Menikmati Gemuruh di Kepala
Para pembuat minuman teh di pedesaan punya satu proses penting yang hampir tidak pernah dilewatkan saat membuat minuman teh, yakni pendiaman. Serbuk teh, baik tabur ataupun celup, didiamkan di air panas beberapa saat. Setelah itu teh baru disajikan.
Pendiaman air teh bisa di
macam-macam tempat, teko, termos, bahkan panci. Tidak jarang gelas juga
digunakan untuk mendiamkan teh. Biasanya gelas berukuran besar. Sehingga teh
bisa dinikmati lama atau dibagi ke gelas-gelas lain yang lebih kecil.
Pikiran manusia juga mirip dengan
minuman teh, kadang-kadang perlu pendiaman. Setelah satu topik ditemukan di
kepala, lalu gemuruh pro-kontra terjadi, tidak langsung kesimpulan diambil. Akan
tetapi gemuruh itu dinikmati lewat menelaah setiap input yang masuk, bahkan
input yang ekstrem sekalipun.
Sekali lagi semua input itu ditelaah.
Celaan atas tiap input yang masuk hampir tidak ada. Meskipun demikian dzikir
ikut mengawal. Jika input positif masuk, hamdalah diucapkan dalam hati. Jika sebaliknya,
maka istighfar dan tasbih dihadirkan.
Kadang saat gemuruh masih bersuara
di kepala, bacaan ditambah. Alhasil input yang masuk ke kepala bertambah pula. Gemuruh
semakin dahsyat. Namun anehnya gemuruh sekarang terasa lebih asyik. Ada kenikmatan
tersendiri ketika gemuruh bertambah seru, saat input baru menyusul masuk.
Setelah beberapa waktu berlalu, gemuruh mulai luruh. Hening mulai tercipta. Saat itulah kesimpulan mulai terlihat, ibarat hilal di tiap tanggal satu bulan Hijriyah. Kesimpulan itu kemudian ditimbang dan ditingkatkan menjadi keputusan.
Demikian proses yang sering terjadi pada orang yang masih memiliki cukup waktu berpikir.
Berbeda dengan orang yang waktunya sempit, berpikir itu satu proses yang hampir tidak pernah dilakukan. Akibatnya banyak keputusan yang tidak matang. Dampaknya juga sering tidak bagus. Kualitas hidupnya belum mencapai standar cukup baik.
Oleh karena itu penting kiranya setiap insan memiliki cukup banyak waktu untuk berpikir. Salah satu caranya dengan pola antisipatif. Sebelum sesuatu terjadi, pikiran sudah mulai merekonstruksi.
Memang kesannya terlalu takut
terhadap masa depan. Tidak masalah jika ada anggapan seperti itu. Karena hal
terpentingnya adalah menguatkan syukur kepada Allah ta’ala atas nikmat pikiran, seperti apapun kualitasnya. Kesyukuran itu lalu ditambah dengan bacaan atau
tayangan berkualitas.
Dengan terus berpikir, semoga banyak
opsi muncul. Selanjutnya ada satu opsi baik yang dipilih. Dampaknya baik, bukan
hanya kini tapi juga seterusnya. Istilahnya berkelanjutan, sustainable.
Mungkin banyak kesalahan dari
pikiran. Walaupun demikian dengan rasa syukur, semoga pikiran berada di jalan
yang benar. Hasilnya nikmat dan menyehatkan, selayak minuman teh yang dibuat para
ahli minuman teh pedesaan.
Wallah a’lam.



Post a Comment