Fasilitas di Rumah sebagai Apresiasi Islami
Seorang ayah diminta putrinya yang sudah
remaja untuk memasang pintu-pintu kamar, khususnya kamar sang putri. Sang ayah
kaget, bingung, tapi juga senang. Kaget dan bingung, karena uang untuk
membuatkan pintu masih perlu dianggarkan. Di tabungan ada uang tapi sang ayah
ingin rehat dulu dari kegiatan bangun-membangun, termasuk pintu kamar. Capek
pikiran, badan, dan pendanaan terasa belum kelar. Sementara rasa senang lahir
karena sang putri semakin sadar tentang aurat. Alhamdulillah sang putri
sudah mengerti dan terbiasa menutup aurat di tempat-tempat yang semestinya.
Kesadaran yang semakin baik tentang
aurat tentu perlu diapresiasi. Sedangkan apresiasi terbaik saat ini satu saja:
Membuatkan pintu kamar.
Beberapa hari perihal ini dipikirkan
sang ayah. Dialog dengan sang istri juga dilakukan. Akhirnya pintu dipesankan.
Dalam beberapa waktu yang tidak lama, pintu kamar sudah dipasang.
Selama proses pemesanan dan
pemasangan pintu, sang ayah mengajak sang putri berdialog. Bahwa benar pintu
kamar akan menutup aurat lebih baik. Di sisi lain proses mengingatkan shalat
mungkin akan lebih sulit. Kerjasama orangtua dan anak perlu lebih dikuatkan.
Sang ayah meminta sang putri berkomitmen untuk mudah diingatkan shalat
sebagaimana biasanya. Komitmen yang sama juga diberlakukan terkait belajar dan
penggunaan handphone. Alhamdulillah sang putri setuju.
Sikap sang ayah bijaksana, seimbang,
tidak ekstrem. Ia tidak langsung mengiyakan permintaan putrinya, tapi juga tidak
langsung menolak. Ada proses timbang-menimbang. Sebanyak mungkin sisi ditelaah,
minimal tiga sisi: Syariat, moral, dan keuangan.
Sisi syariat bermakna fasilitas
perlu mendukung pelaksanaan syariat. Sisi moral berkaitan dengan baik tidaknya
dampak kepada mental anak khususnya, dan keluarga umumnya. Sedangkan sisi
keuangan, jelas ini berkaitan dengan ketercukupan uang.
Dengan mempertimbangkan banyak sisi,
semoga pengadaan fasilitas berdampak positif: Aurat semakin tertutup, belajar lebih
fokus, dan shalat sunnah semisal Tahajjud lebih khusyu’.
Di sini dapat dimengerti maksud dari
peradaban Islam, yakni keterhubungan benda dengan kebaikan kehidupan manusia. Jika
suatu benda membawa kebaikan, maka wajib diadakan. Sebaliknya, jika suatu benda
membawa keburukan, wajib tidak diadakan.
Kebaikan yang dimaksud bersifat
luas. Dalam cerita yang telah disampaikan, kebaikan yang diantarkan bersifat syariat
dan moral. Lebih jauh kebaikan yang bersifat estetika tidaklah dilarang, tentu dengan maksud yang baik. Salah satunya menjaga hati untuk senantiasa bersyukur kepada Allah ta'ala. Semoga hidup semakin berkualitas, tercermin dari akhlak yang semakin mulia.
Wallah a’lam.


Post a Comment