"Saya ini orang lapangan..."



"Saya ini orang lapangan," demikian satu ujaran sering terdengar. Entah maksud pastinya apa, karena terdengar di banyak momen. Akan tetapi satu hal yang membuat miris, yakni kesan bahwa orang berliterasi itu tidak paham lapangan; tidak pernah turun ke lapangan; gagap bila diterjunkan di lapangan.

Literasi dianggap tumpukan buku, berkas, atau file elektronik yang bisu tanpa suara. Padahal mereka yang akrab dengan kata-kata di berbagai media, cetak ataupun elektronik, sangat paham bahwa kata-kata itu kadang berteriak. Tidak hanya suara yang dibunyikan dengan nyaring, ada getaran lain yang sering mengiringi. Getaran itu mungkin berasal manhaj sang penulis, cita-cita, orientasi atau apapun.

Getaran inilah yang sangat mahal. Karena getaran ini lebih sering mengantarkan pembaca ke ruang dialog imajiner. Tiga pihak duduk di situ: Sang pembaca, seseorang dalam diri pembaca yang sudah sering berdialog dengan pembaca, dan sang penulis.

Ruang dialog imajiner ini kemudian membawa pengembaraan lintas ruang serta waktu. 'Lapangan' yang dirambah tidak sekedar wilayah inderawi, tapi lebih jauh. Sehingga pada diri pembaca, potensi kesiapan berlapangan dalam skala luas semakin kuat terbangun.

Dengan demikian dapat dikatakan pembaca buku atau sosok literat merupakan 'orang lapangan' juga. Hanya ada beda dimensi. Nah baiknya beda dimensi disinergikan.

Jalan sinergi diawali dengan kesadaran corak berpikir. Sosok literat cenderung berpikir deduktif. Implementasinya teori dibawa ke realitas kehidupan. Sebaliknya, sosok yang diidentifikasi sebagai orang lapangan cenderung berpikir induktif. Ia sering menarik realitas kehidupan ke ruang pemikiran untuk dimatangkan sebagai teori. 

Setelah corak berpikir disadari, kedua pihak saling bicara dan menguji. Teori dari literatur diujicobakan dalam realitas. Sementara realitas yang sedang diproses menjadi teori perlu dikonfrontir dengan aneka teori-teori terkait.

Terkadang kegagalan uji terjadi. Ini bukan masalah. Karena kehidupan manusia kaya akan teori dan falsafah. Satu teori atau pandangan kadang perlu ditopang teori lain dalam menyelesaikan masalah. Di sisi lain, tepatnya induksi, satu tindakan di satu konteks waktu dan tempat tidak selamanya relevan. Saat konteksnya beda, relevansi tindakan sangat mungkin menghilang.

Di sinilah urgensi kerendahan hati. Dua pihak terbuka, selain mendengar pihak lain, juga untuk gagal. Dengan jujur mengakui kegagalan, semoga di masa depan Allah ta'ala kirimkan sosok orang yang memperbaiki kegagalan tersebut.

Adapun jika saling uji berhasil, semoga ada kelanjutannya berupa sinergi. Apabila induksi berhasil, maka sosok literat membantu memformulasikan teorinya. Sebaliknya jika deduksi berhasil, maka orang lapangan membantu implementasi lebih lanjut, terutama dalam penggunaan aplikasi/software.

Dengan sinergi dua pihak, semoga pengetahuan semakin kuat berpadu. Manfaat besar semakin terasakan. Semua orang akhirnya menjadi orang lapangan.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close