Si Paling Ingin Menonjol vs Si Paling Ingin Menyendiri

Sebagian orang ingin terlihat menonjol. Di berbagai karya yang dihasilkan, namanya senantiasa ditulis dan di-highlight. Sehingga namanya sangat mudah ditemukan.

Di sisi lain sebagian orang sangat tidak ingin menonjol. Mereka bersembunyi di balik nama tim. Bagi mereka, tidak dikenali merupakan satu kenyamanan mahal. Lebih baik duduk di sudut ruang dengan santai tanpa ditanya apapun, ketimbang ia mendengar riuh pujian atas karya yang dihasilkan.



Keduanya berada di dua titik ekstrem. Bisa dikatakan keduanya kurang baik. Karena, sebagaimana sebuah ungkapan menyatakan, "Sebaik-baik urusan itu pertengahannya."

Ungkapan tersebut, menurut satu kalangan, berasal dari Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam. Sementara menurut kalangan lainnya, itu bukan dari beliau. Meskipun demikian kebenaran dan kebaikan makna ungkapan tersebut sangat bermanfaat.

Kembali pada dua titik ekstrem yang perlu dicari titik tengahnya, satu pertanyaan diajukan, yakni di mana titik tengahnya.

Dalam hal ini, empat penjelasan semoga bisa jadi ukuran.

Pertama, niat. Pembuat karya menuliskan namanya dengan berbagai latar belakang. Salah satunya tanggung jawab moral. Dalam dunia akademik, ada tambahan tanggung jawab: Tanggung jawab ilmiah.

Idealnya pencantuman nama pembuat karya dilandasi dengan niatan tanggung jawab moral. Karena setiap karya dimungkinkan akan ditelaah publik. Paling tidak, telaah dilakukan untuk melacak originalitas karya. Bahwa karya bukan plagiat.

Pembuat karya yang memiliki niatan baik seperti itu akan menuliskan nama sebagai akuntabilitas. Ia menuliskan secara proporsional. Misalkan jika dibutuhkan, gelar akademik dibubuhkan. Sebaliknya jika gelar akademik tidak dibutuhkan, nama saja yang dituliskan.

Kedua, media. Dimungkinkan satu media dikelola pribadi atau diorientasikan kepada sesosok pribadi. Akan tetapi, sebaliknya, bisa jadi satu media dikelola dan mengangkat nama bersama. Dalam hal ini penulisan nama pada satu karya memerlukan kesepakatan kolektif.

Seseorang yang memahami pentingnya kolektivitas akan mematuhi kesepakatan kolektif, terutama pada penulisan nama. Sementara seseorang yang ingin menonjolkan dirinya cenderung mengabaikan kesepakatan kolektivitas. Yang penting namanya terlihat sejelas-jelasnya.

Adapun orang tidak ingin tenar kadang menolak namanya dicantumkan. Ia ingin nyaman dengan kesendirian. Akan tetapi tetap ia perlu menghormati kolektivitas. Nama samaran mungkin jadi solusi terbaik.

Lebih jauh, jika media dikelola dan diorientasikan bersama, maka perlu dibuka peluang agar banyak pihak tampil sebagai pembuat karya. Satu pihak tidak mendominasi. Apabila terjadi dominasi satu pihak, potensi publik merasa bosan terbuka lebar. Media beresiko ditinggalkan. Ini amat disayangkan.

Ketiga, proses belajar menuju keunggulan. Orang yang ingin menonjolkan diri sendiri sangat sulit untuk saling belajar sesama pembuat karya. Sementara ada orang yang menyerah saja atas berbagai kritik, semua kritik diiyakan.

Padahal sangat baik jika saling bicara dan belajar dilakukan. Unsur-unsur karya diurai. Selanjutnya karya dinilai berbasiskan unsur-unsur tersebut.

Karena kesetaraan terjadi, objektivitas sangat mungkin hadir. Sehingga perbaikan bisa bertahap dilakukan. Di sinilah pertengahan bagi pembuat karya. Ia belajar bersama dengan pembuat karya lainnya, tidak sendiri atau menyendiri. Ia paham ada bagian diri yang tidak bisa dilihat. Bantuan pihak diperlukan.

Keempat, narasi. Sebuah karya memiliki dua opsi besar saat dinarasikan, dengan rendah atau tinggi hati. Kerendahan hati dinyatakan dengan harapan, semoga karya bermanfaat. Sebaliknya ketinggian hati dinyatakan dengan dramatisasi karya dan pembuat karya. 

Di era lalu, narasi dengan ketinggian hati mungkin satu pilihan yang bisa dilakukan untuk branding. Seiring dengan perkembangan zaman, kerendahan hati lebih efektif sebagai narasi. Karena karya-karya bertebaran dimana-mana. Publik dengan mudah memilih satu karya, atau meninggalkannya.

Orang yang ingin menonjolkan dirinya kadang tidak peduli tentang narasi. Hal terpenting dalam benaknya adalah dirinya. Dirinya dikenal seluas mungkin. Padahal sudah banyak terjadi, ketenaran sesaat yang kemudian berubah ke arah sebaliknya.

Sementara itu orang yang tidak ingin tenar perlu sadar, narasi penting. Agar karyanya tetap memiliki orientasi jelas. Jika tidak, karyanya berpotensi disalahpahami. Dirinya tidak bisa berlepas tangan.

Dalam hal ini sangat dianjurkan untuk kerja tim dalam menyusun narasi. Persepsi publik disurvey. Sehingga akurasi narasi efektif saat karya diluncurkan.

Pada akhirnya seorang insan dihadapkan pada pertanyaan, untuk apa berkarya. Semakin dekat tujuannya dengan Sang Pencipta, semakin besar lahir ketenangan dan kepuasan. Ia tidak takut ditinggal orang lain, juga tidak mau meninggalkan orang lain. Kebersamaan itu yang diinginkan. Karena demikianlah titah Sang Pencipta, seluruh insan bersama dalam kebaikan.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close