Membangun Masa Depan dengan Kesadaran
Setiap bincang masa depan, hampir selalu ada tiga kubu. Kubu pertama adalah pencemas, cenderung pesimis dengan masa depan. Kubu kedua penuh optimisme, yakin tentang kegemilangan masa depan. Sementara kubu ketiga berusaha seimbang bahwa masa depan memiliki dua potensi sekaligus, masalah dan peluang.
Kubu ketiga tidak menyalahkan dua kubu yang berbeda dengannya. Justru kedua kubu tersebut diberdayakan. Mereka didengarkan dengan seksama untuk selanjutnya dicari titik-titik yang bisa dikorelasikan.
Kubu ketiga tidak merasa sebagai pahlawan super. Bahkan mereka menempatkan diri sebagai pembelajar. Mereka menyerap berbagai masukan kemudian merefleksikan sesuai kemampuan.
Hasil refleksi yang telah dicapai tidak dianggap sebagai sesuatu yang final. Kapanpun selalu terbuka revisi atas hasil refleksi. Dinamisasi senantiasa diikhtiarkan terjadi.
Terlihat seakan tidak ada ketegasan. Akan tetapi ibarat pohon yang terbiasa mengikuti arah angin tanpa rubuh, ada akar yang kokoh di dalam tanah. Demikian pula orang-orang yang senantiasa dinamis, terlihat mengikuti arus tapi tetap ada pijakan kokoh yang dimiliki.
Pijakan kokoh tersebut adalah kesadaran, mencakup berbagai perihal. Pertama, kesadaran tentang diri sendiri. Kedua, kesadaran tentang orang lain. Ketiga, kesadaran tentang kehidupan.
Terkait diri, ada kesadaran bahwa dirinya memiliki nilai. Allah ta'ala telah menciptakannya. Pasti ada maksud di situ, dan pastinya bukan dengan maksud menghinakan justru memuliakan. Karena diri diciptakan bersama potensi diri yang melimpah.
Dengan kesadaran ini, berbagai perbuatan baik dilakukan. Di rumah, masyarakat, dan dimanapun, kebaikan senantiasa dilakukan. Prioritas kebaikan dikenali. Kebaikan wajib dituntaskan setuntas-tuntasnya, berikutnya kebaikan sesuai kemampuan.
Kesadaran atas nilai diri juga mendorong pemiliknya belajar terus-menerus. Bisa di kelas, namun belajar bisa juga di luar kelas. Kehidupan merupakan ruang belajar yang teramat luas, berbagai pembelajaran dapat dilakukan.
Berikutnya kesadaran terkait orang lain, ini sebuah pijakan yang mengantarkan pemilik kesadaran untuk menghargai orang lain. Bahwa mereka juga bernilai dan layak dihormati karena Allah ta'ala telah menciptakan mereka. Menghinakan mereka tanpa alasan yang dibenarkan sama dengan menghinakan Sang Pencipta.
Berdasarkan kemuliaan sesama manusia, kesetaraan dan kerja sama dibangun. Tidak ada penjajahan satu manusia kepada manusia lain. Bahkan jika mungkin, justru diupayakan saling dukung dalam kebaikan
Di sisi lain tidak tertutup kemungkinan ada orang-orang yang suka berbuat buruk. Kepada mereka ini, kiranya telaah perlu dilakukan. Apabila mereka masih bisa disadarkan, maka layak dijadikan teman. Apabila mereka sulit disadarkan bahwa penyebar keburukan, maka menjauh merupakan satu pilihan yang sangat dianjurkan.
Terakhir, adanya kesadaran tentang kehidupan mengantarkan pemilik kesadaran untuk memandang kehidupan sebagai tempat ujian. Kesenangan itu ujian, demikian juga kesulitan. Oleh karena itu kesiapan senantiasa dibangun, baik mental atau kemampuan berpikir.
Kesiapan tidak hanya dibangun pada diri sendiri tapi juga orang sekitar. Di rumah, keluarga disiapkan, dididik agar senantiasa siap menghadapi berbagai ujian. Di tempat kerja, para staf diberi gambaran besar situasi. Agar gerak langkah mengarah ke tujuan yang sama. Saat terjadi turbulensi, setiap pihak sudah bersiap dengan baik.
Pada akhirnya biarkan masa depan tetap pada kuasa Allah ta'ala, sementara kesadaran dan ikhtiar terus jadi kewajiban insan. Dengan demikian energi insan bisa terarahkan maksimal di jalurnya. Karya demi karya dihasilkan, menjadi kumpulan kebaikan. Sementara Allah ta'ala tak akan abai dengan kebaikan hamba-Nya, sekecil apapun.
Wallah a'lam.


Post a Comment