Menjual Ayat di Atas Papan Nama Pondok Pesantren: Nasihat KH. M. Aniq Muhammadun untuk Pesantren yang Kehilangan Ruh
Hari ini, kita menyaksikan fenomena yang menggelisahkan, pesantren tumbuh bak jamur di musim hujan, namun sebagiannya tak lagi riuh oleh suara mengaji, melainkan sibuk menghitung proyeksi laba-rugi.
Pesantren yang sejatinya adalah benteng tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama) kini kerap bergeser fungsi layaknya korporasi berkedok institusi suci.
Di tengah riuhnya komersialisasi jubah agama ini, dawuh dari KH. M. Aniq Muhammadun (Rais Syuriyah PBNU & Pengasuh Ponpes Mamba’ul Ulum Pakis Pati) hadir bagai tamparan sekaligus kompas yang mengingatkan kita semua terutama para pendiri pondok tentang apa itu tanggungjawab sejati seorang kiai.
Pesantren bukan sekadar deretan gedung atau papan nama lembaga. Di dalamnya, ada denyut nadi perjuangan, sanad keilmuan, dan tirakat panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam sebuah untaian nasihat yang sarat makna, KH. M. Aniq Muhammadun mengingatkan kembali khittah dan tanggungjawab luhur yang dipikul oleh seorang kiai pesantren.
Menjadi pengasuh pesantren bukanlah tentang menyandang gelar, melainkan tentang menunaikan tujuh amanah langit dan bumi berikut ini:
1. Menjadi Jantung Keilmuan, Bukan Sekadar Pemilik Pesantren
Seorang kiai adalah poros ilmu. Tanggung jawab utamanya adalah ngaji duduk bersama para santri, membuka lembar demi lembar kitab kuning, lalu mengalirkan kedalaman tafsir, hadis, fiqh, hingga tasawuf langsung dari sanadnya.
Pesantren tidak boleh kehilangan ruhnya karena sang kiai sibuk di luar dan menyerahkan pengajaran sepenuhnya kepada orang lain. Kiai-kiai sepuh zaman dulu adalah teladan abadi mereka mewakafkan seluruh waktu dan raga mereka untuk menetap di pondok, menemani proses tumbuh kembang santri setiap hari.
2. Memahat Karakter Lewat Keteladan Nyata
Ilmu tidak akan pernah meresap hanya melalui untaian kata di atas mimbar. Santri adalah perekam yang ulung, mereka melihat, mengingat, dan meniru apa yang gurunya lakukan. Hal ini sesuai kaidah:
لسان الحال أفصح من لسان المقال
"Keteladanan nyata jauh lebih fasih dan menggetarkan jiwa ketimbang sejuta ucapan."
Kiai memimpin di garis depan bukan hanya dengan perintah, melainkan dengan langkah nyata: istikamah mengimami salat berjamaah, menghidupkan sunah dhuha dan tahajjud, serta membasahi bibir dengan dzikir demi mendekatkan diri kepada Allah.
3. Mengasuh dengan Ketegasan yang Penuh Kasih Sayang
Di tengah arus zaman yang kian riuh dan kompleks, pesantren hari ini ditantang untuk mengutamakan kualitas spiritual dan moral di atas sekadar kuantitas jumlah santri.
Pengawasan yang ketat dari pagi hingga malam bukanlah bentuk pengekangan, melainkan wujud kasih sayang agar santri tidak tersesat dalam kesia-siaan digital atau hiburan yang melalaikan.
Pesantren tidak perlu gentar kehilangan santri hanya karena menegakkan aturan yang disiplin. Sebab, tugas suci pesantren adalah menempa besi mentah menjadi pedang yang tajam, membangun mentalitas dan moralitas kader masa depan.
4. Menyuntikkan Virus Nasionalisme di Dalam Dada
Sejarah mencatat bahwa rahim pesantren adalah tempat lahirnya para pejuang bangsa. Kiai zaman dulu memiliki cara yang genius untuk menumbuhkan jiwa hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).
Larangan memakai celana, dasi, atau mengonsumsi produk penjajah pada masa itu adalah strategi jitu untuk membangun militansi dan perlawanan. Begitu besarnya peran pesantren, hingga para pengamat Barat pun mengakui, tanpa kehadiran kiai dan kaum sarungan di Jawa, jalannya kemerdekaan Indonesia mungkin akan jauh lebih sunyi.
Semangat heroik dari Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari dan Kiai Abbas Buntet adalah bukti nyata bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman.
5. Melahirkan Kembali Tokoh Pembangkit Bangsa
Pesantren hari ini harus berkaca pada kegemilangan masa lalu yang mampu melahirkan pemikir sekaligus penggerak umat sekelas KH. M. Hasyim Asy'ari hingga KH. MA. Sahal Mahfudh.
Pesantren tidak boleh lagi dipandang sebagai "tempat pelarian" atau ruang pembuangan bagi anak-anak yang bermasalah. Sebaliknya, pesantren harus menjadi tempat berkumpulnya mutiara-mutiara terbaik bangsa, anak-anak cerdas yang siap ditempa menjadi dinamisator dan inspirator kemajuan peradaban di segala lini kehidupan.
6. Membersihkan Niat dari Kilau Materi
Fondasi pesantren akan rapuh seketika jika ia didirikan di atas landasan materi atau sekadar mengejar kucuran anggaran negara.
Pesantren adalah lembaga tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama) sekaligus benteng kemasyarakatan. Ketika orientasi bergeser menjadi komersial, pesantren akan kehilangan keberkahannya dan menjauh dari tujuan mulianya untuk mencetak generasi pejuang agama dan bangsa.
7. Keikhlasan Kunci Menggetarkan Sanubari
Inilah puncak dari segala perjuangan seorang kiai. Mengapa dawuh para ulama zaman dulu begitu membekas dan mampu mengubah jalan hidup seseorang, meski disampaikan dengan retorika yang sederhana? Jawabannya ada pada keikhlasan yang menghunjam dalam di hati mereka.
Hari ini, banyak orasi yang memukau telinga namun hanya melintas bagai angin lalu. Tanpa keikhlasan, kata-kata tak akan mampu menembus pekatnya kalbu, apalagi merubah akhlak. Keikhlasan seorang kiailah yang memberi "ruh" pada setiap huruf yang diajarkan, yang pada akhirnya menuntun para santri menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa.
Ketika keikhlasan telah bergeser menjadi hitungan angka, saat itulah untaian ilmu kehilangan dayanya untuk menyentuh kalbu. Pesantren selamanya harus menjadi benteng moral, bukan ladang komersial.
Pada akhirnya, mari kita renungkan bersama: pesantren bukanlah sebuah perusahaan yang mengukur kesuksesan dari megahnya gedung atau tebalnya pundi-pundi rupiah di rekening yayasan. Pesantren adalah tanah suci tempat ruh-ruh suci disemai.
Jika hari ini papan nama pondok hanya dijadikan kedok untuk memburu materi, maka tunggulah saatnya lembaga itu runtuh kehilangan berkah. Dawuh KH. M. Aniq Muhammadun di atas adalah cermin besar bagi kita semua. Semoga para kiai, pengasuh, dan pendiri pesantren senantiasa dijaga hatinya oleh Allah agar tetap istikamah merawat keikhlasan karena dari ketulusan merekalah, masa depan agama, nusa, dan bangsa ini dipertaruhkan.
#kudus #pati #jawa #nasehat #katabijak #quotes #ulama #kyai #pesantren #santri #kajen #islam #pondok #kajianislam #fb


Post a Comment