Menimbun Kekayaan Hati


Setiap melewati stasiun itu, sang lelaki kerap tersenyum sendiri. Baginya stasiun itu istimewa. Ada kenangan yang tidak dapat dilupakan, sekaligus ada kekayaan hati yang sengaja ditimbunnya di sana.

Bertahun-tahun sebelumnya ia pernah berhenti dan turun di stasiun itu untuk menjalankan sebuah tugas. Baginya tugas tersebut bukan main-main. Karena tugas tersebut diperolehnya setelah saringan ketat. Tercatat ratusan orang mengikutinya saringan itu, hanya puluhan orang yang dinyatakan layak. 

Ia merasa menemukan dirinya di momen tugas tersebut. Ia tidak hanya menyelesaikan target-target tugas dengan tuntas, tapi juga memperdalam dialog batinnya. Saat itulah ia menemukan kekayaan hatinya. Ia lalu memutuskan untuk menimbun kekayaan hatinya di stasiun itu. 

Setiap kali melewatinya, ia berharap dapat mendulang sedikit kekayaan hatinya. Atau apabila sedang sedih, ia bisa mengingat stasiun itu untuk sekedar menguatkan mentalnya. Bahwa semangat unggul masih tetap ada di lubuk hatinya. "Sedihlah sebentar, tidak apa-apa. Berikutnya bismillah kita akan berhasil lagi," demikian suara yang didengarnya.

Sang lelaki sadar, sekuat apapun dukungan komunitas, tetap dirinya yang harus menuntaskan semua masalah atau tugasnya. Komunitasnya hanya membantu. Keluarga atau teman pada akhirnya akan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Oleh karena itu sang lelaki berusaha membangun kekuatan jiwanya dengan berbagai cara. Sehingga semua masalah atau tugas berhasil diselesaikan. Hidupnya berjalan baik.

Menimbun kekayaan hati itu satu cara yang dipilihnya. Selain di stasiun itu, ia juga menimbun kekayaan hati di tempat lain. Makam kedua orangtuanya itu pilihannya. Bahkan tidak hanya menimbun kekayaan hati, ia juga mengikatkan simpul cinta terbaiknya di sana.

Baginya ada pertalian antara Allah ta'ala, kedua orangtuanya, serta dirinya yang tidak akan pernah bisa diputus. Dengan terus menguatkan pertalian itu, lewat doa-doa terbaiknya, semoga kekayaan hatinya terus bertambah. Sehingga masa depan akan dilaluinya dengan tenang.


Jebakan Kekayaan Hati

Apabila tidak hati-hati, kekayaan hati akan berubah menjadi nostalgia belaka. Hal ini sangat mungkin terjadi apabila kesadaran spiritual tidak hadir. Bahwa apa yang diperoleh di masa lalu merupakan karunia Allah ta'ala.

Dengan kesadaran ini semoga semangat berdoa dan berusaha tetap hidup. Apa yang telah dicapai di masa lalu akan diteruskan di masa depan. Allah ta'ala akan terus memberikan karunia-Nya dalam berbagai bentuk.

Bukan tidak mungkin, kekayaan hati ditimbun lagi di tempat baru. Cinta dan inspirasi senantiasa mengalir. Sehingga karya terus tercipta. 

Wallah a'lam.

Powered by Blogger.
close