Membangun Kemampuan Berpikir Solutif-Kreatif melalui Konvergensi Kognitif


Salah satu sosok yang sering disorot akhir-akhir ini, di tengah berkecamuknya perang antara Iran dengan Amerika dan Negara Zionis Israel, adalah Letkol Ibrahim Zol'faghari. Bertugas sebagai juru bicara militer Iran, ia dinilai publik berhasil menampilkan komunikasi yang efektif. Pesan disampaikannya jelas dan menimbulkan dampak psikologis pada rivalnya.

Publik kemudian mengulik sosok Zol'faghari, terutama latar belakang pendidikannya. Ditemukan data bahwa ia penghafal Al-Qur'an, sarjana matematika, magister dan doktoral filsafat barat. Data tersebut belum termasuk pendidikan dan pelatihan militer yang telah ditempuhnya. 

Sosok Zol'faghari merupakan contoh individu dengan konvergensi kognitif. Secara ringkas, konvergensi kognitif diartikan sebagai proses membangun pikiran solutif-kreatif dengan menggabungkan sejumlah pengetahuan. Sehingga realitas bisa dibaca dan direspon dengan respon yang berdampak. Tentu proses pembangunan pikiran jenis ini butuh waktu tidak sebentar. Latihannya pun bertahap, dari tingkat rendah ke sulit, sederhana ke kompleks.

Konvergensi kognitif bisa bersifat individual dan alamiah. Akan tetapi hasilnya relatif berbeda bila dengan dibandingkan dengan perencanaan sistemik. Apalagi jika sistem didukung oleh komunitas masyarakat, bahkan negara.

Mengamati saat ini di konteks Indonesia, keberadaan sekolah Islam terpadu semoga menjadi satu ikhtiar konvergensi kognitif. Al-Qur'an diajarkan untuk dipahami dan dihayati. Sedangkan ilmu-ilmu lain diintegrasikan.

Oleh karena itu satu harapan penting kepada para pengelola serta guru sekolah Islam terpadu adalah keseriusan dalam integrasi keilmuan. Al-Qur'an dan hadits tidak sekedar lips service. Di sisi lain narasi ilmu pengetahuan tidak dilepaskan dari kekuasaan Allah ta'ala.

Dengan demikian sedikit demi sedikit konvergensi kognitif dapat terbangun dan terus menguat. Hasilnya keseksamaan yang tinggi. Pikiran solutif-kreatif akan terus lahir.

Dalam hal ini asesmen pendidikan yang hanya bersifat jangka pendek harus dihindari. Agar pendidikan tidak terjebak pada pencapaian numerik artifisial. Akan tetapi pengukuran perlu disusun dalam dua jangka waktu, pendek dan panjang.


Asesmen longitudinal menjadi urgen untuk dipelajari lalu dijalankan oleh pengelola sekolah Islam terpadu. Selain itu kerjasama jangka panjang dengan walimurid perlu terus dibina. Semoga data valid dan reliabel untuk asesmen longitudinal dapat diperoleh oleh pengelola sekolah dari walimurid.


Akademisi Shaleh Didikan Halaqah

Jauh sebelum sekolah Islam terpadu tumbuh subur, ditemukan catatan sejarah tentang gelombang keshalehan akademisi di kampus-kampus perguruan tinggi. Mereka dibina di halaqah-halaqah. Keilmuan dari kelas kemudian disenyawakan dengan ilmu agama dari halaqah. 

Hasilnya nama akademisi shaleh berderet. Mereka menjadi kelompok masyarakat yang menggerakkan perubahan masyarakat menuju kehidupan Islami. Salah satu buahnya adalah sekolah Islam terpadu.

Sehubungan dengan hal tersebut, semoga dua ikhtiar terus dijalankan, melalui jalur sekolah formal serta halaqah. Keduanya berpotensi saling mengisi dan menguatkan. Tidak hanya umat yang membutuhkan, tapi juga seluruh insan di seantero alam.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close