Mengobati Luka Hati dengan Seksama
Dalam hidup sesekali hati terluka. Perih terasakan. Jiwa berontak, rasanya tak terima dengan situasi yang menimpa. Jangankan manusia, hampir-hampir Allah ta'ala pun digugat.
Situasi ini perlu didudukkan dengan jelas. Semoga semua pihak memiliki gambaran utuh. Respon yang diberikan akan relatif proporsional.
Pertama, setiap orang, siapa saja bisa terluka hatinya. Kapanpun dan dimanapun itu bisa terjadi. Bukan hanya antara orang baik dengan buruk, antarorang baik pun masih terbuka kemungkinan terjadinya luka hati.
Kedua, luka hati itu sakit. Perihal ini jangan sampai diabaikan. Setiap orang perlu menerimanya dengan lapang dada. Agar empati terus tumbuh.
Ketiga, kemampuan seseorang dalam merespon luka hati itu berbeda-beda. Sebagian orang sudah sangat terampil, sebagian orang lainnya sudah cukup baik, dan sebagian lainnya masih harus belajar. Dalam hal ini ada dua hal penting untuk dicatat. Bahwa setiap orang perlu mengenali kemampuannya mengelola luka hati, dan bahwa setiap orang perlu memberi ruang kepada orang lain untuk terus belajar merespon luka hati.
Dengan berpijak pada kedua catatan tersebut, setiap orang bisa menerima dirinya dan orang lain saat terluka hati. Tidak ada kecaman kepada diri sendiri. Kepada orang lain juga sama, tidak ada kecaman, tidak ada meremehkan.
Demikian pula selalu terbuka ruang untuk diri sendiri dan orang lain duduk sebagai pasien yang berkonsultasi kepada ahli. Ini tidak salah dan tidak hina. Sebagaimana sakit fisik, sakit hati bisa menimpa siapapun. Sedangkan tidak semua orang siap saat sakit hati datang sehingga bantuan diperlukan. Kepada siapa permintaan ditujukan, jika bukan kepada ahli?
Pada akhirnya, semoga hubungan dengan Allah ta'ala dan orang-orang baik senantiasa dikuatkan. Agar dukungan ruhani dan jasmani terus didapatkan. Sehingga ketahanan mental terbangun. Luka hati bisa mudah diatasi.
Wallah a'lam.


Post a Comment