses pendekatan sebelum berumah tangga dilakukan dengan melihat dan bincang. Suasananya dibuat senyaman mungkin. Apabila hasilnya terasa cocok, proses pendekatan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Sebaliknya jika tidak, proses pendekatan disudahi secara beradab.
Nah, seorang pencari pasangan perlu memperjelas jawaban atas pertanyaan seputar cintanya, egois atau tulus. Ini penting. Karena cinta yang egois akan melahirkan banyak masalah di kemudian hari. Padahal pernikahan bukan hanya menyatukan lelaki dan perempuan, tapi juga keluarganya. Maka sebelum masalah datang, antisipasi perlu dilakukan.
Lalu bagaimana menilai seseorang punya ketulusan? Salah satunya dengan mengamati dirinya saat memiliki kuasa. Misalkan saat memiliki uang, jika ia foya-foya tidak jelas dan sekaligus pelit, kemungkinan sulit ditemukan ketulusan di hatinya. Sebaliknya ia berinfak sewajarnya, menabung, dan berbagi dengan sesama temannya, maka sangat mungkin ada tulus di dasar hatinya.
Apalagi jika seseorang pernah berkuasa di saat bujang atau gadisnya. Dapat diamati perilakunya saat itu. Apabila ia lebih banyak membimbing orang yang dipimpinnya, kemungkinan bibit peduli dan tulus sudah tertanam di dirinya. Semoga seiring waktu bibit tersebut terus tumbuh serta berkembang.
Saat Baligh Mendahului Akil
Baligh itu lebih bersifat biologis, sedangkan akil psikologis. Idealnya kedua hal matang bersama. Agar seseorang lebih mudah untuk menumbuhkan berbagai sikap serta perilaku positif dari dirinya.
Problemnya idealitas tersebut tidak selamanya terwujud. Baligh sering mendahului akil. Akhirnya dorongan biologis kadang menjelma jadi perilaku atau aktivitas menyimpang.
Dalam hal ini kiranya setiap orang dewasa menyadari situasi dirinya, seberapa imbang perkembangan akil dan baligh. Apabila baligh lebih dominan, maka perlu kiranya terapi segera dilakukan. Sifatnya holistik.
Kognitif, afektif, dan psikomotorik dikondisikan untuk mengurangi dorongan biologis yang mungkin sangat kuat. Terapi kognitif dilakukan melalui penambahan ilmu pengetahuan dan terapi afektif melalui penguatan munajat. Sedangkan psikomotorik melalui aktivitas fisik.
Dengan keseluruhan terapi tersebut, semoga akil dapat mengimbangi. Berikutnya tanggung jawab, kepedulian, serta ketulusan muncul dengan cepat. Kesiapan memilih pasangan lebih mantap.
Hidup memang bukan sekedar tentang pernikahan. Masih banyak sisi yang butuh diperhatikan. Di sisi lain pernikahan menawarkan banyak kebaikan yang spesial. Maka tidaklah salah setiap orang mengantarkan dan diantarkan untuk siap menikah. Memilih pasangan itu titik awalnya.
Wallah a'lam.




Post a Comment