'Tajwid' Kehidupan



Dua kunci keindahan dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an, selain mengenali huruf-huruf hijaiyah, adalah kepatuhan seorang pembaca terhadap sifat-sifat huruf dan kaidah tajwid. Sifat-sifat huruf mengantarkan sang pembaca untuk optimal dalam mengartikulasikan huruf demi huruf. Sementara tajwid mengantarkan sang pembaca untuk melantunkan bacaan secara tepat berdasarkan interaksi yang terjadi pada huruf. Dua interaksi huruf yang paling penting adalah huruf dengan harakat, serta huruf dengan huruf.

Selain indah, lantunan bacaan Al-Qur'an yang memperhatikan sifat-sifat huruf dan tajwid akan menimbulkan kelanjutan bunyi. Istilahnya tartil. Bunyi tidak terhentak karena putus, tapi mengalir dalam alunan yang terjalin satu sama lain.

Dari tajwid yang mengantarkan bacaan pada keindahan alunan tak putus, satu pelajaran dapat diambil. Bahwa memahami sifat tiap hal dan hukum interaksi antarhal berpotensi mengantarkan seseorang dalam alunan hidup yang relatif indah tanpa henti, persis bunyi sebuah ayat, "Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia." (Terjemah Q.S. Ali Imran: 191)

Mari lebih konkrit. Ambil misal, amal shaleh. Seseorang perlu tahu karakteristik amal shaleh agar menjalankannya secara tepat. Ini semisal dengan pengetahuan terkait sifat-sifat huruf. 

Berikutnya seseorang perlu memahami apa yang terjadi jika amal shaleh ini berinteraksi dengan amal shaleh lainnya, atau amal salah. Jika antaramal shaleh berinteraksi, maka kebaikan lebih besar akan terbentuk. Sedangkan jika amal shaleh berinteraksi dengan amal salah, maka amal shaleh bisa rusak.

Contoh yang lebih konkrit dapat dideskripsikan sebagai berikut. Seseorang yang telah shalat akan mendapatkan keutamaan berlipat jika mengiringinya dengan khusyu'. Adapun jika diiringi dengan riya', maka shalat akan rusak. Dalam hal ini istighfar dan taubat perlu segera disusulkan. Semoga tetap ada ketundukan yang terjaga. Rasa nikmat masih tersisa.

Contoh konkret lainnya pada interaksi antarorang. Orang baik dengan orang baik bisa menimbulkan semangat kebaikan yang besar, sehingga berpotensi menghasilkan kebaikan yang besar tanpa henti. Sementara orang baik dengan orang buruk bisa menimbulkan konflik. Energi emosi berpotensi habis. Tak ada kebaikan yang bisa diwujudkan.

Sementara contoh konkrit yang agak kompleks sebagai berikut. Seorang pendiam diketemukan dengan orang pendiam lainnya, yang terjadi berikutnya bisa ditebak, kemungkinan besar adalah keheningan. Berbeda jika sang pendiam diketemukan dengan orang supel, situasi yang tercipta mungkin sedikit hangat. Sedangkan situasi orang supel bertemu orang supel lainnya, sepertinya akan terjadi 'ledakan'.

Sebuah titik tolak perlu dipijak seorang insan untuk menguasai apa yang bisa diistilahkan dengan 'tajwid' kehidupan. Titik tolak itu adalah belajar. Awalnya ia dibimbing guru. Berikutnya secara bertahap ia belajar dengan semi mandiri.



Saat dibimbing guru, seseorang belajar dengan arahan dan tuntunan guru. Sementara di tahap semi mandiri, ia menjalani aktivitas yang berbeda. Dalam hal ini ia membaca detail kehidupan. Lalu ia melakukan telaah sendiri. Berikutnya ia mengonfirmasikan hasil telaahnya kepada para guru untuk mendapatkan respon.

Respon ini penting. Karena dengan respon dari para guru, seorang insan yang sedang belajar dapat membangun pemikirannya jauh lebih mantap ketimbang sebelumnya. Kemantapan ini, apabila diteruskan, berpotensi melahirkan kebijaksanaan. Di titik ini seorang pembelajar mulai meningkat, kini menjadi pembelajar mandiri.

Sebagai pembelajar mandiri, seseorang diharapkan mampu menjalin berbagai detail kehidupan dengan tepat. Sehingga keindahan terus mengalun. Bukan hanya dirinya yang menikmati, tapi juga orang lain sekitarnya. 

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close