Deviasi, Problema dan Indahnya
Mana nih alumni SMA jurusan IPA? Yuk kumpul, kita reunian sebentar. Kita kenang satu istilah yang pernah kita pelajari dulu: Paralaks.
Yap, ada dua pengertian tentang paralaks. Sementara yang akan kita obrolkan adalah kesalahan paralaks, yakni kesalahan penetapan hitung karena sudut penglihatan terhadap alat ukur tidak tegak lurus.
Misalkan kita ukur satu benda dengan penggaris. Saat mata kita tegak lurus, kemungkinan kita menetapkan hasil pengukuran di angka 10,3 cm. Tapi karena kita melihat penggaris agak miring, maka jadinya kita menetapkan 10,5 cm.
Cuma 0,2 cm saja, kok ribut? Eits, ini bukan masalah 0,2 cm-nya namun akurasi. Apalagi jika ada kelanjutannya, akurasi yang kurang presisi bisa menimbulkan masalah. Misalkan tiap 0,1 cm dihargai Rp500rb. Berarti kerugian sebesar Rp500rb x 2 alias Rp1jt terjadi. Kalo nilai kerugian lebih besar, parah banget.
Dari sinilah satu hal perlu diperhatikan: Deviasi.
Secara leksikal, deviasi berarti penyimpangan. Ada macam-macam deviasi, salah satunya kelebihan hasil pengukuran seperti pada kasus yang telah diceritakan. Semakin miring penglihatan, yang artinya sudutnya semakin lebar, kelebihan hasilnya bisa semakin besar.
Deviasi lainnya adalah deviasi sudut. Dua garis yang membentuk sudut, awalnya jarak antarujung garis dekat saja. Tapi ketika dua garis ini ditarik semakin panjang, jarak antara kedua ujung garis semakin jauh.
Dalam kehidupan sosial (halo alumni IPS...!), deviasi terjadi pada penyimpangan konten kebijakan. Pembuat awal regulasi bermaksud A. Namun semakin ke hilir, konten regulasi berubah jadi B, C, bahkan D; alias menyimpang jauh.
Deviasi lain terjadi di pergaulan sosial. Katanya sayang teman, tapi ucapannya sering kasar. Rasa sayang tidak tersambung baik dengan ekspresinya. Uniknya pergaulan tetap erat. Bagaimanapun pergaulan model devian seperti ini lebih banyak toksiknya, bahaya.
Paling mengerikan ketika deviasi terjadi di ranah agama (assalamu'alaikum alumni agama...!). Patung yang tadinya untuk mengenang orang shaleh, lama-kelamaan jadi sembahan. Syirik merajalela. Betul sekali, ini terjadi di kaum yang didakwahi Nabi Nuh 'alaihissalam.
Fenomena lainnya itu ta'aruf berujung pacaran. Awalnya cuma pingin saling tukar data dan konfirmasi, malah keterusan ke arah yang kurang pas. Tadinya cuma lewat gawai, tapi setelahnya ketemuan darat.
Demikian berbagai deviasi alias. penyimpangan.
Meskipun demikian deviasi tidak selalu bermakna negatif. Paling tidak fenomena pelangi dijelaskan sebagai deviasi cahaya. Oleh karena itu, sebenarnya, jika kaum LGBT menyimbolkan diri dengan pelangi maka sebenarnya mereka mengakui bahwa ada penyimpangan pada perilaku mereka. Tetapi, as we know, mereka itu ... begitulah, bisa panjang itu mendeskripsikan ketidaklurusan logika mereka.
Lebih dalam, semoga kita semakin mencintai ilmu. Kita juga bisa menerapkan ilmu dalam berbagai sisi kehidupan (berapa sisi sih kehidupan itu?).
Oke deh. Sebelum pertanyaan semakin banyak, artikelnya kita cukupkan dulu.
Wallah a'lam.



Post a Comment