Menjelajahi Lapis-lapis Diri Manusia
Nabi Ibrahim 'alaihissalam, sebagaimana dalam Al-Qur'an surat Hud ayat 75-76, mendebat para malaikat yang akan menimpakan hukuman kepada kaum Sodom. Ia berharap hukuman tersebut ditangguhkan, semoga kaum Sodom mau segera bertaubat. Selain itu, dan alasan ini jauh lebih penting, adalah keberadaan Nabi Luth ‘alaihissalam di kota Sodom. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam khawatir hukuman itu menimpa siapa saja di kota Sodom, termasuk Nabi Luth ‘alaihissalam.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sangat peduli kepada sesama orang
beriman. Sehingga ia tidak segan mendebat para malaikat yang hanya menjalankan
perintah Allah ta’ala. Kepedulian ini berbuah pujian dari Allah ta’ala, “Sesungguhnya
Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka bertaubat
kepada Allah.”
Satu pelajaran penting yang didapatkan dari sepenggal kisah
ini adalah adanya lapis-lapis diri. Tindakan yang terlihat merupakan lapis
pertamanya. Bisa jadi tindakan tersebut terlihat negatif. Akan tetapi, setelah
ditelaah lebih dalam ke lapis berikutnya, ternyata tindakan tersebut sangat
positif. Sebaliknya mungkin ada tindakan yang terlihat positif, tapi ternyata setelah
ditelaah lebih dalam, penilaian atasnya menjadi negatif.
Di kisah tersebut, terlihat seolah-olah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
tidak beradab dengan mendebat malaikat pelaksana perintah. Akan tetapi bila
ditelaah lebih dalam, tindakan itu dilakukannya karena kepeduliaan yang begitu
kuat. Sehingga refleks, ia melakukan pembelaan.
Dalam hal ini tentu idealnya ada kesamaan antara lapis diri
yang luar dengan dalam. Akan tetapi kadang idealitas sejenis ini tidak dapat dicapai.
Lebih jauh, apabila diurut prioritas, membangun diri di bagian dalam jauh lebih
penting. Sebagaimana dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sebuah energi dahsyat
lahir dari kedalaman diri yang penuh dengan kebaikan.
Sementara itu kedalaman diri lebih banyak dibangun oleh
ibadah batin, semisal berpikir dan berdzikir. Kesemua realitas dan keseluruhan pengetahuan dihubungkan. Lalu diambillah kesimpulan. Berikutnya kesimpulan tersebut
berusaha diamalkan sepenuh penghayatan, berharap kebaikan yang berdampak luas
dapat tumbuh subur.
Sebagai ikhtiar memperkuat ibadah batin, berbagai bacaan
ditelaah. Setelahnya ada konfirmasi pada dalil agama. Hal-hal yang perlu
dibuang akan dibuang, sementara kebaikan akan terus dirawat.
Proses lain kadang terjadi. Dalil agama ditelaah, lalu diderivasi
berdasarkan teori-teori yang ada. Jadilah sebuah bangunan pemikiran. Pemikiran ini
kemudian direlevansi dengan realitas yang ada. Sehingga ilmu tidak mati, tapi
hidup di tengah problematika kehidupan manusia.
Bukan berarti ibadan lahir, seperti shalat, tidak penting.
Akan tetapi ibadah lahir tidak hanya dilaksanakan fisiknya saja. Berbagai
hikmah digali, semisal makna-makna bacaannya. Berikutnya makna-makna tersebut menjadi
panduan dalam membangun keyakinan yang berbuah kebaikan.
Dapat disimpulkan bahwa awal gerakan manusia berasal dari dalam dirinya. Semakin dalam lapis diri manusia distimulus, gerakan yang dihasilkan akan semakin kuat. Di sisi lain, membaca dan menghubungkan berbagai hasil bacaan merupakan aktivitas yang tidak bisa ditinggalkan. Wajar kiranya perintah membaca turun sebagai wahyu pertama,
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah. Dia yang mengajari manusia dengan pena. Dia mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya." (Terjemah Q.S. Al-'Alaq: 1-5)
Sebagai pemantap ikhtiar, kiranya seorang pembimbing hadir. Ia membantu menghubungkan berbagai hasil bacaan ke arah yang benar, menghindari kesalahan. Agar hasilnya benar-benar berbuah kebaikan.
Wallah a'lam.


Post a Comment