Komunikasi Ma’ruf Guru Strategi Mencegah Bullying dan Menanamkan Peradaban Islam
Bullying di sekolah sering dipahami sebagai tindakan antar siswa.
Namun, tanpa disadari, kata-kata seorang guru yang seharusnya menjadi penyejuk justru
dapat melukai hati murid dan meninggalkan luka yang tidak terlihat.
Klik di Sini untuk informasi SDIT Hidayatullah Al-Madinah Kebumen
Guru adalah teladan akhlak, tetapi ketika komunikasi tidak dijaga, ia bisa menjadi sumber rasa sakit yang tersembunyi. Maka penting bagi guru untuk menerapkan strategi komunikasi ma’ruf, yaitu komunikasi yang baik, santun, dan penuh kasih sayang sesuai tuntunan Islam. Dengan komunikasi ma’ruf, guru bukan hanya mendidik, tetapi juga berkontribusi nyata dalam membangun peradaban Islam.
Beberapa perilaku yang sering terjadi tanpa disadari antara lain:
1. Membandingkan murid secara negatif: “Kenapa kamu tidak bisa seperti
si A?”
2. Memberi julukan merendahkan: “pemalas”, “bodoh”.
3. Mengkritik penampilan fisik murid.
4. Mengumumkan nilai rendah dengan nada mengejek.
5. Menyampaikan kesalahan murid dengan keras dan bangga hingga murid
merasa dipermalukan.
6. Mengabaikan pertanyaan murid dengan komentar meremehkan.
7. Menyindir latar belakang keluarga murid.
Penelitian Sitka Bella Noviana Putri Harahapa menegaskan bahwa strategi komunikasi guru berperan besar dalam mengatasi bullying di sekolah. Artinya, cara guru berbicara bisa menjadi benteng atau justru pemicu bullying.
Berbagai bentuk bullying terselubung tersebut menunjukkan bahwa
persoalan utama sering kali bukan pada niat mendidik, melainkan pada cara
berkomunikasi. Oleh karena itu, Islam memberikan panduan komunikasi yang
menjaga martabat manusia melalui konsep qoul ma’ruf.
B. Prinsip Qoul Ma’ruf dalam Islam
1. Santun
Guru hendaknya menjaga tutur kata agar tidak melukai hati murid.
Allah berfirman:
“…Dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang ma’ruf.” (QS. An-Nisa [4]: 5).
Santun
berarti memilih kata yang lembut, tidak kasar, dan tidak mempermalukan, Guru yang santun dalam berkomunikasi mampu menekan perilaku bullying
di sekolah dasar. Santun adalah bagaian integral dari akhlakul karima (akhlak
mulia ) dalam islam. Perwujudan dari ajaran islam yang mengedepankan adap fondasi
membangun peradaban Islam.
2. Mendidik
Komunikasi
guru harus mengarahkan murid kepada kebaikan, bukan sekadar kritik. Rasulullah
SAW bersabda:
“Barang
siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau
diam.” (HR. Bukhari dan Muslim, Hadits Arbain Nawawi no. 15).
Prinsip
mendidik berarti setiap teguran guru harus memberi jalan keluar. Misalnya,
bukan sekadar mengatakan “salah”, tetapi menjelaskan bagian mana yang salah dan
bagaimana memperbaikinya. Komunikasi
guru yang mendidik berpengaruh pada pembinaan akhlak peserta didik. Dengan
komunikasi mendidik, guru menanamkan ilmu sekaligus akhlak, yang menjadi pilar
peradaban Islam.
3. Motivatif
Kata-kata
guru seharusnya membangkitkan semangat belajar. Allah menegaskan:
“Perkataan
yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan
sesuatu yang menyakitkan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 263).
Prinsip
motivatif berarti guru tidak hanya mengoreksi, tetapi juga memberi dorongan.
Misalnya: “Saya tahu kamu bisa lebih baik, mari kita coba lagi.” Dengan cara
ini, murid merasa dihargai dan termotivasi untuk memperbaiki diri. Kata-kata
motivatif adalah energi yang menggerakkan generasi muda untuk berkontribusi
dalam membangun umat dan peradaban Islam.
4. Adil
Guru
tidak boleh membeda-bedakan murid. Rasulullah SAW mencontohkan keadilan dalam
interaksi, sebagaimana sabdanya:
“Sesungguhnya orang-orang yang paling dicintai Allah pada hari kiamat adalah mereka yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi).
Adil berarti semua murid diperlakukan sama, tidak ada favoritisme.
Jika guru hanya memuji murid tertentu dan meremehkan yang lain, maka suasana
kelas menjadi tidak sehat. Keadilan guru dalam komunikasi menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif dan menekan rasa rendah diri murid. Keadilan
adalah ruh peradaban Islam, yang menegakkan kesetaraan dan menghargai setiap
individu.
C. Strategi
Komunikasi Alternatif
Untuk menghindari bullying terselubung, guru dapat menerapkan
strategi berikut:
1.
Gunakan nada tenang dan jelas
“Jawabanmu belum tepat, mari kita
coba lagi.”
2.
Fokus pada perilaku, bukan pribadi murid.
“Tugas ini belum selesai, ayo kita cari cara
menyelesaikannya.”
3.
Berikan umpan balik spesifik
“Langkah kedua perhitunganmu salah, coba
periksa kembali.”
4.
Gunakan bahasa
positif:
“Saya
tahu kamu bisa lebih baik, mari kita coba lagi.’
5.
Sampaikan
secara pribadi bila perlu agar murid tidak dipermalukan di depan kelas.
6.
Apresiasi usaha
murid meski hasil belum sempurna
“Kamu
sudah berusaha, tinggal sedikit lagi untuk benar.”
D. Contoh
Percakapan
1. Komunikasi yang Merendahkan
Guru:
“Jawabanmu salah lagi! Kamu memang tidak bisa belajar dengan baik. Lihat
teman-temanmu, mereka jauh lebih pintar.”
Murid:
(terdiam, wajah tertunduk, merasa malu dan tidak percaya diri).
2. Komunikasi Ma’ruf
Guru:
“Jawabanmu belum tepat, tapi saya senang kamu berani mencoba. Mari kita lihat
bersama di bagian mana yang perlu diperbaiki. Saya yakin kamu bisa lebih baik.”
Murid: (tersenyum, merasa dihargai, bersemangat untuk mencoba lagi).
3. Skenario lain, murid tidak mengerjakan tugas
Guru
(merendahkan): “Kamu memang malas, pantas saja nilaimu jelek.”
Guru (ma’ruf):
“Tugasmu belum selesai, ayo kita cari cara agar kamu bisa menyelesaikannya.
Saya ingin kamu berhasil.”
4. Skenario lain, murid ribut di kelas
Guru
(merendahkan): “Kamu selalu bikin masalah, dasar nakal.”
Guru (ma’ruf): “Kelas kita butuh ketenangan agar semua bisa belajar. Saya percaya kamu bisa membantu menjaga suasana.”
Guru adalah arsitek peradaban. Kata-kata guru bisa menjadi doa yang menumbuhkan generasi berakhlak mulia, atau bisa menjadi luka yang melemahkan semangat belajar. Dengan strategi komunikasi ma’ruf, santun, mendidik, motivatif, dan adil, guru tidak hanya menghindari bullying terselubung, tetapi juga berkontribusi nyata dalam membangun peradaban Islam.
Setiap kata yang baik adalah sedekah, dan setiap kata yang
menyakitkan bisa menjadi dosa. Maka, mari kita jadikan komunikasi ma’ruf
sebagai ibadah, sebagai jalan membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan
berperadaban.
E. Referensi
1.
Sitka Bella Noviana Putri Harahapa, Strategi Komunikasi Guru Dalam
Mengatasi Bullying di Sekolah.
2.
Wiyanda Widya Ningrum, Strategi Guru dalam Mengatasi Perilaku
Bullying pada Siswa Sekolah Dasar.
3.
Aninda Rahmawati, Strategi Komunikasi Guru dalam Pembinaan Akhlak
Peserta Didik.
4.
Al-Qur’an: QS. Al-Baqarah [2]: 263, QS. An-Nisa [4]: 5.
5.
Hadits Arbain Nawawi no. 15, HR. Tirmidzi.
Penulis: KH.
Akhmad Yunus, M.Pd.I
Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen. Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen


Post a Comment