Strategi Mengatur Energi agar Istiqomah Tidak Terhenti

Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, bersabda, "Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang rutin walaupun sedikit."

Zhahir hadits ini menjelaskan bahwa istiqomah merupakan sifat utama dari amal yang dicintai Allah ta'ala. Sedikit kuantitasnya tidak apa-apa. Mungkin ke depan, secara bertahap, kuantitasnya bertambah.

Lebih dalam, bila diselami, dapat ditemukan satu pesan lagi: Mengatur energi agar senantiasa istiqomah.




Sebagaimana diketahui, energi untuk istiqomah itu tidak main-main alias besar. Energi fisik perlu terus siap. Sementara energi mental butuh distabilkan. Dalam hal ini akal bekerja keras untuk mengondisikan keduanya agar tidak drop. Karena, berdasarkan pengalaman yang sudah sering terjadi, saat keduanya drop, sulit rasanya istiqomah ditegakkan kembali. Dapat dikatakan situasinya seperti kembali ke titik nol. 

Dalam hal ini aneka pengetahuan sangat penting. Sebutlah pengetahuan tentang mana amalan wajib dan sunnah. Ini penting agar prioritas amalan tersusun secara benar. Hasilnya amalan wajib tuntas, sementara amalan sunnah dilaksanakan dengan suka cita. Nah, semoga suka cita jadi energi yang tidak pernah habis sehingga istiqomah terjaga.

Selain itu pengetahuan amalan wajib-sunnah mengantarkan seorang muslim pada penilaian yang proporsional terhadap amalan muslim lain. Ukuran utamanya tentu pelaksanaan amalan wajib, berikutnya sunnah. Jangan sampai terjadi penilaian terbalik, seorang muslim itu baik ketika sunnah (bahkan mubah) dijalani tapi wajibnya terabaikan. Mindset tersebut kacau. Jika mindset sudah kacau, kemungkinan besar tindakan akan kacau juga. Energi mental menjadi tidak stabil. Istiqomah berpotensi macet.

Berikutnya pengetahuan diri. Seberapa kuat fisik dan mental diri mesti dipahami seorang muslim dalam menyusuri jalan istiqomah. Jika dipaksakan melebihi batas kemampuan, satu amalan kemungkinan terhempas. Bagaimanapun kapasitas fisik dan mental memiliki batas. Apalagi sisi kehidupan lain juga butuh diperhatikan.

Pengetahuan terakhir adalah pengetahuan tentang lingkungan. Seberapa lingkungan akan mendukung, terutama untuk amalan wajib, demikian satu pertanyaan mendasar. Jika dukungan lingkungan kuat, energi yang dikeluarkan seorang muslim mungkin sedikit saja. Sebaliknya jika dukungan lingkungan lemah, energi yang dibutuhkan seorang muslim bisa sangat besar.

Dalam hal ini pemetaan merupakan satu opsi penting untuk dilakukan. Jika amalan wajib yang tidak didukung oleh lingkungan, maka seorang muslim harus mengerahkan energi sekuat mungkin agar amalan wajib terlaksana. Akan tetapi jika itu amalan sunnah, maka seorang bebas memilih sejauhmana energi akan dikerahkan, sesuai dengan kuantitas istiqomah yang ditargetkan.

Sebagai kata akhir, mungkin dipertimbangkan untuk setiap muslim memiliki seorang pembimbing. Agar berbagai pengetahuan lebih cepat terserap. Selain itu agar ada sandaran sejenak, ketika lelah mendera di perjalanan panjang istiqomah.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close