Tidak Sekedar Dihadirkan, Pemakmur Masjid itu Disiapkan
"Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka mereka diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (Terjemah Q.S. At-Taubah: 18)
Para mufassir menjelaskan ayat tersebut sebagai ciri-ciri pemakmur masjid. Tidak sekedar datang, mereka senang dan berkontribusi di masjid sesuai kemampuan. Menjadi takmir atau jamaah biasa, mereka senantiasa memakmurkan masjid.
Tercatat lima ciri-ciri pemakmur masjid. Pertama, beriman kepada Allah ta'ala. Kedua, beriman pada Hari Akhir. Ketiga, mendirikan shalat. Keempat, membayar zakat. Kelima, tidak takut kepada siapapun kecuali Allah ta'ala.
Beriman kepada Allah ta'ala berarti tiada syirik, tiada pula nifaq. Adanya hanya ikhlas kepada-Nya. Sehingga seseorang dengan iman kepada-Nya akan senantiasa bersemangat dalam mengelola masjid.
Beriman pada Hari Akhir berarti mengharapkan pahala saja atas aktivitas apapun, khususnya kemakmuran masjid. Keuntungan duniawi yang mungkin menghampiri dijadikan sebagai penguat pengharapan atas pahala. Jika keuntungan duniawi itu berupa uang, maka diinfakkan kembali, atau digunakan untuk menuntut ilmu pengelolaan masjid. Jika berupa popularitas, maka digunakan untuk mengampanyekan masjid.
Mendirikan shalat berarti melaksanakan shalat sesuai ketentuan Allah ta'ala. Dalam konteks sebagai pemakmur masjid, seseorang akan memperhatikan ketepatan waktu, tata cara, ketertiban jamaah, dan fasilitas pendukung shalat. Bahkan ia melakukan edukasi dan apresiasi seputar shalat. Teknisnya bermacam-macam. Tujuannya agar orang-orang mencintai shalat.
Membayar zakat berarti seseorang menunaikan kewajiban hartanya. Jika sudah nishab, ia menunaikan zakat. Jika belum, ia berinfak. Selain itu ia mengajak orang lain berzakat dan infak. Selanjutnya pemberdayaan zakat dan infak dilaksanakan. Sasaran utamanya tiga, yakni masjid, kegiatan masjid, dan orang-orang sekitar masjid. Agar terjadi sinergi kebaikan.
Tidak takut kepada siapapun kecuali Allah ta'ala bermakna membersihkan masjid dari segala hal yang berpotensi merusak masyarakat, meskipun harus berhadapan dengan pembela kebatilan. Pemakmur masjid menjadi benteng kemaslahatan. Oleh karena itu sinergi dengan banyak dilakukan sebagai antisipasi. Apabila terlanjur terjadi masalah, maka pemakmur masjid akan menuntaskan setuntas-tuntasnya.
Demikian profil singkat dari seorang pemakmur masjid. Tergambar kompleksnya. Oleh karena itu pendidikan atau kaderisasi pemakmur masjid diperlukan. Agar secara bertahap seseorang bisa mencapai kualifikasi sebagai pemakmur masjid yang distandarkan oleh Al-Qur'an.
Sebaliknya, jika pemakmur masjid tidak disiapkan, maka dimungkinkan muncul semacam rasa hampa dalam memakmurkan masjid. Tidak ada gairah. Adanya hanya ikut-ikutan.
Dalam satu dua kasus, rasa yang mendominasi adalah keterpaksaan atau sungkan. Karena seorang tokoh mengajak ke masjid, diikutilah sang tokoh. Bukan (atau belum) karena sadar pentingnya masjid, tapi sungkan. Apalagi jika faktor ekonomi terselip di situ.
Penyiapan pemakmur masjid bisa dirancang dengan sasaran berbagai usia. Agar rantai kaderisasinya berjalan. Selain itu, menyiapkan pemakmur masjid merupakan kerja panjang. Salah satunya tarbiyah ruhiyah, sedangkan tarbiyah ruhiyah memiliki begitu banyak perangkat yang mesti diaplikasikan.
Dengan keseluruhan penjelasan ini, semoga aktivitas kemakmuran masjid dipandang sebagai sesuatu yang serius. Sehingga masjid berfungsi sesuai standar yang telah ditetapkan Islam. Dampaknya benar-benar terasa bagi kehidupan manusia. Karena masjid tidak sekedar bangunan, tapi entitas pendorong pertumbuhan kapasitas manusia.
Wallah a'lam.



Post a Comment