Itsar dalam Berkomunikasi
Itsar bermakna mendahulukan orang lain ketimbang
diri sendiri. Dalil yang mendasarinya, salah satunya, Al-Qur'an surat Al-Hasyr
ayat 9, “Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap
apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan
(orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam
kesusahan.”
Itsar memiliki banyak manfaat, terpentingnya sebagai
perekat sosial. Potensi konflik dapat diminimalisir. Sementara kebaikan dapat
disokong bersama-sama. Masyarakat memiliki kehidupan yang berkualitas prima, material
ataupun mental-spiritual.
Link terkait: https://www.fahma.net/2025/12/itsar-dan-kerekatan-sosial.html
Itsar dapat mewujud dalam berbagai praktik
kehidupan. Salah satunya dalam hal komunikasi. Dengan itsar, seseorang
akan memberikan ruang dengar yang luas kepada rekan bicara untuk berbicara.
Menyimak dilakukannya dengan serius. Setelah itu ada respon yang proporsional
dan relatif presisi.
Link terkait: https://www.fahma.net/2025/12/mendengarkan-dan-merespon-bincangan.html
Menyimak
bukan pekerjaan ringan. Tidak sekedar keterampilan, menyimak membutuhkan
kesungguhan hati memberikan fokus. Semoga rekan bicara merasa diperhatikan.
Sehingga perasaan berharga dan disayangi tumbuh dalam dirinya.
Perasaan
berharga dan disayangi di era ini sangat mahal. Kasus-kasus bunuh diri
akhir-akhir ini, misalkan, banyak didasari pada perasaan tidak berharga serta
jauh dari rasa disayangi. Kecukupan harta benda dan penampilan menarik ternyata
bukan jaminan bahwa ada hati jiwa yang kosong di dalamnya.
Tragis
memang. Peradaban bendawi saat ini yang maju ternyata tidak sejalan dengan
peradaban ruhani. Bahkan mulai terlihat dua arah berlawanan, satunya majunya
sementara satunya mundur.
Kembali ke
perihal itsar dalam komunikasi. Seseorang dapat itsar dalam
berkomunikasi jika memiliki fondasi berkomunikasi yang kuat, yakni pengalaman
bahagia semasa kecil bersama orangtuanya. Orangtuanya mau mendengarkan dengan
seksama serta meresponnya dengan baik. Ia juga tidak pernah atau sangat jarang
direndahkan oleh sang orangtua.
Kemudian fondasi
berkomunikasi tersebut diperkokoh dengan kesadaran iman. Lahirlah perilaku
saling tertib bahkan saling mendahulukan, termasuk dalam hal komunikasi. Tidak terlihat
perilaku egois yang bengis.
Keluarga
memang awal tolak, lahan pembibitan. Sosok yang telah terbangun kualitasnya di
keluarga akan semakin baik kualitasnya jika disempurnakan dengan iman. Dasarnya
hadits riwayat Bukhari dan Muslim, “Orang-orang terbaik di antara kalian saat
jahiliyah akan terus menjadi orang-orang terbaik di antara kalian saat sudah
masuk Islam, jika mereka memahami (Islam).”
Jika orang-orang jahiliyah yang unggul saja akan tetap menjadi orang-orang unggul setelah masuk Islam, maka orang-orang yang dari awal sudah Islam tentu akan lebih unggul lagi.
Demikian kurang lebih pemahaman dari hadits tersebut, menjadi
motivasi agar pembangunan kualitas dibangun sedari kecil. Dalam hal ini
termasuk kualitas berkomunikasi.
Dari sini
dapat ditemui beragam realitas. Ada sosok penuh iman, terbiasa itsar,
dan terampil berkomunikasi. Ada sosok penuh iman, terbiasa itsar, namun
masih perlu meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Ada sosok yang iman dan itsar-nya
masih perlu dibangun, tapi komunikasinya mantap. Terakhir ada sosok yang iman dan itsar-nya lemah, lemah pula dalam berkomunikasi.
Keberagaman
realitas tersebut perlu disadari. Agar terjadi muhasabah ke dalam diri. Sementara
kepada orang lain, terbangun kemakluman yang luas.
Ada satu
ujian untuk bisa itsar dalam berkomunikasi: Menghadapi rekan bicara suka
didengarkan tapi tidak mau mendengar.
Orang jenis
ini menyebalkan. Dua opsi tersedia. Dia didengar dan direspon ala kadarnya,
atau dia ditegur dengan lembut dan terbuka. Situasi dan kondisi di sekitar
perlu diperhatikan sebelum memutuskan opsi mana yang dipilih.
Terakhir,
budaya itsar dibangun tidak serta merta. Waktu lama kadang diperlukan.
Konsistensi kuncinya.
Dengan seorang insan konsisten di atas itsar, semoga Allah ta’ala tetapkan itsar di dalam dirinya. Internalisasi yang kuat dan berkelanjutan terjadi. Sehingga itsar dan dirinya tak terpisahkan.
Wallah
a'lam.


Post a Comment