Hubungan Sosial sebagai Modal Kebaikan
Seorang kaya sempat menyampaikan rasa jengkel kepada tetangganya yang seorang teknisi listrik. Ia merasa sang tetangga sering lambat datang ketika dimintai bantuan. Padahal ia memberikan upah yang layak kepada sang tetangga.
Akan
tetapi, berbeda jika permintaan bantuan datang dari seorang ibu di ujung jalan
area tempat tinggal mereka. Sang tetangga langsung datang dan mengerjakan
apapun yang perlu dikerjakan. Pekerjaannya juga tuntas.
Anehnya
sang ibu tidak menyediakan upah yang layak untuk sang tetangga ini, sekadarnya
saja. Karena sang ibu bukan termasuk orang berada. Bahkan hidupnya sangat
sederhana.
Setelah
diusut, ternyata sang ibu sangat gemar berbagi, terutama makanan. Ia tidak
memasak untuk diri dan keluarganya saja. Sering sekali ia berbagi kepada
tetangga terdekat. Ya, betul, salah satunya kepada sang tetangga yang teknisi
listrik.
Di sini
tergambar sebuah hubungan sosial yang baik. Sang ibu menjalinnya dengan para
tetangga. Sehingga saat permintaan bantuan datang dari sang ibu, bantuan datang
dari rumah-rumah tetangga.
Sebaliknya
sang orang kaya kurang baik dalam membangun hubungan sosial. Ia menyapa
tetangga saat punya kepentingan atau keperluan. Apabila tidak butuh, ia sedikit lupa dengan para tetangga.
Cerita
tersebut nyata. Akan tetapi tidak ada maksud generalisasi di sini. Bukan
berarti semua orang kaya cuek dengan tetangga, sebagaimana bukan berarti orang
sederhana selalu peduli tetangga. Ini hanya satu keping kenyataan di
masyarakat. Kepingan lainnya tentu lebih beragam.
Sesuatu
yang coba digarisbawahi dari cerita tersebut adalah pentingnya jalinan hubungan
sosial dalam kehidupan nyata. Bahwa suatu aksi kebaikan dapat terjadi, faktor
pendorongnya mungkin bersifat formal atau material. Akan tetapi faktor
pendorong lain yang tidak kalah penting adalah baiknya hubungan sosial.
Perihal ini
berlaku di mana saja. Di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, atau
organisasi, hubungan sosial yang baik memiliki peranan penting. Sangat dianjurkan kepada
setiap insan untuk memperhatikannya.
Sebagaimana
pada praktik yang dilakukan sang ibu, hubungan sosial dapat dijalin lewat
pemberian-pemberian kecil terus-menerus. Selain itu, perhatian dan kata-kata
tulus jadi alternatif lain yang tidak kalah penting. Ada satu alternatif lain,
ringan tapi efektif, yakni ucapan terima kasih setiap kali selesai dibantu.
Akan jauh
lebih mantap jika pemberian, perhatian, dan ucapan dilandasi ikhlas lillahi ta’ala.
Motivasinya bukan sekedar ingin dibantu saat ada kebutuhan. Karena
kadang-kadang kebaikan dibalas dengan keburukan. Apabila semuanya lillahi ta’ala,
kecewa dimungkinkan tidak pernah muncul terlepas respon orang lain seperti apa. Harapannya satu
saja, Allah ta’ala menolong. Manusia sekedar perantara.
Wallah a’lam.


Post a Comment