Bergaul Sehat di Sirkel Terserak
Kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah memudahkan setiap orang berkomunikasi. Pesan-pesan lebih mudah tersampaikan. Bentuknya bisa beragam. Ada suara, tulisan, gambar, hingga video. Sifatnya juga tidak monoton satu arah. Interaksi tepat waktu sangat mungkin.
Kecanggihannya tidak cukup sampai di situ. Cakupan komunikasi saat ini tidak hanya privat, satu ke satu, tapi bisa juga kolektif. Seratus bahkan seribu orang berkomunikasi tepat waktu tidak sulit. Pokoknya jagad komunikasi sedemikian ramai.
Dalam kemudahan komunikasi tersebut, pergaulan lebih mudah terjalin. Pergaulan lokal, nasional, hingga global relatif mudah sekarang ini. Sangat beda dengan zaman dulu, saat telpon ke luar kota atau luar negeri memerlukan kode angka khusus.
Lingkar pergaulan atau sirkel akhirnya terbentuk atas beberapa dasar, dari sifatnya santai hingga formal. Sirkel santai terbentuk antara lain dari tongkrongan. Sementara sirkel formal terbentuk antara lain dari tempat kerja.
Anggota sirkel juga berasal dari berbagai latar belakang: Agama, suku, profesi, kompetensi, dan sebagainya.
Keragaman ada di hampir semua sirkel. Ini tantangan sekaligus peluang. Tantangannya adalah menyatukan pemahaman dan menghindari konflik. Sementara peluangnya adalah ruang belajar semakin terbuka.
Dalam hal ini setiap insan diharapkan membangun literasi pada dirinya. Literasi tidak hanya membaca, tapi seseorang membuka diri terhadap berbagai sumber informasi untuk kemudian menyerapnya secara selektif. Sasarannya tidak hanya buku. Berbagai media merupakan sasaran literasi, dari sebuah simbol hingga video yang kompleks. Bahkan pengamatan terhadap sebuah diskusi tidak lepas dari dari literasi.
Tentu seseorang membutuhkan tahapan dan waktu agar literasinya berkualitas. Asalkan ikhtiarnya konsisten, insya Allah, literasinya semakin membaik. Dampaknya terasakan.
Salah satu dampaknya adalah relevan dalam pergaulan. Ia bisa bersikap relatif pas. Mungkin di satu sirkel, ia perlu tegas. Sementara di sirkel lain, ia masih bisa memberikan toleransi.
Cara mengungkapkan sikap juga cenderung pas. Kadang candaan digunakan. Di lain waktu kalimat lugas dan tenang dituturkan.
Relevansi ini sangat mungkin. Karena seseorang memiliki nilai-nilai yang kuat sebagai batasan. Di sisi lain ia memiliki kemampuan berkomunikasi efektif. Keduanya berpadu dengan sangat baik.
Ada pihak menyalahkan seseorang yang menganut nilai-nilai dengan kuat sebagai batasan. Fanatik, munafik, dan alim merupakan tiga kata ejekan yang sering dilontarkan. Padahal setiap orang punya hak untuk membangun nilai diri, asalkan tidak merugikan diri sendiri serta orang lain.
Berbeda jika nilai yang dimilikinya merusak diri dan orang lain. Nilai seperti itu harus dibuang. Penganutnya perlu disadarkan.
Justru di era teknologi yang serba canggih, nilai harus semakin kuat. Karena berbagai input terus masuk. Nilai berfungsi sebagai saringan. Input baik diambil, sedangkan input buruk dibuang.
Konsistensi ikhtiar tersebut, memilah baik dan buruk, semoga mengantarkan setiap insan supaya memiliki kecepatan hidup tanpa resiko celaka. Semuanya lancar. Tak ada hambatan. Berbagai penjuru dunia didatanginya meski sebagiannya mungkin virtual.
Wallah a'lam.


Post a Comment