Mengenali Titik Awal Setiap Insan


Setiap orang terlahir dari seorang ibu, kecuali Nabi Adam 'alaihissalam. Allah ta'ala kemudian memberikan apa yang diberikan-Nya. Ada insan yang diberi kelengkapan sebagaimana biasanya, namun ada juga berkekurangan.

Lebih jauh ada insan dengan keluarga dan harta yang cukup. Ada yang salah satunya saja cukup. Ada juga yang kekurangan di keduanya.

Dalam hal ini ada titik awal yang berbeda di tiap insan. Menghadapinya, dua sudut pandang diperlukan: Sudut pandang pelaku dan pengamat.

Selaku pelaku hendaklah segalanya diawali dengan syukur. Berikutnya menggunakan apa yang telah Allah ta'ala karuniakan untuk berkembang lebih baik. Hari ini diupayakan untuk sebuah titik peningkatan digapai.

Tidak perlu muncul pikiran untuk mengalahkan orang lain. Karena, sebagaimana telah disampaikan, titik awal setiap orang berbeda. Pikiran mengalahkan orang lain berpotensi melahirkan banyak pikiran lain yang cenderung negatif.

Salah satu pikiran cenderung negatif itu adalah lalai membangun jalur pengembangan sendiri. Akhirnya hidup senantiasa diisi dengan banding-membandingkan. Energi terbuang percuma.

Berbeda dengan berkompetisi dengan diri sendiri. Keunggulan pribadi yang ingin dikembangkan ditetapkan lebih dulu. Berikutnya target ditentukan. Lalu langkah-langkah pengembangannya dirancang. Saat suatu hasil sudah digapai, reviu atas hasil tersebut dapat dilakukan: Sudah sesuai dengan target atau belum.

Dalam perjalanan mengembangkan diri, berbagai kesulitan kerapkali ditemui. Doa kemudian dipanjatkan kepada Allah ta'ala. Terus begitu, hingga kedekatan dengan-Nya semakin lekat.

Demikian pula dengan diri sendiri, keakraban lebih terjalin. Pengenalan kekurangan serta kelebihan semakin terbentang. Kemakluman dan rasa sayang kepada diri sendiri menguat. Ada sisi damai dalam hidup yang kemudian terasakan.

Sudut pandang lain, selain pelaku, adalah pengamat atau orang luar. Dalam hal ini seseorang memberikan komentar atas situasi orang lain. Saat memberikan komentar, sang komentator mungkin sudah memiliki informasi lengkap, mungkin juga belum.

Tentu sangat baik jika komentar diberikan saat informasi sudah lengkap. Sehingga komentar relatif relevan. Bahkan mungkin masukan positif ditemukan di sela-sela komentar.

Berbeda dengan komentar tanpa penguasaan informasi yang lengkap. Relevansinya lemah. Hampir tidak ditemukan sisi positif dari komentar, bahkan tak jarang konflik dimulai dari sini.

Sisi lain yang perlu dikuasai oleh seorang pemberi komentar adalah logis. Bahwa membandingkan dua orang tanpa titik awal sama dan kendaraan sama bukanlah perbandingan setara. Istilahnya tidak apple to apple. Perbandingan model ini mengacaukan konstruksi berpikir yang sistematis.

Perbandingan model tersebut juga berpotensi merendahkan berbagai ikhtiar yang telah diupayakan orang lain. Seakan-akan semua ikhtiar itu tidak pernah dilakukan. Padahal mungkin hampir seluruh nafas telah dikerahkan.

Akan lebih bijak jika perbandingan dilakukan dengan melibatkan potensi dan ikhtiar personal masing-masing. Apa yang dimiliki seseorang dan sejauhmana ikhtiar dilakukan dengan semua yang dimilikinya, keduanya disandingkan lalu dibandingkan. Jika seluruh sumber daya dan kemampuan telah dikerahkan, maka cukuplah ia dinyatakan sebagai pejuang sukses. 

Mungkin Allah ta'ala takdirkan hasilnya sangat bagus, bagus, ataupun kurang bagus. Dalam hal ini seorang pengamat lebih baik membesarkan hati orang yang diamati. Komentarnya positif. Insya Allah buah komentarnya juga akan positif.

Dua sudut pandang yang telah dipaparkan semoga dapat dipahami dengan seksama. Agar hidup tidak kehilangan nyala semangatnya. Agar hidup senantiasa terhubung dengan kasih sayang yang menentramkan; kasih sayang dari semua pihak, terutama Allah ta'ala.

Wallah a'lam.


Powered by Blogger.
close