Journaling for Girls: Mengantisipasi Depresi Anak Perempuan agar Hidupnya Lebih Penuh Warna Cerah
Anak perempuan bak mutiara langka. Kemilaunya khas. Keindahannya memberi warna tersendiri pada jiwa orangtua.
Paling tidak demikianlah pelajaran yang bisa dipetik dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi, "Siapa saja yang diuji dalam pengasuhan anak-anak perempuan, lalu ia perlakukan mereka dengan baik, niscaya mereka akan menjadi perisainya dari api neraka."
Di sisi lain, sebagaimana disampaikan Santrock dalam buku Perkembangan Anak, anak perempuan remaja memiliki potensi depresi jauh lebih besar ketimbang anak laki-laki. Salah satu penyebabnya utamanya adalah faktor hormonal. Anak perempuan memiliki hormon yang lebih kompleks ketimbang lelaki. Sehingga emosinya mudah terombang-ambing.
Oleh karena itu upaya antisipasi depresi pada anak perempuan menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan. Orangtua dan guru di sekolah perlu bekerja sama. Karena sulit orangtua bergerak sendiri, demikian pula guru. Ada peranan yang efektif dimainkan orangtua, sebagaimana ada peranan yang efektif oleh guru.
Sebelumnya perlu dipahami bahwa manusia memiliki sisi spiritual, individual, dan sosial. Di sisi spiritual, seorang manusia perlu terhubung kepada Tuhannya. Di sisi individual, ia perlu terhubung kepada dirinya sendiri. Sementara di sisi sosial, ia perlu terhubung dengan lingkungan sekitarnya.
Ketiga sisi ini perlu dipenuhi kebutuhannya. Di sini sinergi orangtua dan guru diperlukan. Di rumah, seorang anak perempuan didampingi orangtuanya. Di sekolah, guru berperan sebagai pendamping.
Dalam proses pendampingan, salah satu instrumen yang bisa digunakan adalah journaling. Seorang anak perempuang dilatih untuk menuliskan berbagai perasaan dan pemikirannya dalam sehari. Sangat dianjurkan untuk journaling dilakukan di rumah. Agar privasi lebih terjamin.
Orangtua diharapkan memfasilitasi sang anak perempuan untuk melakukan journaling. Alat tulis dan tempat menulis yang nyaman merupakan kebutuhan dasar journaling. Penggunaan alat elektronik semisal gawai disarankan sebagai opsi terakhir. Pertimbangannya sederhana, dengan pena dan buku, seorang anak perempuan lebih bebas mengekspresikan dirinya: Kata, kalimat, simbol, emoji, garis-garis berwarna, dan sebagainya.
Link terkait: https://www.fahma.net/2026/03/tidak-hanya-meningkatkan-kualitas.html
Hasil journaling boleh diketahui orangtua dengan syarat ada permintaan izin kepada anak. Agar anak merasa dihargai privasinya. Sehingga proses journaling bisa terus berjalan.
Jika tidak diizinkan, bagusnya orangtua tidak memaksa. Dikhawatirkan journaling akan terhenti. Karena anak merasa tidak nyaman.
Sementara itu guru bertugas memastikan lingkungan persekolahan yang kondusif untuk anak perempuan. Perundungan antaranak perempuan atau bahkan pelecehan kepada anak perempuan, dua situasi yang perlu senantiasa diantisipasi. Bahkan Armstrong dalam buku Secondary Education menyatakan, perihal pertama yang perlu diciptakan di sekolah menengah adalah lingkungan bebas perundungan.
Setelah spiritual dan emosionalnya dipastikan nyaman, semoga intelektual dan psikomotoriknya bisa dipacu. Prestasi demi prestasi diraihnya. Hidupnya semakin berwarna cerah.
Wallah a'lam.



Post a Comment