Journaling for Boys: Membangun Kepemimpinan dalam Keutuhan Bingkai Pengetahuan

Anak lelaki itu calon pemimpin, sebagaimana diinspirasikan Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 34, "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Dikarenakan Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."


Oleh karena itu anak lelaki perlu disiapkan untuk bermental memimpin. Ia memiliki visi atau orientasi yang benar, emosional matang, dan intelektual tajam. Tidak bisa dilupakan fisik yang sehat.

Sementara itu, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam bersabda, "Setiap kalian itu pemimpin. Dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."

Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa tanggung jawab merupakan satu asas penting dalam kepemimpinan. Sementara buah dari tanggung jawab antara lain pemeliharaan, bagaimana sesuatu yang diamanahkan tidak berkurang. Bahkan jika mungkin ada penambahan.

Buah lainnya adalah akuntabilitas, sebuah mentalitas yang mengantarkan pemiliknya untuk menyampaikan laporan atas amanahnya, bahkan saat tidak diminta sekalipun. Bukti-bukti ditunjukkan segamblang mungkin. Semua orang bisa melihat, mengamati, dan menilai pengelolaan amanah yang telah dilangsungkan.

Nah, penting sekali anak lelaki dibiasakan untuk memiliki tanggung jawab. Indikatornya, seperti telah disampaikan, ada pada ikhtiar memelihara amanah dan melaporkan pengelolaannya. Dari sini didapati tentang pentingnya literasi, tulis-menulis, terutama laporan.

Tentu saja laporan yang dimaksud bukan laporan administratif dengan ketertiban luar biasa. Kata-kata deskriptif sudah cukup, begitupun dengan angka-angka yang simpel jika dibutuhkan. Karena perihal terpentingnya ada pada mentalitas. Standard pelaporan menyusul, saat masa dewasa telah tiba.


Dalam hal ini journaling memiliki potensi untuk mengantarkan seorang anak lelaki terampil menulis runtut. Sehingga pembaca mudah memahami maksud yang ingin disampaikan. Berikutnya proses evaluasi relatif lebih mudah.

Link terkait: https://www.fahma.net/2026/03/tidak-hanya-meningkatkan-kualitas.html

Satu persoalan muncul, menulis dianggap tidak cocok untuk anak lelaki. Menulis dinilai lebih cocok untuk anak wanita. Karena menulis dianggap cengeng, sentimentil. Padahal menulis cocok untuk semua orang, terlepas jenis kelamin dan usia.

Sehubungan dengan anggapan tersebut, hendaklah orangtua tidak terpancing untuk berpikir negatif. Bahkan jika mungkin orangtua membimbing dan mendampingi anak lelakinya dalam journaling. Sang anak lelaki diberi kebebasan untuk menulis, menggambar emoji, dan mengilustrasikan apa saja. Biarkan ia mengalirkan isi benaknya. Asalkan tidak keluar dari norma agama, semua ungkapan anak lelaki di journaling bersifat bebas.

Berikutnya orangtua dan guru sangat diharapkan untuk mengajak anak lelaki berefleksi. Bahwa apapun yang dilakukan seorang anak lelaki, ujungnya adalah membangun kapasitas kepemimpinan. Semisal saat anak jatuh cinta, anak lelaki dipahamkan bahwa dalam percintaan ada tanggung jawab berbasis halal-haram. 

Orangtua dan guru dimohon untuk lebih memahami konsep remaja. Menurut Santrock dalam buku Adolesence, remaja merupakan klasifikasi yang lahir dari Revolusi Industri. Saat itu tenaga kerja banyak dibutuhkan. Sejumlah lelaki berusia belasan tahun dilibatkan sebagai tenaga kerja. Dikarenakan belum dianggap cukup siap dan masih butuh bimbingan, pekerja berusia belasan tahun ini diberi label 'teens (orang berusia belasan tahun'.

Alhasil gampang galau yang sering disematkan pada remaja, terutama anak lelaki, tidak lahir dari konsep kajian. Historitas yang membentuknya. Sehingga dapat dipahami bahwa dalam Islam, anak remaja yang sudah baligh itu telah mencapai kematangan mental.


Apabila masih ditemukan banyak remaja belum matang, sangat dimungkinkan itu karena pola dan lingkungan pendidikan yang kurang berorientasi pada ajaran Islam. Ini perlu diubah. Agar kesejatian Islam dapat diimplementasikan dalam pendidikan anak.

Semoga dengan journaling dan refleksi, anak lelaki tumbuh dengan pikiran runtut dan kesadaran tinggi. Sehingga prasyarat menjadi pemimpin telah dimilikinya. Pada saatnya ia memimpin dengan sangat inspiratif dan aspiratif.

Wallah a'lam.

Powered by Blogger.
close