Sketsa-sketsa Kehidupan Dunia

Saat masih kecil, seorang insan hanya punya satu aktivitas penting. Benar, aktivitas itu adalah bermain. Kapan dan di manapun, sesuatu yang terpikirkan hanya bermain.



Saat remaja, seorang insan lebih sering berkumpul dengan teman-temannya. Mengobrol ngalor-ngidul itu aktivitas yang terjadi ketika kumpulan sudah terbentuk. Entah bermutu atau tidak, obrolan terus berlangsung. Jika tak ada kebutuhan biologis, hampir saja obrolan tak menemui garis finish.

Lihatlah kini ia sudah dewasa. Pintu pernikahan telah siap dibuka. Ngobrol dengan teman masih sering berlangsung, tapi terlihat berkurang. Saat ini ia lebih sering menyendiri. Berdandan jadi aktivitas utama ketika sendiri. Apabila nampak kucel, hampir dapat dipastikan ia malu, terutama kalangan perempuan.

Beranjak di tahapan usia berikutnya, ia kini sudah memiliki keuangan yang mapan ketimbang dulu. Penampilannya semakin berkelas. Tak segan ia membelanjakan cukup banyak uang hanya untuk menjaga prestise. Padahal jika dipikir lebih dalam, dengan uang lebih sedikit, ia bisa memperoleh barang dengan fungsi yang sama. Namun memang prestisenya tidaklah sama.

Semakin bertambah usia, ia berada di tahapan tua. Tubuh mulai melemah. Akal juga demikian. Akan tetapi, ternyata ia belum habis. Ada aktivitas yang masih dilakukan, yakni membandingkan; pengalaman, harta, dan juga jumlah keluarga.

Itulah satu rentetan sketsa kehidupan insan. Ada aktivitas yang rasanya sulit dielakkan. Hampir semua insan melakukannya, sebagiannya dengan penuh syukur dan sebagian lainnya dilatarbelakangi ego.

Dalam hal ini marilah Al-Qur'an dibuka. Ada sebuah ayat yang menyampaikan rentetan sketsa kehidupan insan tersebut, tepatnya ayat ke-20 surat Al-Hadid, "Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, dan sendau gurau, dan perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak."

Kelanjutan ayat itu, "Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kalian lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur."

Oleh karena itu salah satu tugas penting insan adalah waspada terhadap fananya dunia. Tak lama ia akan sirna. Tak perlu berdiri untuk menunjukkan, "Ini aku!!!"

Alih-alih seperti itu, lebih bijak jika seorang insan bersungguh-sungguh dalam kebaikan. Apapun yang baik dilakukannya. Tak peduli di mana dan kapanpun, kebaikan senantiasa fokusnya. Keburukan dijauhinya sejauh mungkin.

Dengan kebaikan yang dilakukan, semoga tabungan amal shaleh bertumpuk. Hasilnya dipanen, tidak hanya di akhirat, tapi juga di dunia. Ia merasakan tenang dan bahagia tak terkira.

Apabila perlombaan duniawi terpampang di depannya, ia tak peduli. Ia merasa perlombaan tersebut sia-sia. Lelah terasa, tapi tidak lillah, sehingga tak akan ada buahnya. Sebaliknya permusuhan bisa terbentuk, walaupun awalnya mungkin kompetisi biasa. Energi terbuang sia-sia hanya untuk perlombaan, entah ujungnya dimana, surga atau neraka.

Apalagi ditantang berlomba duniawi, ia akan buang badan. Lebih baik baginya untuk mempersilakan orang lain maju berlomba. Sementara ia asyik bersama Tuhannya, dalam dzikir dan pikir yang nikmatnya sungguh luar biasa.

Ia tak ingin duniawi, hanya terpaksa karena sejumlah kebutuhan diri, keluarga, dan jihadnya. Diri serta keluarganya butuh makan, minum, pakaian, rumah, pendidikan, dan kesehatan. Sementara jihadnya, yakni membangun kebaikan komunal, butuh kendaraan serta sarana pendukung dengan kualitas mencukupi.

Di titik ini cabang-cabang jalan terlihat. Salah satunya perlu dipilih. Maka mari memilih jalan kebaikan, dunia dan akhirat. Pijakan awalnya adalah pemahaman bahwa dunia ini baru awalan, jangan berhenti, dan jangan terlalu banyak terlibat. Lebih baik teruslah berjalan, walaupun jika terpaksa, harus di tepian kehidupan.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close