Tempat Aktualisasi Hasil Belajar

Laki-laki itu terkejut bukan kepalang. Ia tidak menyangka bakal mendapat respon seperti itu. Apalagi respon tersebut berasal dari seniornya.



Sebenarnya sang lelaki berniat untuk bercerita kepada temannya bahwa saat ini ia sedang belajar satu keterampilan baru. Sang teman ikut senang, mengapresiasi, dan mendukung. Akan tetapi sang senior yang juga ada di situ, ikut dan mendengar lalu merespon, "Untuk apa belajar keterampilan yang aneh-aneh? Nanti kamu pintar sendiri, orang lain tidak. Lalu kamu kesulitan memberikan penjelasan kepada mereka."

Sang lelaki merasa ada yang janggal dari respon sang senior. Di satu sisi ada kebenaran di situ. Kesenjangan keterampilan akan tercipta. Di sisi lain ada keraguan, bukankah belajar perlu dilakukan setiap orang? Jika ada kesenjangan, maka harusnya pihak yang kalah, dia mengejar. Agar tumbuh komunitas pembelajar. Apabila sebaliknya, orang yang unggul tidak lagi belajar, maka terjadilah stagnasi pertumbuhan minat belajar. 

Berbeda jika konteksnya itu tracking atau hiking. Di situasi ini tentu setiap orang perlu bersama. Anggota tim yang unggul kadang perlu menunggu anggota lainnya. Agar keselamatan lebih terjamin.

Sang lelaki membutuhkan waktu berhari-hari untuk menentukan sikap. Akhirnya ia berkesimpulan, belajar perlu terus dilakukan. Akan tetapi dalam kerja tim, ia tetap mengikuti cara kerja yang telah disepakati tim. Ia pun akan mengatur komunikasi, agar saat memberi masukan, tim tidak tersinggung bahkan berkenan mempertimbangkan masukan tersebut.

Sang lelaki memilah aktivitas belajar dan bekerja. Dalam aktivitas belajar, ia meyakini bahwa berlari itu penting. Agar kapasitas terus tumbuh. Sementara dalam aktivitas bekerja, ia merasa perlu untuk menyesuaikan dengan tim. Kompromi-kompromi mungkin dilakukan di berbagai kesempatan. Demikian juga komunikasi, fleksibiltas menjadi opsi terbaik. Semoga kenyamanan terbangun.

Tempat kerja bukan lagi arena aktualisasi dirinya secara penuh, sebagian saja. Sebagian lainnya akan dicari bahkan dibangunnya sendiri. Tantangan baru terbentang untuknya. Akan tetapi ia justru menemukan semangat baru dalam kehidupannya. 

Ia tidak menyalahkan tempat kerjanya. Ia sadar tempat kerjanya, sebagaimana umumnya, belum terbiasa menyerap cepat ide-ide baru. Yang penting penolakan ide baru tidak terjadi. Tidak apa-apa penyerapan ide baru perlahan.

Sang lelaki menghembuskan nafas lega. Ia bersyukur atas pencerahan yang didapatkan. Lalu dengan tenang ia membuka file-file materi belajar baru.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close