Terus Berkembang Seiring Zaman dengan Adaptasi Mental Berbasis Fleksibiltas Kognitif
Internet dengan segala platformnya melahirkan kesetaraan. Siapapun bisa memproduksi dan mempublikasi karya. Di sisi lain hampir setiap orang bisa menikmatinya.
Akibatnya kompetisi begitu terbuka. Karya-karya sejenis beradu untuk meraih tempat di benak pemirsa. Sebagiannya kemudian gugur, sebagiannya masih bertahan, dan sebagian lainnya terus berkembang.
Sejumlah resep diformulasi. Ada istilah resep 'panggung' yang memoles tampilan. Ada pula resep 'panggung belakang', mencakup banyak hal tidak terlihat namun sangat mendukung tampilan. Apabila resep jenis ini tidak diperhatikan, hampir bisa dipastikan tampilan tidak akan berjalan.
Resep 'panggung belakang' mungkin lebih rumit dan kompleks. Cakupannya luas. Tidak sekedar berbincang tren ke depan seperti apa, tapi juga algoritma platform dan keuangan.
Oleh karena itu seorang penampil karya (artis, talent) hari-hari ini perlu memiliki mentalitas yang lebih kompleks ketimbang masa sebelumnya. Dulu seorang penampil karya punya peluang untuk menganggap dirinya jagoan, figur yang disorot. Akan tetapi saat ini seorang penampil karya perlu memposisikan diri sebagai tim. Bahwa ia seorang yang disorot, iya, tapi di sisi lain ada orang lain yang membantunya untuk bisa terus tersorot.
Tanpa mentalitas ini, seorang penampil karya berkemungkinan tidak memiliki tim. Karena, sebagaimana telah disampaikan, kompleksitas detail 'panggung' dan 'belakang panggung' terlalu rumit untuk dihadapi seorang diri. Sementara jika harus membentuk tim, kiranya perlu seorang penampil karya saling sinergi dengan pihak lain. Otomatis saling mendengar dan bicara diperlukan.
Di sisi lain, dengan canggih dan portabelnya berbagai alat, kebutuhan ruang fisik mengecil. Investasi lebih banyak pada alat. Bukan hanya investasi dana, tapi juga perilaku. Lagi-lagi fakta ini menggiring penampil karya dan timnya untuk mengubah mentalitas, dari fokus ruang fisik ke fungsi alat serta personalia.
Benar, kunci utamanya pada mentalitas.
Jauh-jauh hari sebelumnya sebagian ahli manajemen sumber daya insani telah mengenalkan sebuah istilah penting: fleksibilitas kognitif.
Fleksibilitas kognitif dapat didefinisikan sebagai kesiapan seseorang untuk memiliki akar yang kuat dalam diri sehingga lebih fleksibel dalam berbagai perubahan. Apa akar yang kuat yang dimaksud? Kesiapan belajar kepada siapapun.
Kesiapan belajar ini didukung dengan kesiapan pola-pola komunikasi yang bervariasi. Sehingga komunikasi bisa terjadi kepada siapapun. Dampaknya pertukaran pengetahuan serta keterampilan dapat berlangsung.
Pembelajaran yang terus berlangsung pada diri seseorang membuatnya lebih siap menerima tantangan. Berikutnya ia siap berubah, sampai tingkat mentalitasnya. Adaptasi dengan berbagai lingkungan relatif mudah dilakukan.
Lebih mengerucut, fleksibilitas kognitif lebih banyak lahir dari lingkungan belajar yang memberikan banyak tantangan sekaligus toleransi atas kesalahan. Di sisi lain proses refleksi dan pendampingan kepada orang yang belajar dilakukan serius. Sehingga keinginan mencapai standar yang lebih tinggi semakin menguat.
Ke depan fleksibilitas kognitif akan senantiasa dibutuhkan. Siapapun yang siap belajar dan berubah akan memiliki peluang untuk menjadi penampil karya yang diminati. 'Gengsi' itu satu kata yang sepertinya urgen untuk dihapus.
Demikian profesi lain. Fleksibilitas kognitif senantiasa penting. Agar sang profesional terus berkembang seiring zaman.
Sesuatu yang penting diakui dengan jujur adalah ketidaknyamanan dalam berproses menuju mentalitas baru. Banyak tantangan dari dalam dan luar diri, seakan mengajak kembali ke mentalitas lama. Motivasi yang benar dan kuat diperlukan. Demikian pula narasi penuh empati kepada pihak lain juga tidak kalah penting. Agar hubungan sosial yang erat dan hangat masih mampu bertahan.
Wallah a'lam.


Post a Comment