Saling Memberikan Ruang Tumbuh untuk Kenyamanan dan Sukses Bersama Sepanjang Waktu



Terlepas kontroversinya, beberapa edisi komik Doraemon menyajikan pelajaran penting bagi anak serta orangtua. Apalagi pas di edisi tersebut, terdapat catatan akhir sebagai refleksi. Perjalanan dari halaman awal ke akhir terasa bukan membaca komik, tapi mengikuti satu sesi pelatihan parenting dengan model experiental learning.

Salah satu edisi yang teringat hingga saat ini adalah edisi tombol eliminasi. Alkisah, sebagaimana biasa, Nobita direndahkan teman-temannya. Lalu ia merengek kepada Doraemon agar ditolong dengan alat-alat canggih.

Doraemon mengeluarkan sebuah alat berbentuk tombol. Doraemon menyampaikan prosedur alat tersebut, "Tekan saat kamu tidak suka dengan seseorang atau kalah bersaing dengannya."

Nobita mengangguk tanda mengerti. Lalu ia keluar untuk bermain bersama teman-teman. Ya, dapat ditebak, ia kalah. Akhirnya ia memencet tombol. Akibatnya satu orang temannya hilang. Ia merasa menang dan senang.

Hari berikutnya Nobita melakukan hal yang sama: Memencet tombol untuk orang yang tidak disukai atau kalah darinya.

Sampai akhirnya Doraemon pun jadi sasaran dari tombol.

Kini....

Tidak ada orang di kompleks tempat tinggal selain Nobita. Ia pun merasa jumawa. Terasa ada kekuasaan mutlak dalam dirinya.

Akan tetapi....

Beberapa waktu kemudian Nobita merasakan kesepian. Tak ada teman bicara. Tak ada teman bermain. Tak ada orang lain untuk diajak interaksi dan kerjasama.

Kemudian....

Nobita menangis, mengakui kekhilafannya. Ia sadar bahwa bagaimanapun sudah tugas hidupnya untuk menerima kemenangan dan kekalahan. Ia juga sadar menyingkirkan orang lain bukan solusi terbaik pada interaksi sosialnya. Sebaliknya ia perlu membangun kerjasama agar sukses bersama.

Kisah diakhiri dengan munculnya Doraemon. Ia memberikan penjelasan yang hampir mirip dengan kesadaran Nobita. Ia menyampaikan, beberapa saat orang yang dijadikan sasaran tombol akan menghilang sejenak. Setelah beberapa waktu ia akan muncul kembali. 



Betul, pelajaran yang bisa didapatkan adalah pendekatan menang-menang, bukan menang-kalah dan kalah-kalah, sebagaimana framework yang ditawarkan Covey.

Pendekatan menang-menang mengantarkan orang-orang untuk sinergi, bukan kompetisi atau eliminasi. Oke, disepakati, kompetisi diperlukan sesekali dan sifatnya jangka pendek. Karena jika dikerangkakan dalam jangka panjang, kompetisi akan menghabiskan energi kebaikan yang ada pada individu-individu di dalam komunitas. Apalagi eliminasi yang diterapkan, maka konflik berpotensi tumbuh subur dengan mudahnya.

Pendekatan menang-menang berlaku dimanapun. Di keluarga misalnya, pendekatan menang-menang dilakukan pasangan suami istri tentang pengaturan keluarga; atau komunikasi orangtua kepada anak tentang harapan kedua pihak.

Di tempat tinggal atau tempat kerja, pendekatan menang-menang akan menghindarkan kubu-kubuan. Tidak ada juga upaya eliminasi atasan kepada bawahan secara sembunyi-sembunyi. Semuanya dibicarakan tenang dan terbuka. Kesuksesan dan akses pertumbuhan individu diharapkan dapat dimiliki oleh setiap orang.

Tidak mudah memiliki pendekatan menang-menang. Covey sendiri menggambarkan harus ada sekian tahapan untuk dilalui. Salah satunya menghormati pemikiran dan keinginan orang yang lebih lemah.

Covey mencontohkan ia dan salah satu anaknya. Saat teman anaknya berkunjung dan meminjam mainan sang anak, ada penolakan dari sang anak. Akan tetapi Covey memaksa sang anak untuk meminjamkan mainannya. Sang anak kecewa.

Covey lalu merenung. Seharusnya ia tidak memaksakan. Karena sang anak sedang membangun hubungan diri dengan benda-benda yang dimilikinya. Dalam hal ini Covey perlu menghargai proses yang sedang dijalani sang anak. Agar kelak saat sudah terhubung dengan benda-benda tersebut, sang anak bisa mengatur peminjaman bahkan pemberiannya kepada orang lain.

Demikian pula di tempat tinggal dan kerja, pemberian ruang tumbuh bisa diberikan kepada orang-orang yang sedang tumbuh seperti para staf. Biarkan mereka berbicara. Jika ada yang kurang, koreksi diberikan dengan seksama, diiringi dengan motivasi kepada mereka untuk terus tumbuh.

Kehidupan ini terlalu cepat dan sempit jika harus diisi dengan kompetisi dan eliminasi. Bahkan untuk masuk surga pun, seseorang diharapkan untuk bersinergi. Memang benar ada perintah berlomba-lomba menuju surga sebagaimana di Al-Qur'an surat Al-Muthaffifin ayat 26, tetapi perlombaan itu diwarnai dengan saling memberi kebaikan antarinsan. Salah satunya ruang tumbuh individual. Sementara di Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 148, konteks perlombaan adalah antarumat.

Pada akhirnya jiwa akan menyampaikan kecenderungannya. Mana lebih membahagiakan itulah kemungkinan yang akan dipilih, bahkan diperjuangkan. Sementara yang menyengsarakan akan ditolak.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close