Hakikat Keagungan Sosok Ayah
Di buku Recode Your Change DNA, Prof. Rhenald Kasali menyajikan satu tes untuk mengetahui potensi perubahan pada diri seseorang. Namanya OCEAN, akronim dari openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism. Dari akronimnya, bisa ditebak berapa dimensi pengukurannya. Betul, ada lima dimensi
Salah satu yang menarik, khususnya dalam perspektif keluarga, adalah sebuah pertanyaan di bagian neuroticism. Ditanyakan, "Anda sudah berjanji untuk membelikan anak Anda sesuatu tapi Anda hampir terlupa. Sementara hari mulai malam. (A) Anda akan tetap menunaikan janji Anda. (B) Anda meminta pengertian kepada anak Anda bahwa Anda akan membelikannya besok pagi."
Kedua jawaban benar. Akan tetapi, menurut Prof. Rhenald Kasali, jawaban B lebih benar. Karena saat janji telah terucap, ikhtiar butuh dimaksimalkan. Terkecuali jika ditemukan dampak buruk yang nyata apabila janji diteruskan. Minimal potensi kerusakannya diketahui sangat besar.
Lebih jauh, pemenuhan janji kepada anak (dan juga istri) semoga membangun rasa percaya kepada ayah. Bahwa sosok ayah memang bisa dijadikan tumpuan. Dia diyakini akan berusaha keras memenuhi harapan keluarga, seberat apapun harapan itu.
Dengan rasa percaya yang terpupuk pada diri anak dan istri, seorang lelaki lebih berpotensi untuk diikuti visinya. Bahkan ketika visinya tidak terucap. Bagaimanapun anak tidak betul-betul pasif. Mereka senantiasa mengamati ayahnya. Kemudian mereka membentuk citra sang ayah di benak mereka, termasuk visi ayah.
Di titik ini, marilah dua pertanyaan dijawab. Pertama, apakah ayah punya visi hidup? Kedua, apakah ayah telah berusaha keras merealisasi visi hidup itu dalam tindakan nyata, tidak sekedar kata?
Ketiadaan visi hidup pada seorang ayah merupakan satu masalah besar. Ibarat naik kapal, anak butuh 'jangkar jiwa'. Ini merupakan nilai yang dijadikan standar, juga sosok yang bisa diandalkan sebagai penopang.
Saat tiada jangkar jiwa, sangat dimungkinkan anak kehilangan arah. Mereka ikut arus. Dalam satu dua kasus, mereka dicap sebagai anak nakal bahkan pemberontak.
Selanjutnya seorang ayah tentu pernah tergoda sekali dua kali untuk berceramah seputar visi hidupnya. Akan tetapi, seharusnya diinsyafi bahwa anak menyerap berbagai masukan. Kata-kata hanya satu bagian. Sedangkan tindakan itu bagian lain yang jauh lebih penting. Karena tindakan memberikan pengesahan untuk kata-kata: Jujur atau dusta.
Oleh karena itu menjadi ayah butuh disiapkan, lahir dan batinnya. Begitu pula pikiran, jiwa, dan perilakunya. Kesemuanya akan bercerita, tidak hanya kepada istri dan anak namun juga pada semesta, yakni seberapa agung seorang lelaki dalam visi hidup serta istiqomahnya.
Wallah a'lam.


Post a Comment