Menjaga Keseimbangan Visualisasi



Seiring teknologi desain visual dan komunikasi yang semakin canggih, flyer (selebaran elektronik) semakin bertaburan. Dapat dikatakan tiada hari tanpa flyer menghampiri gadget. Sebagiannya berkualitas baik, sebagian lainnya masih rendah.

Fungsi utama flyer, sebagaimana jamak diketahui, adalah mempublikasikan beragam informasi. Informasi pra, pasca, dan hasil kegiatan, semua bisa disampaikan lewat flyer. Sifatnya bisa formal atau nonformal.

Meskipun demikian flyer memiliki keterbatasan dalam menceritakan proses secara utuh. Foto/gambar yang ditampilkan bersifat statis atau diam. Pengamatan dan pengetahuan konteks foto/gambar menjadi penting dalam memahami cerita yang sedang dinarasikan oleh flyer.

Dalam hal ini satu fenomena mengemuka: Glorifikasi flyer. Flyer dibuat semegah atau sehebat mungkin. Akan tetapi pada kenyataannya apa yang terjadi jauh dari kemegahan atau kehebatan flyer.

Kritis diperlukan dalam situasi ini. Menelan mentah-mentah kesan dan pesan dari flyer bukanlah sikap bijaksana. Alih-alih demikian, lebih baik tabayyun/konfirmasi dilakukan. Berbagai informasi dikumpulkan, ditata, disimpulkan, lalu disikapi.

Informasi yang dimaksudkan mencakup semua jenis informasi, mungkin online atau mulut ke mulut. Sebagaimana telah disampaikan, semua informasi itu dikumpulkan dan ditelaah. Informasi tidak valid dibuang, sementara yang valid terus dijadikan pijakan dalam bersikap.

Menumbuhkan sifat kritis tidaklah mudah, apalagi di masyarakat yang mengorientasikan diri sebagai masyarakat guyub. Sifat kritis, ditandai dengan mempertanyakan banyak hal, dinilai mengganggu stabilitas dan kerukunan masyarakat. Sehingga kerapkali sifat kritis dibungkam, sedari anak-anak masih sangat berusia dini.

Meskipun demikian tidak ada yang salah dengan kritis. Hal ini dikarenakan kritis senafas dengan Tauhid. Kritis mengantarkan pemiliknya mempertanyakan berbagai sesuatu yang sudah terlanjur dianggap benar.

Di sisi lain Allah ta'ala telah menyiapkan berbagai jawaban atas semua pertanyaan kritis insan. Sehingga insan yang benar-benar kritis akan mendapatkan kepuasan atas dahaga pemikirannya. Jika tidak begitu, maka ada dua kemungkinan di sana: Kritisnya bukan kritis sebenarnya tapi hanya ego, atau kritis semu yang membalut kebodohan.

Lebih jauh Islam mengantarkan seseorang untuk imbang, begitu pula dalam sifat kritisnya. Ia tidak kritis kepada orang lain saja, tapi juga dirinya. Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 135 menyampaikan,  "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian."

Dengan kritis kepada dirinya, dalam konteks flyer, proporsionalitas akan senantiasa diperhatikan. Impresi memang diharapkan lahir dari flyer, tapi bukan impresi semu. Karena kadang setelah impresi semu, lahirlah kecewa di hati orang yang melihat flyer. Ada semacam perasaan tertipu.

Sementara orang beriman tidak akan pernah menipu, atau mengantarkan orang lain merasa tertipu walaupun segores kecil.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close