Mengenali Pohon Pikiran
Pikiran itu ibarat pohon, memiliki bagian-bagian dengan fungsi yang hampir sama. Akar pohon, misalkan, berfungsi memberi nutrisi. Demikian juga akar pikiran berfungsi menyuplai prinsip-prinsip berpikir. Sehingga kemudian muncullah buah pikiran.
Sebagaimana buah dari pohon pada umumnya, buah pikiran juga diharapkan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Rasanya manis dan segar. Sedangkan aromanya memikat.
Bagaimana dengan buah pikiran? Harapannya buah pikiran mengantarkan maslahat bagi kehidupan manusia. Isinya mudah dipahami. Sosialisasinya menawan hati.
Agar kuat, pohon butuh akar yang sehat. Seperti itu pula pikiran, akarnya harus berawal dari kebenaran. Sehingga argumentasi yang lahir memiliki kekuatan. Buahnya bakal mewarnai kehidupan dengan keadilan dan ketentraman.
Sekarang marilah mengamati sekitaran akar. Ada satu kebutuhan penting akar, yakni air. Nah jika kebenaran itu semisal akar, maka apa yang berfungsi sebagai mata air bagi kebenaran? Jawabannya adalah worldview, cara memandang kehidupan.
Problemnya worldview beragam. Sebagian worldview memandang kehidupan manusia lebih banyak dari sisi materi, sedangkan sebagian lainnya lebih banyak dari sisi nonmateri. Sementara itu Islam menawarkan worldview yang utuh dan seimbang.
Sebenarnya kurang tepat memosisikan Islam sebagai worldview. Karena worldview lebih banyak lahir dari pemikiran manusia, sedangkan Islam dari Allah ta'ala. Ada ketidaksejajaran di situasi ini.
Akan tetapi karakteristik worldview ditemukan dalam Islam. Sehingga kemudian worldview dapat diderivasi dari Islam. Lahirlah istilah konseptual worldview of Islam.
Secara sederhana, worldview of Islam dapat dimengerti sebagai cara Islam memandang kehidupan dunia. Salah satu prinsipnya adalah keutuhan manusia. Bahwa ia terdiri dari jasad dan ruh. Sehingga kebutuhannya juga mencakup keduanya.
Dikarenakan ada dua kebutuhan mendasar pada diri manusia, maka kebahagiaan dan keadilan perlu memperhatikan dua kebutuhan tersebut. Mengabaikan salah satu dari dua kebutuhan tersebut akan melahirkan masalah dalam kehidupan manusia, cepat atau lambat. Bila dibiarkan, sangat mungkin masalahnya semakin berat.
Dari sini dapat dimengerti apabila Islam mengajarkan berbagi dan berkorban kepada sesama manusia. Secara ekonomis, ada yang berkurang bahkan hilang dari kepemilikan seseorang. Akan tetapi di dalam hati, ada yang bertumbuh dan bertambah.
Mengenali pohon pikiran memberikan banyak manfaat. Pertama, dialog pemikiran yang fokus lebih mungkin terjadi. Hal ini dikarenakan ada kejelasan, bagian pemikiran mana yang dijadikan bahan dialog. Apabila tidak begitu, maka dialog ngalor-ngidul. Satu pihak membahas akar pikiran, sementara lainnya buah pikiran, akhirnya tidak nyambung.
Kedua, masih berkaitan dengan manfaat nomor satu, kritik pemikiran berkemungkinan lebih akurat. Maka kemudian sifat kritik bersifat relevan. Misalkan kritik pada akar pemikiran, sifatnya harus radikal dan menyeluruh. Sementara kritik terhadap buah pikiran bisa ringan. Bahkan ruang toleransi bisa dihamparkan seluas-luasnya.
Ketiga, tipuan pemikiran lebih mudah dikenali. Dalam satu atau dua situasi, buah pikirannya bagus. Akan tetapi ketika ditelaah hingga ke akar pikiran, ditemukan worldview yang tidak benar. Contohnya seseorang yang berani berperang karena sudah frustasi dengan kehidupan.
Sebaliknya ada buah pikiran yang salah namun akar pikirannya benar. Dalam situasi ini, akarnya perlu diperkuat agar buahnya bagus. Contohnya seseorang yang berpikir untuk berzina atas nama cinta.
Keempat, motivasi yang diberikan semoga semakin efektif. Hal ini dikarenakan sudah diketahui bagian pikiran yang perlu dirawat lebih. Motivasi yang diberikan, atas izin Allah ta'ala, mampu menggerakkan.
Mudharat Tidak Mengenali Pohon Pikiran
Saat pohon pikiran tidak dikenali, seseorang berkecenderungan salah langkah dalam berkomunikasi. Maksud atau masalahnya dimana, arah komunikasinya kemana. Tidak efektif, seperti tinju yang diarahkan ke ruang terbuka, hanya mengenai angin.
Selain itu, penyampaian bicara juga cenderung tidak runtut. Akhirnya orang lain tidak memahami apa yang disampaikan. Miskomunikasi hanya masalah waktu.
Penguatan pada akal anak juga sulit dilakukan. Karena tahapan-tahapannya sporadis, acak. Ibarat mainan balok, jenis balok dan urutannya tidak diperhatikan, asal bangun saja. Akhirnya bangunan balok itu runtuh.
Tidak kenal pada pohon pikiran juga berpotensi pada masalah toleransi. Asal beda, pergaulan dibatasi. Padahal, sebagaimana telah disampaikan, tidak masalah jika beda di buah pikiran. Ruang toleransi perlu dibuka. Berbeda dengan beda pada akar pikiran, toleransi perlu dipersempit ruangnya.
Pesan Ilahiyah
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik? Akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit." (Terjemah Q.S. Ibrahim: 24)
Wallah a'lam.
.png)


Post a Comment