Ramadhan Ceria Membiasakan Anak Puasa dengan Penuh Cinta

Oleh: KH. Akhmad Yunus, M.Pd.I

Ramadhan selalu datang membawa suasana haru yang indah. Bulan ini bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah hadiah dari Allah ï·» untuk umat-Nya. Di dalamnya tersimpan kesempatan emas untuk mendidik jiwa, melatih kesabaran, dan menumbuhkan ketakwaan. Ramadhan adalah bulan di mana setiap detik terasa bermakna, setiap doa menjadi lebih khusyuk, dan setiap langkah terasa lebih dekat dengan surga.

Klik untuk Informasi Pendaftaran SMP Hidayatullah Kebumen


Bagi orang tua, Ramadhan bukan hanya tentang menjalankan ibadah pribadi, tetapi juga tentang menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak. Membiasakan mereka berpuasa sejak dini bukanlah perkara mudah, namun jika dilakukan dengan penuh cinta, kelembutan, dan kesabaran, maka Ramadhan akan menjadi kenangan indah yang mereka bawa sepanjang hidup.


Klik untuk Informasi Pendaftaran SDIT Al-Madinah Kebumen


Firman Allah dalam Al-Qur’an menegaskan bahwa puasa adalah jalan menuju takwa. Rasulullah ï·º pun bersabda: “Puasa itu adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, mengajarkan anak berpuasa bukan sekadar melatih mereka menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menanamkan cinta pada ibadah, membentuk karakter, dan memperkuat ikatan keluarga.

A. Persiapan Mental dan Pemahaman

Langkah pertama adalah menanamkan pemahaman yang benar. Anak perlu tahu bahwa puasa bukan hanya tidak makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari amarah, berlatih sabar, dan menumbuhkan kasih sayang.

1.     Jelaskan makna puasa dengan bahasa sederhana, penuh kelembutan.

2.     Ceritakan kisah Nabi Muhammad ï·º dan sahabat yang penuh kasih, agar anak melihat teladan nyata.

3.     Libatkan anak dalam persiapan Ramadhan: menghias rumah, membuat tracker puasa, atau menyiapkan menu sahur dan berbuka.

4.     Hindari pemaksaan. Fokuslah pada menumbuhkan rasa cinta, bukan rasa takut.

Dialog sederhana bisa menjadi jembatan hati. Misalnya orang tua berkata:

"Puasa itu bukan hanya menahan lapar, tapi juga belajar sabar. Kalau kamu bisa puasa sampai Zuhur, itu sudah luar biasa. Ayah dan Bunda bangga sekali."

Ucapan seperti ini membuat anak merasa dihargai, dicintai, dan termotivasi.

B. Latihan Puasa Secara Bertahap

Islam mengajarkan pendidikan bertahap. Anak-anak memang belum diwajibkan puasa, tetapi latihan sejak dini akan menumbuhkan kebiasaan baik.

1.     Mulai sejak usia dini  hingga usia tamyiz (sekitar 7 tahun ke atas)

2.     Latihan puasa setengah hari, misalnya hingga jam 10 pagi, Zuhur, atau Asar sesuai kemampuan.

3.     Ajak anak ikut sahur dan berbuka, meski belum puasa penuh, agar terbiasa dengan ritme Ramadhan.

Dengan cara ini, anak tidak merasa terbebani, melainkan menikmati proses belajar berpuasa.

C. Persiapan Fisik dan Nutrisi

Puasa yang sehat dimulai dari sahur dan berbuka yang bergizi.

1.     Sajikan menu sahur kaya serat dan protein agar anak kenyang lebih lama.

2.     Pastikan hidrasi cukup dengan air putih saat sahur dan berbuka.

3.     Atur pola tidur agar anak tetap segar di siang hari.

 

Penelitian oleh Abdulaziz Farooq dkk. (2015) menunjukkan bahwa puasa dapat memengaruhi komposisi tubuh, kemampuan kognitif, dan kesehatan sekolah anak. Namun dengan pengawasan yang baik, anak-anak mampu beradaptasi dengan baik. Artinya, puasa bukan hanya aman, tetapi juga menyehatkan bila dilakukan dengan penuh perhatian.

D. Aktivitas Menyenangkan Saat Puasa

Agar anak tidak merasa puasa itu berat, isi waktu mereka dengan kegiatan positif.

1.     Kegiatan kreatif: membuat lampion, menggambar, atau membaca buku.

2.     Aktivitas ibadah ringan: mengaji, mengikuti kajian anak-anak, atau berbagi takjil.

3.     Batasi aktivitas fisik berat agar anak tidak terlalu lelah.

Dengan begitu, puasa menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan sekadar menahan lapar.

E. Pendekatan Sesuai Usia

Setiap usia memiliki pendekatan berbeda:

1.     Usia 4–6 tahun (TK): Fokus pada pengenalan suasana Ramadhan, ikut sahur, berbuka, dan kegiatan kreatif.

2.     Usia 7–10 tahun (SD kelas bawah): Bisa mulai latihan puasa setengah hari, bertahap hingga mampu puasa penuh, diberi motivasi dan apresiasi.

3.     Usia 11–12 tahun: Dorong untuk puasa penuh dengan dukungan penuh kasih.

Dengan pendekatan bertahap, anak akan tumbuh mencintai Ramadhan, bukan merasa terbebani.

Ramadhan adalah momen keluarga. Saat sahur bersama, doa terucap lirih, dan senyum anak yang berusaha menahan lapar, semua itu adalah bagian dari perjalanan spiritual yang indah.

Mengajarkan anak berpuasa dengan penuh cinta berarti menanamkan nilai sabar, disiplin, dan kasih sayang. Nilai-nilai ini akan mereka bawa sepanjang hidup, menjadi bekal menghadapi tantangan zaman.

Rasulullah ï·º bersabda: “Puasa itu adalah perisai.” Maka, mari jadikan Ramadhan sebagai perisai keluarga kita, yang melindungi dari kelemahan, menumbuhkan kekuatan, dan mengikat hati dengan cinta.

Anak-anak yang tumbuh dengan cinta pada Ramadhan akan selalu merindukan bulan suci ini. Mereka akan mengenang masa kecilnya dengan hangat: sahur bersama ayah dan bunda, berbuka dengan senyum, dan doa yang dipanjatkan dengan penuh harapan.

Ramadhan bukan sekadar ibadah, ia adalah warisan cinta. Warisan yang akan terus hidup dalam hati anak-anak kita, bahkan ketika mereka dewasa nanti.

Penulis: KH. Akhmad Yunus, M.Pd.I  Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen. Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen

Powered by Blogger.
close