Membangun Masjid sebagai Entitas Pendorong Pertumbuhan Kapasitas Manusia
Masjid saat ini begitu beragam. Dari aspek tampilannya, misalkan, banyak unsur budaya masuk. Budaya Arab bukan lagi satu-satunya corak arsitektur yang dominan.
Dari aspek luasannya, masjid memiliki aneka ukuran. Sebagiannya relatif sempit, sebagiannya sangat luas. Sementara sebagiannya terhitung megah.
Dari aspek layanan dan kegiatannya, ditemukan disparitas yang kompleks. Ada masjid yang melayani shalat jamaah dan Jum'at saja. Namun ada juga masjid yang layanannya luar biasa, kuantitas dan kualitasnya. Tidak hanya layanan ibadah dan keilmuan, layanan sosial juga jadi prioritas utama.
Lahirlah pertanyaan, apa yang membuat disparitas ini terjadi?
Sebagai awalan, marilah membahas dasar dari kebaikan masjid. Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 108 menyampaikan, "Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama itu lebih patut kalian shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih."
Ayat ini menyampaikan banyak hal. Salah satunya kebaikan masjid diawali dengan takwa. Sedangkan implementasi takwa yang paling terlihat adalah aktivitas thaharah, penyucian.
Mayoritas mufassir menjelaskan, penyucian yang dimaksud bersifat badaniyah. Meskipun demikian sebagian mufassir memperlebar maknanya, tidak hanya bersifat badaniyah tapi juga ruhiyah. Maksudnya, di masjid tersebut, aktivitas penguatan ruhiyah dan badaniyah seorang muslim benar-benar dijalankan.
Dengan demikian masjid memiliki fungsi utama untuk mensejahterakan batin dan lahir umat Islam. Apabila fungsi utama tersebut diimplementasikan, masjid telah berada pada kebaikan. Seberapa jauh capaian ikhtiar para takmir dalam implementasinya, tidak masalah.
Di sinilah problem yang dihadapi para takmir. Fungsi utama belum dipahami dengan baik, apalagi implementasinya. Apalagi tentang SDI, masih terhitung sedikit takmir yang menganggapnya sebagai bahasan penting.
Oleh karena itu kiranya pembangunan fisik masjid perlu diiringi dengan pembangunan pemikiran serta kualitas SDI. Dana wakaf dan operasional tidak boleh berhenti sampai fisik saja, tapi lebih jauh hingga ke aspek pengelolaan. Sehingga masjid memiliki 'otak' atau 'processor' yang terus tumbuh, bukan hanya unit bangunan. Karena masjid bukan sekedar tempat tapi entitas yang mendorong pertumbuhan kapasitas manusia.
Wallah a'lam.


Post a Comment