Kesadaran atas Kelemahan Diri sebagai Modal Insani Organisasi dalam Bertumbuh

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa manusia itu tempat lupa dan salah. Sengaja atau tidak, selalu ada kelupaan atau kesalahan yang dilakukannya. Sebagian kelupaan atau kesalahan tersebut berkonsekuensi hanya istighfar, sebagian lainnya lebih dari itu.

Dalam hal ini Islam telah memberikan arahan yang lengkap agar kesalahan atau kelupaan tidak berakibat fatal. Ada arahan yang sifatnya individual semisal mu'ahadah dan muhasabah. Sedangkan arahan yang sifatnya komunal, misalkan ta'awun bil birr wat taqwa dan juga tawashi bil wash shabr.

Kesemua itu perlu ditindaklanjuti oleh seorang muslim. Prasyarat utamanya adalah tawadhu', rendah hati. Sehingga mudah saja baginya untuk menemukan dan mengakui kekhilafan diri, ditunjukkan orang lain ataupun ditemukan oleh dirinya sendiri. Ia tidak mengelak saat ada masukan dari pihak lain. Ia terima dulu masukan tersebut, lalu memprosesnya sebagai ikhtiar menggali hikmah serta perbaikan.

Dalam konteks organisasi, seorang muslim yang sadar potensi khilaf akan menerapkan dua prinsip sekaligus, yakni penjagaan diri (self-guard) dan akuntabilitas diri (self-accountability). Penjagaan diri mengantarkannya pada inisiatif membangun sistem yang tidak sentralistik, tetapi saling menyeimbangkan antarunsur organisasi. Sementara akuntabilitas diri mengantarkannya pada inisiatif siap melaporkan seluruh aktivitas, bahkan saat tidak diminta.

Selain kedua prinsip tersebut, seorang muslim yang sadar potensi khilaf akan mengembangkan kultur keterbukaan informasi. Hanya informasi sensitif saja yang disimpan. Baginya keterbukaan informasi berpotensi menguatkan kultur saling konfirmasi antarpihak. Sehingga informasi semakin akurat dan dapat digunakan sebagai basis pengambilan keputusan yang efektif.

Satu kultur lainnya adalah kultur belajar bersama. Semua orang di organisasi dikondisikan belajar. Permasalahan dibedah lalu diubah jadi bahan-bahan berharga untuk bergerak di masa depan. Eksperimen diberi ruang toleransi dengan sebelumnya dikaji potensi resikonya. Agar tidak terlalu banyak menghabiskan sumber daya organisasi saat terjadi situasi terburuk. 

Kultur belajar bersama juga membuka peluang bagi teori-teori baru dikaji. Memang tidak semua teori aplikatif di satu waktu. Akan tetapi teori-teori itu tetap penting. Karena berbagai teori itu menjadi bahan untuk disintesis menjadi pengetahuan baru yang efektif bagi organisasi.

Terakhir yang tidak kalah penting adalah kultur kesadaran spiritual. Ritual dihidupkan dan refleksi dikuatkan. Kesadaran ditumbuhkan, lalu dihubungkan dengan situasi organisasi. Sehingga kesadaran tidak berada di ruang hampa. Akan tetapi kesadaran dilihat kekuatannya di kehidupan nyata. 

Dengan keseluruhan ikhtiar tersebut, organisasi bisa diharapkan dinamis dan berkelanjutan. Tidak hanya berkembang secara kuantitas dan kualitas, organisasi bertransformasi menjadi pusat inkubasi kepemimpinan. Akhirnya kontribusinya tidak eksklusif di internal organisasi, bahkan meluas ke segala arah yang memungkinkan.

Wallah a'lam.

Powered by Blogger.
close