Membangun Kerjasama Setara dan Sinergis

Dalam kehidupan bermasyarakat, sering ditemui beragam tipe orang. Ada yang rajin pergi ke tempat ibadah, penampilannya juga relijius, banyak bicara agama, tapi pergaulan sosialnya kurang empatik. Ada juga yang rajin ke tempat ibadah, tapi penampilannya kasual, nyantai, dan suka membantu. Demikian seterusnya.


Harapannya tentu saja setiap orang rajin pergi ke tempat ibadah, berpenampilan relijius, empatik, dan suka membantu. Akan tetapi ternyata tidak begitu kenyataannya. Bagaimanapun manusia itu kompleks. Ada ruh, akal, dan jasad; kehidupan pribadi, profesional, dan sosial; kepentingan duniawi dan ukhrawi. Akhirnya harapan ideal itu mungkin tidak terwujud dengan mudah.

Di sisi lain keragaman justru memberikan peluang ta'awun (kerjasama) antarorang. Satu orang dengan kelebihan dan kekurangan tertentu dapat bekerjasama dengan orang lain yang bisa melengkapinya. Dengan demikian kebaikan kepada masyarakat bisa diciptakan sekaligus disebarkan.

Qadarullah tidak semua orang siap bekerjasama yang setara dan sinergis. Banyak sekali orang yang terjebak pada pemikiran eksklusif, tertutup. Kebaikan dan sukses hanya bisa dibangun dengan cara orang masing-masing.

Kerjasama itu ruwet karena mempertemukan banyak kepala dan kepentingan, demikian anggapan mereka yang kontra dengan kerjasama. Potensi wujudnya kebaikan kecil. Apalagi ada pihak yang curang saat kerja sama berjalan.

Sehubungan dengan itu kiranya perlu dibangun sikap mental dan keterampilan. Sikap mentalnya mengarah kepada keterbukaan. Sementara keterampilannya mengarah pada pengelolaan kerjasama yang baik.

Sejumlah keterampilan yang bisa disebutkan antara lain komunikasi, negosiasi, perumusan agenda bersama, penentuan jangka waktu, manajemen resiko, dan penyusunan akta kerjasama. Perihal ini memang tidak sederhana. Wajar kemudian, sebagaimana telah disampaikan, banyak pihak merasa kesusahan untuk bekerjasama.

Akan tetapi Islam memberi arahan agar umatnya bekerja sama dalam kebaikan dan takwa. Di sisi lain, kehidupan mutakhir saat ini mengantarkan banyak peluang kebaikan yang lebih mudah diwujudkan melalui kerjasama. Bekerja individual tidak lagi mampu menyediakan energi dan sumber dayanya yang mencukupi untuk bergerak cepat menyesuaikan dinamika zaman. 

Nah, maka marilah membangun keterbukaan, diawali dengan pengenalan terhadap struktur pemikiran manusia. Katakanlah ada sisi agama, concern, dan spesialisasi. Berikutnya perhatikan sisi mana yang sama antardua pihak. Sisi sama ini menjadi peluang kerja sama.

Misalkan kerjasama antarumat beragama. Ini mungkin saja terjadi. Karena tetap ada concern-nya, yakni lingkungan tempat tinggal yang aman dan nyaman. Di concern inilah kerja sama dibangun.


Apalagi kerjasama di dalam satu agama yang sama, peluangnya jauh lebih besar. Karena kesamaannya lebih banyak. Perbedaan madzhab pemikiran semoga tidak menghalangi keinginan untuk bekerjasama. 

Potensi konflik akan selalu ada. Semoga tidak menakut-nakuti setiap pihak yang akan bekerjasama. Justru karena potensi konflik selalu ada, maka terbuka peluang untuk mengantisipasi konflik terjadi.

Titik terpentingnya terletak pada keinginan untuk mewujudkan kebaikan dan manfaat. Apabila hal ini benar-benar tumbuh dalam diri seseorang atau satu pihak, maka apapun akan sungguh-sungguh dilakukan. Kerjasama salah satunya.


Bersama Berkembang

Dalam perjalanannya, sebuah entitas nirlaba atau bisnis berkemungkinan bertemu dua opsi: Berkembang atau berjalan seperti biasa.

Tentu hampir semua entitas ingin berkembang. Hanya saja caranya kadang sulit ditemukan. Apalagi sumber daya yang ada begitu terbatas.

Sehubungan dengan itu, kerjasama dengan pihak lain semoga jadi opsi terbaik. Sebagaimana telah disampaikan, kerjasama diupayakan setara dan sinergis. Semoga kolaborasi terjadi. Sehingga kerjasama bisa meluas sekaligus mendalam.

Selain sederet keterampilan yang telah disebutkan, kebutuhan keterampilan lainnya adalah koordinasi lintas sektor. Sehingga penyajian kepada pengguna barang/jasa (user) dapat memuaskan. Semoga pelanggan datang lagi dan lagi.

Peran pimpinan sangat penting terkait koordinasi lintas sektor. Penumbuhan mindset lintas sektor, pembentukan sistem, dan pendampingan tidak boleh diabaikan. Pimpinan perlu memastikan proses berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Wallah a'lam.
Powered by Blogger.
close