Sujud Akal
Peristiwa ajaib nan nyata itu bernama Isra' Mi'raj. Ajaib karena perjalanan yang dilalui sangat tidak biasa. Teknologi saat itu tidak bisa melakukannya. Teknologi saat ini juga sama, belum bisa melampauinya.
Nyata karena memang terjadi. Dalil-dalil yang ada menunjukkan kebenarannya. Walaupun diingkari oleh orang-orang yang mengingkarinya, tidak ada pengaruh terhadap kebenaran perjalanan tersebut.
Sangat banyak pelajaran yang dapat dipetik dari Isra' Mi'raj, dari pra hingga pascanya. Satu tulisan tidak memadai sama sekali untuk menjelaskan semua pelajaran yang ada. Mungkin satu buku bisa menampungnya. Itupun dengan tetap membuka peluang keterlewatan, satu dua hal tidak tertulis. Buku lain diperlukan untuk melengkapinya.
Demikian salah satu cara Allah ta'ala mengajari manusia untuk tetap merendah. Seluas-luas manusia ingin mengeksplorasi, tepian yang tidak tersentuh masih terbentang lebar. Sedalam-dalam manusia ingin memperdalam, titik terdalam mungkin tidak akan pernah tercapai. Sekuat-kuat akal berpikir, tetap ada kelemahannya yang perlu diakui.
Dalam hal ini manusia perlu mengizinkan akalnya menyentuh permukaan bumi, bukan hanya dahinya. Karena saat menyentuh permukaan bumi, akal memohon ampun atas segala salah dan lemahnya. Selanjutnya akal memohon petunjuk agar senantiasa waras serta lurus. Pertemuan dengan inspirasi-inspirasi kebaikan tak lupa diharapkannya.
Dalam sujudnya juga, akal berusaha membangun koneksi dengan hati. Agar sensivitas rasa tidak mati, bahkan semakin meningkat. Sehingga akal bisa memperjelas berbagai hal yang tersirat. Empati terbangun. Respon yang diberikan relatif tepat.
Akal juga membangun koneksi dengan tubuh, berharap kerjasama yang lebih baik dalam kebaikan. Agar gejolak penyesalan tidak terjadi kemudian. Tenang dalam setiap detakan detik, itu yang diharapkan.
Tak ketinggalan, akal menghampiri jiwa. Dialog diupayakan, menyadarkan kedua pihak bahwa kekotoran jiwa bisa terjadi kapan saja. Akal dan jiwa perlu bekerja sama agar dosa dan keinginan buruk tidak mengakibatkan kekotoran jiwa. Jika ini terjadi, tidak hanya akal dan jiwa yang limbung, bagian lainnya pun terdampak. Berat memang menjaga jiwa, karenanya berbagai antisipasi direncanakan.
Setelahnya akal mendatangi pintu ruhani. Setelah pintu terbuka dan akal memasuki ruang ruhani, derai airmata mengalir deras. Perasaan rendah semakin mengikat. Doa semakin kuat dipanjatkan.
Akal menyadari ada dua ruang yang mengelilinginya, fisik dan ruhani. Satu ruang mengondisikan akal untuk berhitung, sementara lainnya mengondisikan untuk berpasrah. Kedua ruang ini diikat oleh satu ikatan: Kemungkinan masa depan.
Bagaimanapun kemungkinan masa depan kerapkali misterius. Skenario takdir kadang sulit ditebak. Kebaikan kasat mata tak selalu muncul di setiap sketsa kehidupan. Potensi gejolak dalam diri sewaktu-waktu menjelma menjadi kegamangan.
Akal yang senantiasa sujud, saat kegamangan di depan mata, akan semakin khusyu' di ruang ruhani. Akal berdoa agar keajaiban Isra' Mi'raj diteteskan sedikit untuknya. Tersibaklah berbagai misteri, berganti dengan yakin dan cinta, Allah ta'ala benar-benar ada dan senantiasa ingin kebaikan untuk manusia.
Wallah a'lam.


Post a Comment