Itsar dan Kerekatan Sosial
Seorang rider
motor yang juga dokter spesialis paru-paru pernah menulis di X/Twitter, “Salah
satu kunci selamat berkendara adalah memberikan jalan untuk pengendara lain.”
Tips selamat
ini disampaikannya setelah bertahun-tahun menjadi rider motor.
Alhamdulillah, sebagaimana disampaikannya, tips ini mengantarkannya selamat di
jalan. Sekencang apapun kecepatan, asalkan tips ini dijalankan, insya Allah
keselamatan akan senantiasa menyertai.
Dalam istilah
agama, mendahulukan orang lain disebut itsar. Al-Qur’an surat Al-Hasyr
ayat 9 menyampaikan, “Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati
mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka
mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun
mereka dalam kesusahan.”
Ayat ini
menceritakan satu keluarga Anshar yang rela mendahulukan sejumlah orang
Muhajirin untuk menikmati makanan, padahal makanan itu sudah disiapkan untuk
makan malam keluarga. Alhasil seluruh anggota keluarga tidak makan malam.
Mereka tidur dengan perut kosong.
Motivasi
keluarga Anshar ini bukan sekedar memberi makan orang kelaparan, bukan pula
menghormati tamu. Ada motivasi yang jauh lebih besar, yakni membangun
persaudaraan atas dasar iman. Bahwa Anshar dan Muhajirin merupakan dua kelompok
yang perlu menyatu dalam iman serta ketaatan kepada Rasulullah shallallah
‘alaih wa sallam.
Itsar
berhasil jadi salah satu perekat sosial kala itu. Padahal kala itu ketimpangan
ekonomi sangat jauh. Banyak orang Muhajirin yang hijrah ke Madinah dalam
kondisi tidak membawa apa-apa. Sementara orang-orang Anshar memiliki kekayaan
yang cukup.
Ditarik ke masa
kini, itsar menjadi sesuatu yang dirindukan. Individualistis sudah
merajalela. Jika ada praktik itsar justru kadang dicurigai, jangan-jangan ada
maunya.
Terjadilah apa
yang sering terjadi di masa kini. Konflik antarpersonal ataupun antarkelompok
mudah pecah. Di jalanan, pasar, dan tempat-tempat keramaian lainnya, konflik
mudah tersulut.
Di media sosial
dapat dikatakan konflik lebih mudah terbakar dan dibakar, dari konflik ringan
yang mudah selesai hingga konflik berat yang memakan waktu relatif lama. Akan
tetapi kedua jenis konflik ini sama, menghabiskan energi masyarakat. Sifatnya
kontraproduktif.
Mudahnya
konflik pecah diperparah dengan budaya tidak patuh hukum. Hal terpenting adalah
sifat egois, kepentingan diri sendiri dipenuhi. Tidak peduli hukum dilanggar
atau ada hati tersakiti.
Dengan demikian
kehidupan sosial laksana rimba. Satu sama lain saling memakan. Situasinya
sangat mengerikan.
Oleh karena itu
sangat urgen kiranya untuk itsar lebih ditumbuhsuburkan. Orang per orang
ataupun komunitas yang telah terbiasa menjaga itsar diharapkan memperluas
jangkauannya. Tidak perlu takut juga untuk mereka menyebarkan aktivitasnya
lewat media sosial. Logikanya jika orang-orang berani menyebarkan maksiat
secara masif, mengapa kebaikan tidak.
Di sini memang
diperlukan husnuzhan antarsesama muslim. Hindari tumbuhnya suuzhan.
Yakinlah bahwa itsar yang disebarluaskan lewat media sosial itu berawal
dari ikhlas, bukan riya’ atau sejenisnya.
Pemerintah dan
para tokoh kiranya menjadi teladan dalam itsar. Pengaruh mereka sangat
mengakar. Insya Allah, masyarakat akan mengikuti teladan mereka dengan
sebaik-baiknya.
Sebaliknya jika
itsar tidak dicontohkan oleh mereka, bahkan hedonisme yang dicontohkan,
habislah akhlak masyarakat. Akhirnya kegilaan menyatu dalam diri masyarakat.
Anehnya kebaikan dianggap gila. Dalam hal ini Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 2
menepisnya, “Berkat nikmat (tuntunan) Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali
bukan orang gila.”
Orang baik
selamanya tidak akan gila. Sebaliknya orang maksiat itu yang gila. Logika ini
perlu terus dijaga.
Wallah a’lam.


Post a Comment