Memilih Lelah, Pasrah, dan Marah; Mengapa Tidak?


Bila hari ini terasa penat, mungkin penat esok hari lebih parah lagi. Sekilas terkesan ini candaan. Akan tetapi sesekali pola pikir seperti ini penting dihadirkan. Semoga hati terasa lapang bahkan penuh syukur atas semua kejadian hari ini.

Dengan berpikir seperti ini juga, semoga tumbuh kesiapan untuk apapun yang terjadi esok hari. Kalau baik kejadian-kejadiannya, maka jalani semuanya dengan syukur. Kalau tidak baik, maka sabar dihadirkan. Kalo ada baik dan tidak baik, maka kepasrahan kepada Allah ta'ala lebih prioritas untuk mewarnai hari.

Semoga kemudian energi mental terus menyala. Lelah hari ini segera diobati. Berikutnya badan direbahkan disertai dzikir dan istighfar, sembari menggambar apa yang sekiranya bisa direncanakan besok pagi hingga malam lagi.

Ya, harus diakui dengan jujur, ada narasi tentang kelelahan dalam hidup. Sebagian orangtua tidak menceritakannya kepada anak-anak mereka. Akhirnya saat dewasa, anak-anak tersebut kaget, bahkan kesulitan bergumul dengan rasa lelah.

Oleh karena itu siapapun yang kini dewasa, mari terbuka dengan rasa lelah. Berikutnya ucapkan terima kasih kepada diri sendiri atas upayanya yang luar biasa. Maafkan juga kesalahannya.

Orang-orang yang telah menimpakan kezhaliman kepada diri sendiri, pilihlah opsi terbaik untuk mereka: Memaafkan, menunda pembahasan karena masih marah, atau menyerahkannya kepada Allah ta'ala karena sangat marah.

Tidak ada pertimbangan khusus dalam memilih satu dari tiga opsi tersebut. Di sisi lain, jika hari ini satu opsi dipilih, bukan berarti opsi lain tidak boleh dipilih. Biarkan akal dan hati berdialog dengan dinamis. Semoga di satu titik, opsi yang dipilih sudah mantap. Tidak ada lagi perubahan berarti.

Memang ada semacam tuntutan sosial untuk seseorang memaafkan kezhaliman orang lain, bahkan segera jika dianggap perlu. Memaafkan dianggap perbuatan mulia, sementara tidak memaafkan itu buruk. Padahal setiap orang punya otonomi untuk memilih, memaafkan atau tidak, mempertimbangkan hasil dialog akal dengan hati. 

Pemaksaan yang terus dituruti akan mematikan potensi akal dan hati untuk berdialog. Akhirnya diri menjadi kosong. Badan berjalan dan beraktivitas tapi situasinya terasa datar. Tak terlihat lagi pandangan yang memancarkan sinar harapan. Hampa.

Satu disclaimer kiranya mesti disampaikan. Bahwa dialog akal dengan hati bukan bebas nilai. Harapannya tetap ada iman yang menyertai dialog keduanya. 

Sekali lagi, mari memiliki kesiapan untuk lelah. Caranya melalui dialog akal dengan hati yang aktif. Di dalam diri selalu ada percakapan yang mencerahkan. Sedangkan di dalam doa selalu ada permintaan terbaik diiringi kesiapan untuk apapun yang terjadi esok hari.

Wallah a'lam.

Powered by Blogger.
close