Tidak Sekedar Cinta dan Sayang, Pendidikan Anak juga Butuh Arah
Sering terdengar istilah 'pendidikan kolonial' versus 'pendidikan milenial'. Istilah pertama mengarah pada pola pendidikan era tahun 70-an hingga akhir tahun 90-an, dicirikan dengan kuatnya dominasi orangtua kepada anak. Orangtua biasa menyuruh, melarang, dan juga memarahi anak saat anak berbuat salah.
Sementara istilah kedua mengarah pada pola pendidikan pasca tahun 2000-an. Cirinya pendidikan didominasi anak, dalam artian anak dijaga agar tidak merasakan luka emosi. Instruksi dan larangan digeser oleh dialog orangtua-anak. Sementara kemarahan orangtua kepada anak jauh dikurangi. Bahkan sebagian pola parenting melarang keras terhadap kemarahan orangtua.
Terkesan pendidikan milenial lebih aman dan nyaman bagi anak. Karena kekerasan verbal dan fisik relatif berkurang. Di sisi lain anak lebih banyak diajak dialog, sesuatu yang diharapkan bisa meningkatkan kapasitas kognitifnya.
Kesan tersebut tidak salah. Kajian psikologi dan parenting mutakhir memberikan dukungan yang lebih kuat pada keamanan serta kenyamanan anak. Sebagian kajian keagamaan juga memberikan rekomendasi yang sama.
Meskipun demikian ada satu lagi rekomendasi dari kajian keagamaan: Perhatikan arah pendidikan anak.
Sebagaimana dipahami, pendidikan anak memiliki dua pilihan arah, yakni sukses dunia saja dan sukses dunia-akhirat. Sukses dunia kerapkali menghalalkan banyak cara. Sementara sukses dunia-akhirat beda, sangat memperhatikan halal serta haram.
Pendidikan model kedua tentu tidak mudah. Begitu banyak dialog dan kompromi yang perlu ditempuh orangtua. Strategi lain yang kontroversial kadang harus dilakukan, seperti orangtua memaksakan keputusannya.
Akan tetapi orangtua yang sabar dan sadar berusaha tetap kuat dengan keputusannya. Karena orangtua yakin, inilah jalan paling relevan bagi anak untuk sukses dunia-akhirat. Bukan orangtua tidak cinta dan sayang kepada anak. Justru begitu kuat kedua rasa itu mendorong orangtua.
Biasanya kemudian orangtua menyeimbangkan. Wujudnya bisa hadiah, atau memenuhi keinginan anak yang masih wajar. Alternatif lain, dan ini sangat dahsyat, adalah airmata orangtua di atas sajadah.
Ya, orangtua berdoa begitu khusyu', merintih sejadi-jadinya agar Allah ta'ala iba lalu memberikan banyak karunia kepada sang anak. Di setiap perjalanan hidup, sang anak tidak kekurangan apapun. Sang anak juga tetap aman.
Orangtua juga merintih agar Allah ta'ala memberikan kekuatan kepadanya untuk mampu membesarkan anak dengan baik. Orangtua terus sehat, cukup ilmu dan uang. Keluarga rukun dan saling dukung dalam kebaikan.
Demikianlah dapat dipahami bahwa cinta dan sayang bukanlah akhir, bahkan awal untuk orangtua memilih arah pendidikan.
Wallah a'lam.


Post a Comment