Cinta, Benci, dan Gradasi Rasa Keduanya
Kehidupan insan itu kompleks. Melihatnya tidak bisa hitam-putih, benar-salah, ataupun baik-jahat. Kadang melihatnya antara benar dengan lebih benar; baik dengan lebih baik. Ada gradasi di situ.
Bahwa tidak cinta bukan berarti benci. Tidak cinta bisa bermakna teman biasa, tidak terlalu dekat namun juga tidak terlalu jauh. Ibarat garis bilangan, benci berada di titik negatif sedangkan cinta di titik positif. Tengah-tengahnya ada nol. Nah, perasaan biasa alias tidak cinta dan tidak juga benci, itulah titik nol.
Memaksa setiap orang untuk cinta atau benci bermakna menariknya ke titik tertentu. Ini tidak gampang. Kadang rasa sakit akhirnya muncul.
Bagaimanapun cinta punya sunnatullah tersendiri. Selain perbuatan baik, potensi kecocokan antarinsan tidak bisa diabaikan sebagai variabel utama pembangun cinta. Sementara itu potensi kecocokan dibangun di atas banyak hal semisal latar belakang keluarga serta kepribadian.
Dengan demikian fenomena geng atau kubu-kubuan yang memaksa anggotanya untuk segera cinta dan setia kepada geng, di saat bersamaan membenci geng lain, ini hanya bersifat fatamorgana. Dari luar kokoh, tapi di dalamnya ada kelemahan. Suara di lubuk hati terdalam, sebenarnya, mengajak untuk menolak segala bentuk geng atau kubu.
Apa yang diinginkan adalah kewajaran. Bila memang rasa cinta itu ada, biarlah tumbuh dengan wajar. Semoga ke depan cinta itu membesar. Bila memang rasa benci itu terbersit, biarlah di tempatnya dulu. Semoga ke depan benci itu berkurang.
Setali dua uang dengan fenomena kubu-kubuan adalah kerukunan yang palsu di satu komunitas. Seakan senyum menggambarkan rasa rekat dan dekat, padahal sesuatu yang hambar memenuhi hati. Syukur jika masih hambar, karena tidak mustahil kedengkian serta kebencian menyeruak di sana.
Ibarat uap panas, kedengkian serta kebencian kemudian menimbulkan luka. Seiring waktu, luka itu semakin meradang. Nyeri semakin menyiksa. Namun apalah daya, senyum perlu tetap terkembang.
Bukan berarti seluruh benci dan dengki mesti diungkapkan. Sebagaimana telah disampaikan, biarkan keduanya tetap di tempatnya untuk kemudian diharapkan layu. Seiring menunggu layunya benci dan dengki, tak perlulah kiranya senyum dipaksakan. Cukup sekedar sapa.
Apabila rasa benci dan dengki terus ditekan, sementara senyum dimanipulasi, dikhawatirkan luka semakin berat. Setiap insan akhirnya mengalami keterpecahan diri, tidak sambung antara keinginan diri dengan keharusan berekspresi. Akhirnya hidup jauh dari bahagia.
Sekali lagi, satu kebijaksanaan untuk melihat hidup manusia dalam gradasi. Biarlah rasa di dalam hati bergeser-geser di dalam gradasi itu. Mungkin saat ini lebih banyak negatif, besok positif; atau sebaliknya.
Tidak masalah pergeseran dinamis berlangsung di dalam gradasi rasa. Asalkan seorang insan menyadarinya. Kemudian ia mengelola agar pergerakannya tidaklah ekstrem alias berada di rentang wajar. Semoga keutuhan diri tumbuh setelahnya. Kualitas hidup meningkat. Bahagia dapat dipeluk sepenuh kesyukuran.
Wallah a'lam.


Post a Comment